Jejak Lukisan Gua 67 Ribu Tahun Ditemukan di Sulawesi

Temuan lukisan figuratif di kawasan karst Sulawesi menantang anggapan bahwa tradisi seni gua bermula di Eropa.

Diterbitkan 01 September 2026, 05:03 WIB
Share
Copy Link
Batalkan

Liputan6.com, Makassar - Tim arkeolog meneliti sejumlah lukisan figuratif di dinding gua kapur kawasan karst Sulawesi yang diperkirakan berusia sekitar 67.800 tahun.

Temuan tersebut memperkuat bukti bahwa tradisi seni gua telah berkembang di Nusantara jauh sebelum periode yang selama ini banyak dikaitkan dengan Eropa.

Lukisan tersebut ditemukan di sejumlah situs, antara lain kawasan Leang Maros dan Leang Pangkep, Sulawesi Selatan, serta Liang Metanduno di Pulau Muna, Sulawesi Tenggara.

Peneliti dan arkeolog Universitas Hasanuddin (Unhas) Prof Akin Duli mengatakan temuan itu menjadi salah satu bukti penting untuk melihat kembali sejarah perkembangan seni manusia.

"Penelitian ini membantah teori yang selama ini kita pelajari melalui buku-buku bahwa lukisan tertua bermula di Eropa, itu kemudian terbantahkan," ungkap Akin di Makassar, Senin (31/8/2026).

Lukisan yang dikenal sebagai rock art tersebut menampilkan sejumlah bentuk, mulai dari cap tangan hingga figur hewan dan adegan yang diduga berkaitan dengan aktivitas perburuan. Warna merah marun pada gambar berasal dari bahan mineral alami seperti oker.

Salah satu hal yang menarik perhatian peneliti adalah bentuk cap tangan dengan ujung jari yang dibuat meruncing. Bentuk tersebut berbeda dari cap tangan biasa karena bagian jemari tampak menyerupai cakar hewan.

Penanggalan menggunakan metode uranium-series memperkirakan salah satu lukisan tersebut telah berusia sekitar 67.800 tahun.

Menurut Akin, keberadaan lukisan tersebut penting karena Sulawesi merupakan bagian dari kawasan Wallacea yang memiliki posisi strategis dalam kajian migrasi dan perkembangan manusia modern awal.

"Sulawesi ini masuk kawasan Wallacea dan memegang peranan penting. Bukti ini menjadi dasar kita membantah bahwa budaya melukis gua bukan berasal dari Eropa," tuturnya.

Peneliti lainnya, Muhamad Nur, mengatakan temuan tersebut juga menunjukkan bahwa kemampuan menghasilkan karya seni tidak semata-mata dapat dikaitkan dengan satu wilayah tertentu.

"Rasa keindahan ada bersama sifat amarah atau tertawa. Manusia di mana saja berpotensi melahirkan itu," ujar Muhamad.

 

Tak Sekadar Gambar Hewan

Di sejumlah panel gua, arkeolog menemukan figur manusia yang digambarkan berdekatan dengan hewan buruan, seperti babi hutan dan anoa. Pola tersebut terlihat dalam adegan yang diduga menggambarkan aktivitas perburuan secara berkelompok.

Pakar Protosejarah Unhas itu mengatakan penggambaran tersebut memberikan petunjuk mengenai aktivitas sosial manusia pada masa itu.

"Temuan di situs seperti Bulu Sipong menunjukkan aktivitas sosial sangat terorganisir. Jelas sekali adegan perburuannya. Proses kawanan babi atau anoa digiring oleh pemburu. Ini bukan hanya gambar, tapi aktivitas sosial tentang perburuan," kata Muhamad.

Arkeolog BRIN Budianto Hakim menilai penggambaran manusia dan hewan dalam lukisan tersebut dapat menjadi petunjuk mengenai cara manusia awal berinteraksi dengan lingkungan.

"Penggambaran ini memiliki hubungan paralel yang sangat intim dengan cara manusia bertahan hidup," kata Budianto.

Bentuk jari yang dibuat menyerupai cakar juga menjadi bagian yang menarik untuk dikaji lebih lanjut. Menurut Budianto, praktik modifikasi jari menyerupai cakar telah dilakukan manusia modern awal dalam konteks tertentu.

Temuan tersebut membuat para arkeolog melihat lukisan gua bukan hanya sebagai karya visual, tetapi juga sebagai bagian dari cara manusia merekam pengalaman dan kehidupan sosialnya.

Jejak tradisi tersebut bahkan masih dapat ditemukan dalam kebudayaan masyarakat Sulawesi saat ini. Salah satunya berupa praktik membuat cap tangan pada bagian tertentu rumah baru yang dipercaya sebagai simbol penolak bala atau perlindungan.