Jelang Putusan MSCI, Indonesia Bakal Tetap di Emerging Market

Praktisi pasar modal Hans Kwee menilai, melihat hasil tinjauan MSCI dalam MSCI Accesibility, Indonesia unggul dari India, Korea, Filipina, Taiwan, Thailand.

Diterbitkan 23 Juni 2026, 08:45 WIB
Share
Copy Link
Batalkan

Liputan6.com, Jakarta - Praktisi pasar modal sekaligus pendiri PasarDana Hans Kwee menilai Indonesia berpeluang bertahan di kategori Emerging Market (EM). Hal ini juga ditunjukkan dari hasil MSCI Accessibility Review pada 18 Juni 2026.

Hans menuturkan, MSCI memakai 18 kriteria dan posisi Indonesia terlihat masih sangat baik. MSCI memakai tiga simbol “++” (double plus, yang merupakan kriteria tertinggi), menunjukkan sudah sesuai dengan best practice global dan tidak ada issue. Simbol “+” (single plus) yang diharapkan terus ada improvement, sedangkan pada kriteria “_” (negatif), menunjukkan adanya concern untuk ada improvement.

Hans menuturkan, bila dibandingkan beberapa negara berkembang (emerging Market) Indonesia punya 10 kriteria bernilai “++”, 6 kriteria “+” dan hanya 2 kriteria “-“. Indonesia hanya kalah dari Hong Kong 14 kriteria bernilai “++”, 3 kriteria “+” dan 1 kriteria “-“ serta Malaysia 12 kriteria bernilai “++”, 6 kriteria “+” dan tidak ada kriteria “-“. Indonesia lebih unggul dari India, Korea, Pilipina, Taiwan dan Thailand.

Bila dibandingkan Vietnam yang berpotensi naik ke EM Indonesia jauh lebih unggul, di mana Vietnam hanya punya 6 kriteria bernilai “++”, 4 kriteria “+” dan 8 kriteria “-“.

“Dibandingkan 2025 pada review 2026, hampir semua kriteria Indonesia bertahan kecuali Informasi flow yang turun dari “+” ke “-“. Sedangkan yang lain tetap sama,” ujar Hans.

Terkait aspek Information Flow, Hans menuturkan, sebenarnya sudah di jawab OJK dan SRO lewat agenda reformasi pasar modal.

“Saya melihat kriteria ini akan akan naik kembali pada review berikutnya,” ujar dia dalam catatannya, ditulis Selasa, (23/6/2026).

Indonesia memperoleh nilai "++" pada sepuluh kriteria kunci berdasarkan tabel Assessment Summary, yakni Investor Qualification Requirement, Foreign Ownership Limits (FOL) Level, Foreign Room level, Capital Flow Restrictions level, Investor Registration & Account Set-up, Market Regulations, Custody, Registry/Depository, Trading, Availability of Investment Instruments.

“Pada indikator Foreign Ownership Limits dan Foreign Room, Indonesia meraih nilai "++" yang lebih baik dibandingkan Hong Kong (China) dan India yang hanya memperoleh "-",” kata Hans.

Hans menuturkan, MSCI menggunakan tiga hal dalam menentukan klasifikasi pasar: perkembangan ekonomi, ukuran & likuiditas, serta aksesibilitas pasar.

 

 

Indonesia Bakal Bertahan di Emerging Market

Indonesia saat ini memiliki 11 saham yang memenuhi syarat kualifikasi ukuran dan likuiditas. "Ini melampaui ambang minimum satu saham yang dipersyaratkan, sehingga Indonesia kami perkirakan akan dipertahankan status nya di Emerging Market,” kata dia.

Hans menilai, penurunan satu kriteria aksesibilitas dalam hal ini Information flow tidak dapat memicu reklasifikasi posisi Indonesia dari EM ke Frontier market (FM).

“Melihat hal ini Indonesia tidak mungkin turun ke Frontier Market pada MSCI Market Classification Review 23 Juni. Harusnya interim frezz MSCI terhadap Indonesia juga dapat dibuka pada 23 Juni 2026 ini. Peluang terbaik kita adalah Indonesia bertahan di EM diikuti pencabutan interim freeze,” kata dia.

Namun, Hans menuturkan, ada peluang juga Indonesia tetap di EM tetapi Interim frezz Indonesia belum dicabut.

"Tetapi perlu kita pahami saat ini interim freeze tidak membuat saham Indonesia tertekan turun lagi, karena saham-saham yang seharusnya keluar dari indeks MSCI sudah terjadi,” kata dia.

Ia menuturkan, Interim freeze hanya akan menunda potensi saham-saham Indonesia untuk masuk ke dalam indeks MSCI pada review Agustus.

 

 

Pelaku Pasar Cermati Kejelasan Status Pembekuan

Sementara itu, Senior Market Analyst Mirae Asset Sekuritas Indonesia, Nafan Aji Gusta menuturkan, pengumuman MSCI Annual Market Classification Review pada 24 Juni 2026 waktu Indonesia akan menjadi sentimen utama yang sangat krusial bagi pergerakan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) pekan ini.

Nafan menuturkan, efeknya akan sangat signifikan, mengingat pelaku pasar sedang mencermati kejelasan status freeze (pembekuan) pada indeks Indonesia.

Berdasarkan rilis Global Market Accessibility Review kualitatif dari MSCI pada 19 Juni 2026, terdapat penurunan peringkat pada kriteria Information Flow (dari '+' menjadi '-') karena isu struktur kepemilikan saham (free float) dan indikasi coordinated trading behavior.

"Bila MSCI mempertahankan status Emerging Market namun tetap melanjutkan status freeze tanpa adanya sinyal downgrade ke Frontier Market, maka respons pasar akan cenderung netral-terkonsolidasi atau priced-in, karena kekhawatiran worst-case scenario tidak terjadi,” ujar dia.

Namun, apabila terdapat kejelasan positif dari MSCI mengenai peluang pencabutan freeze pada masa mendatang seiring komitmen transparansi data emiten, Nafan menilai, hal ini dapat memicu pembalikan capital inflow.