Bukan Cuma Nvidia, Ini Saham-Saham Serupa yang Layak Diborong Menurut Ahli

Meski Nvidia unggul, diversifikasi lewat saham serupa dan ETF dinilai lebih aman untuk jangka panjang.

Diterbitkan 23 November 2025, 19:00 WIB
Share
Copy Link
Batalkan

Liputan6.com, Jakarta - Nvidia kembali menjadi pusat perhatian setelah laporan keuangannya melampaui ekspektasi analis. Perusahaan chip AI ini memang hampir selalu jadi sorotan pasar, apalagi sebagai bagian dari “Magnificent Seven”—deretan perusahaan teknologi raksasa seperti Apple, Amazon, Alphabet, Meta, Microsoft, dan Tesla yang mendominasi kinerja indeks S&P 500.

Namun bagi investor pemula, fokus hanya pada satu saham unggulan seperti Nvidia justru bisa membawa risiko tinggi.

Wakil Presiden Manajemen Portofolio Mercer Advisors David Krakauer, mengingatkan bahwa ketertarikan pada Nvidia sebaiknya diiringi strategi investasi yang lebih luas.

Menurut dia, jika Nvidia menarik karena fundamentalnya kuat, maka investor bisa mempertimbangkan deretan saham lain dengan karakteristik serupa. Dengan begitu, potensi keuntungan bisa tetap terjaga tanpa menanggung risiko berlebihan.

“Pertama-tama, tentukan dulu apa yang Anda percaya dapat mendorong imbal hasil jangka panjang—profitabilitas, valuasi, momentum, atau faktor lainnya,” ujar Krakauer dikutip dari Yahoo Finance, Minggu (23/11/2025).

“Kalau sudah jelas, mengapa membatasi diri hanya pada satu saham?” tambah dia.

Ia menilai langkah lebih bijak adalah mengombinasikan banyak saham serupa untuk menyeimbangkan peluang dan risiko.

 

Fokus Jangka Panjang

Krakauer menambahkan, portofolio dengan jumlah saham terlalu sedikit—misalnya hanya tujuh saham—akan memiliki volatilitas tinggi. Nilai portofolio bisa naik turun lebih tajam dibanding portofolio yang lebih terdiversifikasi.

Ia memberi contoh Tesla, yang memiliki risiko idiosinkratik karena keputusan Elon Musk yang sering tak terduga. Risiko seperti ini tidak memberi keuntungan tambahan bagi investor, terutama jika terlalu bergantung pada satu atau dua saham.

Menurut Krakauer, investor rata-rata sebaiknya fokus pada perencanaan keuangan jangka panjang, seperti persiapan dana pensiun atau tujuan finansial lain. Untuk mencapai itu, portofolio harus disusun sedemikian rupa sehingga peluang keberhasilannya meningkat.

Salah satu cara paling efektif adalah berinvestasi melalui ETF berbiaya rendah yang menawarkan diversifikasi luas dan bekerja secara pasif mengikuti indeks.

 

Beban Pajak Ringan

Selain membantu diversifikasi, ETF juga menawarkan keuntungan pajak. Krakauer menjelaskan bahwa ETF jarang membagikan capital gains seperti halnya reksa dana, sehingga beban pajak investor lebih ringan.

ETF juga dapat membantu menghindari aturan wash sale, yakni kondisi ketika investor tidak boleh membeli kembali sekuritas yang “substantially identical” dalam 30 hari setelah menjual rugi. Dengan ETF, investor dapat menjual satu produk dan menggantinya dengan ETF lain yang mengikuti indeks berbeda namun sejenis, sehingga tetap mendapatkan manfaat kerugian pajak.

Krakauer menegaskan bahwa tidak ada investor yang bisa secara pasti memprediksi pergerakan satu saham dalam beberapa bulan mendatang. Karena itu, diversifikasi menjadi kunci untuk mempertahankan stabilitas portofolio sekaligus mengurangi risiko lonjakan harga yang ekstrem.