Sukses

Keren, IHSG Berbalik Arah Menguat 1,5 Persen pada Sesi I

Liputan6.com, Jakarta - Bak roller coaster, laju Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) akhirnya kembali bangkit ke zona hijau pada penutupan perdagangan saham sesi pertama, Senin (1/2/2021).

Mengutip data RTI, IHSG melonjak 88,07 poin atau 1,5 persen ke posisi 5.950,42. Indeks saham LQ45 melonjak 1,77 persen ke posisi 928,14. Seluruh indeks saham acuan kompak menguat.

Sebanyak 257 saham menghijau sehingga mengangkat IHSG. Sedangkan 218 saham melemah sehingga menahan penguatan IHSG. 139 saham diam di tempat. Pada awal sesi perdagangan, IHSG dibuka melemah ke posisi 5.856,77. Pada sesi pertama, IHSG sempat berada di level tertinggi 5.956,40 dan terendah 5.735,46.

Total frekuensi perdagangan saham 1.090.096 kali. Volume perdagangan 13 miliar saham. Nilai transaksi harian saham Rp 13 triliun. Investor asing jual saham Rp 245,74 miliar di seluruh pasar. Posisi dolar Amerika Serikat terhadap rupiah di kisaran 14.044.

10 sektor saham kompak menghijau kecuali sektor saham aneka industri merosot 0,84 persen. Sektor saham tambang naik 2,82 persen, dan catatkan penguatan terbesar. Disusul sektor saham industri dasar naik 2,59 persen dan sektor saham infrastruktur menguat 2,04 persen.

 

2 dari 6 halaman

Gerak Saham

Saham-saham cetak lonjakan tajam atau top gainers antara lain saham BANK sebesar 34,95 persen ke posisi Rp 139 per saham, saham UFOE menguat 34,65 persen ke posisi Rp 136 per saham, dan saham CSMI mendaki 24,12 persen ke posisi Rp 1.235 per saham.

Sedangkan saham-saham yang tertekan antara lain saham SOFA merosot 8,16 persen ke posisi Rp 90 per saham saham APEX tergelincir 6,99 persen ke posisi Rp 665 per saham, dan saham GGRP susut 6,99 persen ke posisi Rp 346 per saham.

3 dari 6 halaman

Aksi Investor Asing

Investor asing juga melakukan aksi beli di sejumlah saham antara lain saham TLKM sebesar Rp 44 miliar, saham INCO sebesar Rp 40,1 miliar, saham ARTO sebesar Rp 12,7 miliar, saham INTP sebesar Rp 10,7 miliar, dan saham PTPP sebesar Rp 10,4 miliar.

Sedangkan saham-saham yang dijual investor asing antara lain saham BMRI sebesar Rp 176,5 miliar, saham BBRI sebesar Rp 75 miliar, saham BBCA sebesar Rp 73,4 miliar, saham ASII sebesar Rp 47,8 miliar, dan saham BBNI sebesar Rp 28,9 miliar.

4 dari 6 halaman

Bursa Saham Asia

Bursa saham Asia cenderung menguat. Indeks saham Hong Kong Hang Seng naik 1,91 persen, indeks saham Korea Selatan Kospi menguat 1,81 persen, indeks saham Jepang Nikkei menanjak 1,39 persen, indeks saham Thailand naik 0,44 persen.

Lalu indeks saham Shanghai menguat 0,10 persen dan indeks saham Taiwan menanjak 1,53 persen. Sementara itu, indeks saham Singapura susut 0,05 persen.

5 dari 6 halaman

Rilis Data Ekonomi

Penguatan IHSG juga terjadi seiring pengumuman Purchasing manager’s Index (PMI) manufaktur Indonesia dari Markit periode Januari 2021 tercatat naik 52,2 lebih tinggi dari periode bulan sebelumnya atau Desember 2020 sebesar 51,3.

Selain itu juga keluar rilis data inflasi Indonesia. Kepala Badan Pusat Statistik (BPS) Suhariyanto mengatakan, pada Januari 2021 terjadi inflasi sebesar 0,26 persen. Dengan nilai inflasi sebesar 0,26 persen pada Januari 2021 ini, maka tingkat inflasi tahun ke tahun dari Januari 2021 ke Januari 2020 adalah sebesar 1,55 persen.

"Pada Januari 2021 terjadi inflasi sebesar 0,26 persen. Dengan nilai inflasi sebesar 0,26 persen pada Januari 2021 ini maka tingkat infasi tahun ke tahun dari Januari ke Januari 2020 adalah sebesar 1,55 persen," ujarnya, Jakarta, Senin, 1 Februari 2021.

Dari 90 kota yang dipantau BPS, 75 kota mengalami inflasi sementara 15 kota lainnya mengalami deflasi. Adapun inflasi tertinggi terjadi di Mamuju, Sulawesi Barat.

"Kita mengetahui bahwa saudara saudara kita yang berada di Sulawesi Barat sedang mengalami bencana gempa. Yang membuat inflasi Mamuju 1,43 persen karena adanya kenaikan harga berbagai jenis ikan dan cabai rawit," kata Suhariyanto.

Sebaliknya, BPS juga mencatat terjadi deflasi tertinggi di Bau Bau karena adanya penurunan harga tiket dan penurunan harga ikan. Selain itu, pergerakan inflasi juga dipengaruhi oleh pandemi Virus Corona yang belum juga berakhir.

"Jadi kalau kita lihat pergerakan inflasi, dampak Covid belum reda masih membayangi perekonomian diberbagai negara termasuk di Indonesia. Kita tahu bahwa selama pandemi mobilitas berkurang, roda ekonomi melambat berpengaruh ke pendapatan dan lemahnya permintaan," tandasnya.

6 dari 6 halaman

Saksikan Video Pilihan di Bawah Ini