Repotnya Emak-Emak di Makassar, BBM Langka Kudu Dampingi Anak Sekolah Online

Di Kota Makassar, Dinas Pendidikan menerapkan pembelajaran daring bagi jenjang TK, SD, dan SMP mulai 12 hingga 19 September 2026.

OlehFauzan
Diterbitkan 15 September 2026, 13:47 WIB
Share
Copy Link
Batalkan

Liputan6.com, Sulsel- Antrean panjang kendaraan di sejumlah SPBU di Sulawesi Selatan ternyata tak hanya menguras waktu dan tenaga warga. Kelangkaan Bahan Bakar Minyak (BBM) juga membuat aktivitas pendidikan ikut terdampak karena ruang kelas beralih ke rumah setelah sejumlah sekolah menerapkan pembelajaran jarak jauh (PJJ).

Di Kota Makassar, Dinas Pendidikan menerapkan pembelajaran daring bagi jenjang TK, SD, dan SMP mulai 12 hingga 19 September 2026. Kebijakan itu diambil sebagai langkah sementara karena keterbatasan BBM dinilai berpotensi mengganggu mobilitas murid, guru, tenaga kependidikan, serta orang tua atau wali murid.

Kebijakan serupa juga diterapkan Pemerintah Provinsi Sulawesi Selatan melalui Dinas Pendidikan untuk jenjang SMA, SMK, dan SLB negeri maupun swasta se-Sulsel. Berdasarkan surat edaran yang ditetapkan 11 September 2026, pembelajaran daring berlangsung 14-18 September 2026 sebagai langkah antisipatif selama kondisi kelangkaan BBM masih terjadi.

Dalam surat tersebut, sekolah diminta memastikan pembelajaran daring tetap efektif dan bermakna, disertai pemberian tugas serta pemantauan capaian belajar murid. Guru dan tenaga kependidikan juga tetap ditugaskan secara piket atau terbatas untuk pelayanan administrasi dan koordinasi program.

Namun, bagi orang tua, perpindahan ruang belajar dari sekolah ke rumah bukan perkara sederhana. Di balik tujuan mengurangi mobilitas selama BBM sulit diperoleh, muncul persoalan baru ketika orang tua harus mendampingi anak belajar di tengah kesibukan pekerjaan.

Salah seorang orang tua, Lina Herlina, mengaku pembelajaran dari rumah membuat orang tua harus memberikan perhatian lebih besar kepada anak. Kondisi itu menjadi tantangan tersendiri bagi mereka yang tetap harus bekerja dan menjalankan aktivitas sehari-hari.

"Kalau anak sekolah dari rumah memang kami sebagai orang tua jadi harus lebih banyak mendampingi. Apalagi kalau orang tua juga bekerja, waktunya harus dibagi antara pekerjaan dan memastikan anak tetap mengikuti pembelajaran," kata Lina kepada Liputan6.com, Selasa (15/9/2026).

Menurut Lina, ketika anak bersekolah secara tatap muka, orang tua memiliki ruang waktu lebih leluasa untuk bekerja atau menjalankan aktivitas lainnya. Situasinya berbeda ketika pembelajaran dilakukan dari rumah. Orang tua harus ikut memastikan anak mengikuti pelajaran dan menyelesaikan tugas dengan baik.

"Biasanya ketika anak ke sekolah, kami bisa fokus bekerja atau melakukan aktivitas lain. Tapi selama daring, perhatian harus terbagi karena anak tetap membutuhkan pendampingan, terutama untuk memastikan tugas dan pembelajarannya selesai," ujarnya.

Meski memahami kebijakan tersebut berkaitan dengan kondisi BBM, Lina berharap situasi segera kembali normal. Sebab, pembelajaran daring tidak hanya mengubah pola belajar anak, tetapi juga rutinitas keluarga di rumah.

"Di satu sisi kami memahami kondisi BBM yang memang sedang sulit, tetapi di sisi lain sekolah daring juga punya tantangan sendiri bagi orang tua. Jadi kami berharap kondisi segera normal supaya anak-anak bisa kembali belajar seperti biasa," tuturnya.

Hal serupa dirasakan Wiwi Amaluddin, salah seorang ibu yang sehari-hari bekerja sekaligus harus mendampingi anaknya yang masih duduk di kelas 1 SD. Ia mengaku pembelajaran daring membuat aktivitas pekerjaannya ikut terganggu.

"Dampak sekolah daring sebenarnya bagi saya pribadi yang bekerja itu sangat menyulitkan. Kebetulan anak saya sekolah di swasta dengan mata pelajaran yang sangat banyak, akhirnya membuat kami ibu-ibu yang bekerja itu terbengkalai pekerjaannya karena harus mendampingi, berhubung anak-anak ini baru kelas 1 SD," kata Wiwi.

Menurutnya, persoalan bukan hanya soal membagi waktu antara pekerjaan dan anak. Pembelajaran dari rumah juga membuat anaknya lebih mudah kehilangan konsentrasi dan merasa bosan karena tidak berada dalam suasana belajar seperti di sekolah.

"Kalau saya, baiknya tidak ada sih yang baik sebenarnya kalau online karena anak-anak masuk pelajarannya. Jadi lebih banyak bermain, tiduran. Dia selalu merasa bosan," ujarnya.

Wiwi mengatakan anaknya bahkan kerap menanyakan kepada guru kapan pembelajaran selesai. Kondisi itu membuat anak justru lebih bersemangat ketika kembali mengikuti pembelajaran secara tatap muka.

"Kalau anakku pribadi, dia bosan, selalu bilang ke gurunya, ‘Kapan selesai, kapan selesai?’ Nah, itu dia lebih senang ketika sekolah offline," tuturnya.

Pihak Sekolah Berharap Kelangkaan BBM Segera Normal

Persoalan yang dirasakan orang tua tersebut juga terlihat dari sisi sekolah. Kepala SMP Negeri 6 Makassar, Andi Mindrawati, mengatakan pihaknya mulai menerapkan pembelajaran jarak jauh pada Senin, 14 September 2026 sebagai tindak lanjut surat edaran pemerintah.

"Menindaklanjuti surat edaran dari pemerintah provinsi dan Kota Makassar melalui Dinas Pendidikan, terhitung mulai tanggal 12 sampai 19 September 2026 diadakan pembelajaran jarak jauh," kata Mindrawati saat diwawancarai terpisah.

Untuk SMP Negeri 6 Makassar, pelaksanaan PJJ dilakukan dengan memastikan kegiatan belajar tetap berjalan meski siswa berada di rumah. Pihak sekolah juga tetap melakukan pemantauan terhadap proses pembelajaran yang berlangsung dari jarak jauh.

"Untuk SMP 6 sendiri, kami mulainya di hari Senin, hari ini tanggal 14, kami sudah melaksanakan pembelajaran jarak jauh dengan mengutamakan bagaimana pembelajaran itu tetap berlangsung meskipun anak-anak berada di rumah sendiri," ujarnya.

Andi berharap kondisi kelangkaan BBM segera berakhir sehingga siswa dapat kembali belajar di ruang kelas. Menurut dia, interaksi langsung antara guru dan siswa tetap memiliki keunggulan dibandingkan pembelajaran yang dilakukan dari jarak jauh.

"Kalau situasi sudah kondusif, situasi sudah aman, maka mudah-mudahan kita sudah bisa kembali belajar offline. Karena biar bagaimanapun kita mengharapkan pembelajaran dengan bertemu dengan anak itu akan lebih baik dibanding dengan pembelajaran di luar tatap muka," katanya.

Meski demikian, saat pelaksanaan PJJ dimulai, sekolah masih menunggu perkembangan kebijakan dari Pemerintah Kota Makassar. Aktivitas belajar di sekolah dihentikan sementara untuk siswa, sedangkan tenaga kependidikan tetap menjalankan tugas secara terbatas.

"Kami masih menunggu dari pemerintah kota bagaimana kelanjutan daripada surat edaran ini," kata Andi.

Ia menjelaskan, selama PJJ berlangsung, siswa belajar dari rumah dan prosesnya dipantau oleh guru. Sementara tenaga kependidikan tetap berada di sekolah untuk menjalankan pelayanan administrasi dan kebutuhan koordinasi.

"Namanya pembelajaran jarak jauh, anak-anak belajar dari rumahnya, kemudian dipantau sendiri oleh guru. Otomatis pembelajaran di sekolah sudah tidak ada, tetapi pelaksanaan untuk tenaga kependidikan masih ada, kepala sekolah sendiri masih ada di sekolah," ujarnya.