Sukses

IHSG Berpeluang Naik, Cermati 6 Saham Pilihan Ini

Liputan6.com, Jakarta - Gerak Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) berpeluang menguat pada perdagangan saham Kamis pekan ini.

Analis PT Asjaya Indosurya Securities William Suryawijaya menuturkan, IHSG sedang berada dalam konsolidasi wajar dengan potensi penguatan. IHSG akan tergantung dari rilis data ekonomi yaitu suku bunga acuan Bank Indonesia (BI).

"IHSG akan bergerak di kisaran 5.960-6.123 pada Kamis pekan ini," ujar dia dalam ulasannya, Kamis (16/11/2017).

Sementara itu, Analis PT Reliance Securities Lanjar Nafi menuturkan, IHSG akan mecoba bergerak berbalik arah dalam jangka pendek ke posisi 5.950-6.000. IHSG akan menguji level support 5.950 dan 5.936 jika kembali tertekan tidak mampu berbalik di atas moving average 20 harian.

"Secara teknikal IHSG bergerak mematahkan level support dan menjauh di bawah level moving average 20 harian. Momentum tekanan sangat berasa dalam jangka pendek, dan tertekan hingga ke zona jenuh jual," jelas dia.

Pada penutupan perdagangan saham Rabu kemarin, IHSG turun 15,98 poin ke posisi 5.972. Sektor saham pertambangan dan aneka industri memimpin pelemahan indeks saham.

Lanjar menuturkan, produsen batu bara dalam negeri melemah usai surat Kementerian ESDM instruksikan PLN untuk mengkaji power purchase agreement di Jawa. "Sehingga saham produsen pemasok batu bara PLN dan pemilik powerplant terkena dampaknya," kata dia.

Selain itu, data neraca perdagangan menurut Lanjar di bawah harapan pelaku pasar. Investor asing pun melakukan aksi jual Rp 956 miliar.

Untuk pilihan saham, Lanjar memilih saham PT Bank Central Asia Tbk (BBCA), PT Adhi Karya Tbk (ADHI), dan PT Indofood CBP Sukses Makmur Tbk (ICBP).

Sedangkan William memilih saham PT Kalbe Farma Tbk (KLBF), PT Telekomunikasi Indonesia Tbk (TLKM), PT Bank Negara Indonesia Tbk (BBNI).

Saksikan Video Pilihan di Bawah Ini:

2 dari 2 halaman

Aksi Jual Investor Bikin IHSG Tertekan

Sebelumnya laju Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) belum mampu bertahan di zona hijau pada perdagangan saham Rabu pekan ini. Investor asing masih melakukan aksi jual.

Pada penutupan perdagangan saham, Rabu 15 November 2017, IHSG turun 15,98 poin atau 0,27 persen ke posisi 5.972,31. Indeks saham LQ45 melemah 0,18 persen ke posisi 991,40. Sebagian besar indeks saham acuan tertekan.

Ada sebanyak 194 saham melemah sehingga menekan IHSG. Sedangkan 129 saham menguat dan 131 saham diam di tempat. Pada Rabu pekan ini, IHSG sempat berada di level tertinggi 6.012,65 dan terendah 5.972,31. Total frekuensi perdagangan saham sekitar 343.110 kali dengan volume perdagangan 13,7 miliar saham. Nilai transaksi harian Rp 8,1 triliun.

Investor asing melakukan aksi jual Rp 976,32 miliar di seluruh pasar. Posisi dolar Amerika Serikat berada di kisaran Rp 13.524. Secara sektoral, sebagian besar sektor saham tertekan kecuali sektor saham infrastruktur naik 0,18 persen dan sektor saham keuangan menanjak 0,25 persen.

Sektor saham tambang turun 1,79 persen, dan bukukan penurunan terbesar. Disusul sektor saham aneka industri melemah 1,28 persen dan sektor saham perdagangan merosot 0,86 persen.

Saham-saham yang catatkan top gainers antara lain saham SMDR naik 9,15 persen ke posisi Rp 358 per saham, saham RIMO melonjak 8,33 persen ke posisi Rp 208 per saham, dan saham IIKP melonjak 7,96 persen ke posisi Rp 244 per saham.

Sedangkan saham-saham yang tertekan antara lain saham PTBA turun 4,87 persen ke posisi Rp 11.225 per saham, saham ADRO tergelincir 4,41 persen ke posisi Rp 1.735 per saham, dan saham BUMI merosot 3,57 persen ke posisi RP 270 per saham.

Bursa Asia kompak tertekan. Indeks saham Hong Kong Hang Seng turun 1,03 persen, indkes saham Korea Selatan Kospi susut 0,33 persen, indeks saham Jepang Nikkei turun 1,57 persen, dan bukukan penurunan terbesar. Disusul indeks saham Shanghai melemah 0,79 persen, indeks saham Singapura turun 0,87 persen dan indeks saham Taiwan merosot 0,53 persen.

"Saat ini sepi sentimen positif. Dari pergerakan bursa Asia cenderung melemah dan rupuah volatine, tidak banyak berikan sentimen ke IHSG. Belum ada sentimen yang dukung kenaikan IHSG," ujar Analis PT Binaartha Sekuritas Reza Priyambada saat dihubungi Liputan6.com.

Ia menuturkan, rilis neraca perdagangan tercatat surplus US$ 900 juta belum berdampak signifikan ke IHSG.