Sukses

Gelar RUPSLB, BRI Agro Kantongi Restu Rights Issue

Liputan6.com, Jakarta - Pemegang saham PT Bank Rakyat Indonesia Agroniaga Tbk (AGRO) atau BRI Agro merestui rencana penambahan modal dengan hak memesan efek terlebih dahulu (HMETD) atau rights issue. Namun demikian, Direktur Keuangan dan Operasional Arif Wicaksono belum bisa menjabarkan detil dari aksi tersebut.

"Yang jelas, perseroan akan melepas sebanyak-banyaknya 2,15 miliar lembar saham baru,” ujar dia dalam paparan publik Perseroan, Senin (27/9/2021).

PT Bank Rakyat Indonesia Agroniaga Tbk atau BRI Agro akan menerbitkan sebanyak-banyaknya 2.150.000.000 atau 2,15 miliar saham dengan nilai nominal Rp 100. Perseroan akan memakai dana hasil rights issue untuk penguatan modal terutama sebagai modal kerja perseroan.

Hal ini dalam rangka penyaluran dana berbasis digital. Selain persetujuan right issue, RUPSLB juga menyetujui perubahan nama Perseroan menjadi PT Bank Raya Indonesia Tbk dengan nama komersial Bank Raya. Identitas baru ini efektif setelah mendapatkan persetujuan Menteri Hukum dan HAM RI.

"Kami telah mendapatkan persetujuan dari pemegang saham untuk mengubah nama baru kita menjadi Bank Raya," ungkap Direktur Utama BRI Agro, Kaspar Situmorang.

Kasper menambahkan, hal ini seiring dengan komitmen Perseroan untuk mengubah citra BRI Agro yang sebelumnya lengkap dengan agrikultur atau bank sawit, hingga sepenuhnya berorientasi menjadi bank digital. Dia menuturkan, pandemi COVID-19 menjadi sebuah katalis bagi industri perbankan untuk melakukan transformasi digital. 

 

 

* Untuk mengetahui kebenaran informasi yang beredar, silakan WhatsApp ke nomor 0811 9787 670 hanya dengan ketik kata kunci yang diinginkan.

Pada penutupan perdagangan Senin, 27 September 2021, saham AGRO turun 1,9 persen ke posisi Rp 2.520 per saham. Saham AGRO dibuka stagnan di posisi Rp 2.570 per saham.

Saham AGRO berada di level tertinggi Rp 2.650 dan terendah Rp 2.520 per saham. Total frekuensi perdagangan 20.493 kali dengan volume perdagangan 1.149.370. Nilai transaksi Rp 297,6 miliar.