Ojol Jakarta Datangi Rumah Koordinator AMPB di Pati, Ini yang Dibahas

Ojol Jakarta datang ke Pati untuk meluruskan polemik yang muncul.

Diterbitkan 01 September 2026, 05:59 WIB
Share
Copy Link
Batalkan

Liputan6.com, Jakarta - Sejumlah pengemudi ojek online (ojol) Jakarta mendatangi kediaman Koordinator Aliansi Masyarakat Pati Bersatu (AMPB), Supriyono alias Botok, di Desa Wangunrejo, Kecamatan Margorejo, Kabupaten Pati, Jawa Tengah, Senin (31/8/2026).

Kedatangan tujuh pengemudi ojol tersebut untuk bersilaturahmi sekaligus mengklarifikasi polemik yang muncul, setelah massa AMPB meninggalkan Jakarta usai melakukan audiensi dengan pimpinan DPR RI pada Kamis (27/8/2026).

Salah satu perwakilan ojol, Roni, mengatakan kedatangan mereka juga sebagai bentuk terima kasih kepada masyarakat Pati yang tergabung dalam AMPB. Selama berada di Jakarta, para pengemudi ojol turut membantu dan menyambut massa AMPB.

“Kami silaturahmi kepada warga Pati, mau mengklarifikasi terkait kejadian yang sempat membuat heboh. Ada ibu-ibu yang mengatakan warga Pati tidak ada empati kepada Jakarta dan pihak Pati tidak usah datang lagi ke Jakarta,” ujar Roni mewakili tujuh ojol yang datang ke Pati.

Selain bersilaturahmi, para pengemudi ojol mengaku ingin menyampaikan apresiasi kepada AMPB karena telah ikut mendorong pengesahan RUU Perampasan Aset.

“Kedatangan kami juga sebagai bentuk ucapan terima kasih kepada AMPB yang telah bersama-sama mendorong pengesahan RUU Perampasan Aset Koruptor,” tutur Roni.

 

Soroti Aksi 27 Agustus

Roni juga menyinggung situasi yang terjadi dalam aksi di sekitar Gedung DPR RI pada Kamis (27/8/2026).

Ia menduga terdapat pihak-pihak yang memprovokasi situasi setelah agenda audiensi AMPB dengan DPR RI selesai.

Menurut Roni, sejumlah orang yang mengaku sebagai pengemudi ojol sempat menunjukkan kekecewaan ketika mengetahui Botok dan massa AMPB memilih meninggalkan Jakarta.

Amarah dan kekecewaan itu disebut muncul di depan pagar kawasan Gedung DPR RI. Massa AMPB diketahui langsung bertolak menuju Pati setelah menyelesaikan agenda audiensi dan tidak melanjutkan aksi di lokasi.

Roni mengatakan, setelah massa AMPB meninggalkan kawasan DPR RI, kelompok masyarakat lain justru berdatangan ke lokasi. Kondisi tersebut kemudian berkembang menjadi situasi yang menurutnya semakin panas hingga terjadi kericuhan pada malam hari.

“Driver-driver ojol itu saling menyebarkan informasi satu sama lain terkait apa yang terjadi di lapangan,” kata Roni.

Ia mengaku pihaknya juga sempat kebingungan untuk melakukan klarifikasi karena massa yang berada di lokasi terdiri atas berbagai kelompok.

“Kalau kami sendiri yang klarifikasi itu masih bingung juga, karena ada ormas dan siswa STM serta masyarakat sipil yang selesai bekerja. Isu yang berkembang masih simpang siur, seragamnya sama, warna hitam semua,” ujarnya.

Menurut Roni, kondisi tersebut membuat pihaknya kesulitan mengetahui tuntutan masing-masing kelompok yang datang setelah massa AMPB meninggalkan lokasi.

“Mahasiswa bingung apa yang mereka tuntut, datang setelah AMPB. Kan ada lanjutannya, kami bingung tuntutan mereka apa. Kami di situ melindungi logistik yang ada di sekitar DPR,” tuturnya.