Sukses

Bursa Saham Asia Menghijau Setelah Pelantikan Presiden AS Joe Biden

Liputan6.com, Singapura - Bursa saham Asia Pasifik menguat pada perdagangan saham Kamis pagi setelah wall street melonjak usai pelantikan Presiden Amerika Serikat (AS) Joe Biden.

Di Jepang, indeks saham Nikkei 225 naik 0,8 persen, sementara itu, indeks saham Topix menguat 0,84 persen. Indeks saham Korea Selatan menguat 0,53 persen.

Sementara itu, bank sentral Jepang juga akan mengumumkan kebijakan moneter pada Kamis ini. Demikian dilansir dari CNBC, Kamis, (21/1/2021).

Di Australia, indeks saham ASX 200 menguat 0,55 persen. Tingkat pengangguran Australia diperkirakan mencapai 6,6 persen pada Desember. Biro Statistik akan mengumumkan data ekonomi tersebut pada Kamis pekan ini.  Indeks saham MSCI Asia Pasifik di luar Jepang menguat 0,22 persen.

Di Wall Street, indeks saham Dow Jones naik 257,86 poin ke posisi 31.188,38. Indeks saham S&P 500 juga menguat 1,4 persen ke posisi 3.851,85. Indeks saham Nasdaq melejit hampir dua persen juga akhiri perdagangan ke posisi 13.457,25.

Indeks dolar AS menguat ke posisi 90,47. Sementara itu, yen diperdagangkan di kisaran 103,62 per dolar AS.

 

 

2 dari 3 halaman

Wall Street Menguat Sambut Joe Biden Jadi Presiden AS

Bursa saham Amerika Serikat (AS) atau wall street mencetak rekor ketika Joe Biden dilantik menjadi Presiden AS.   Joe Biden resmi menjadi Presiden AS memicu harapan untuk paket stimulus lain dan distribusi vaksin yang lebih lancar ke depan.

Sentimen lainnya yang pengaruhi wall street yaitu kinerja kuartalan perusahaan termasuk dari Netflix yang melonjak 16,9 persen.

Pada penutupan perdagangan saham Rabu, 20 Januari 2021 waktu setempat, indeks saham Dow Jones melonjak 257,86 poin atau 0,8 persen ke posisi 31.188,38. Indeks saham S&P 500 naik 1,4 persen ke posisi 3.851,85. Kenaikan indeks saham S&P 500 dipimpin oleh sektor jasa komunikasi. Indeks saham Nasdaq melonjak hampir dua persen ke posisi 13.457,25, dan mencatat rekor baru.

Selama perdagangan, tiga indeks saham acuan tersebut menyentuh level tertinggi intraday.

Sementara itu, saham Netflix melonjak setelah perusahaan melaporkan pertumbuhan pelanggan yang kuat dan menyatakan sedang mempertimbangkan pembelian kembali saham.  Netflix mengalahkan perkiraan untuk penambahan pelanggan yang berbayar secara global melaporkan terdapat 8,5 juta pelanggan. Angka ini di atas perkiraan analis 6,47 juta analis. Perusahaan juga menyatakan akan mencapai break event point atau titik impas berdasarkan arus kas pada 2021.

Joe Biden dilantik sebagai Presiden ke-46 AS. Ia menggantikan Presiden Donald Trump. Investor tetap berharap rencana bantuan COVID-19 sebesar USD 1,9 triliun dari Joe Biden akan mendukung pemulihan ekonomi dan meningkatkan pertumbuhan pendapatan.

Janet Yellen, calon yang ditunjuk Biden untuk Menteri Keuangan mendukung bantuan lebih tinggi dan mendesak anggota parlemen untuk “bertindak besar”. Proposol stimulus akan itu akan menyalurkan USD 1.400 kepada warga AS dan tambahan tunjangan pengganguran serta bantuan pemerintah negara bagian dan lokal.

Biden juga mengumumkan rencana besar-besaran untuk memerangi pandemi COVID-19 yang mencakup kampanye vaksin nasional untuk mempercepat peluncuran.

Biden juga berencana teken lebih dari selusin perintah eksekutif untuk membatalkan banyak perintah yang dikeluarkan oleh Trump termasuk apa yang disebut larangan perjalanan dan pembangunan tembok di sepanjang perbatasan AS-Meksiko.

“Saya yakin kami akan mampu membalik halaman. Saya memperkirakan pasar akan terus bergerak dengan ekspektasi pemulihan yang kuat pada 2021 ketika vaksin didistribusikan secara luas,” ujar Chief Global Market Strategist Invesco, Kristina Hooper seperti dilansir dari CNBC, Kamis, (21/1/2021).

Selain itu, korporasi terus menunjukkan hasil kuartalan yang solid karena pendapatan pulih dari pandemic COVID-19. Morgan Stanley membukukan pendapatan yang melampaui harapan pada hasil perdagangan dan manajemen yang solid. Saham Morgan Stanley ditutup melemah 0,2 persen.

Procter and Gamble menaikkan perkiraan fiskal 2021 dan menyatakan pendapatan kuartal lalu melonjak seiring permintaan yang lebih tinggi untuk produk pembersih saat pandemi COVID-19. Namun, saham P&G turun 1,3 persen.

“Kami memulai awal musim pendapatan yang cukup solid. Yang lebih menggembirakan adalah panduan positif yang diproyeksikan oleh perusahaan. Jadi, meski ada beberapa rintangan yang tak terhindarkan di jalan, pelaku pasar dan perusahaan mulai melihat cahaya di terowongan,” kata Direktur E-Trade Financial, Chris Larkin.

3 dari 3 halaman

Saksikan Video Pilihan di Bawah Ini