Cerita Pilu Warga Sakit di Mojokerto Dievakuasi Pakai Truk

Sang kakek dalam kondisi sakit terpaksa dievakuasi dengan truk karena tidak ada ambulans desa.

Diterbitkan 30 Juli 2026, 14:12 WIB
Share
Copy Link
Batalkan

Liputan6.com, Jakarta - Nasib Doso seolah menjadi potret getir tentang keterbatasan yang masih dihadapi sebagian masyarakat pedesaan. Di usia 70 tahun, ketika tubuh mulai renta dan ingatan tak lagi setajam dulu, ia justru harus merasakan perjalanan pulang yang jauh dari kata layak.

Bukan di atas tandu ataupun ambulans, melainkan di bak sebuah truk pengangkut barang. Pemandangan itu terekam dalam sebuah video yang kemudian menyebar luas di media sosial.

Video tersebut memperlihatkan warga Desa Curahmojo, Kecamatan Pungging, Kabupaten Mojokerto, bergotong royong mengevakuasi seorang lansia yang ditemukan terbaring lemas di area galian.

Doso diketahui meninggalkan rumah tanpa sepengetahuan keluarga, Minggu (26/7/2026). Menurut menantunya, Muhaimin (32), sang mertua memang mengalami penurunan daya ingat sehingga rutin menjalani pengobatan di salah satu rumah sakit di Kabupaten Mojokerto.

"Biasanya kalau keluar selalu pamit. Tapi kemarin tidak pamit dan tidak pulang-pulang. Akhirnya kami melakukan pencarian. Baru ditemukan Senin sekitar pukul 16.00 WIB di lokasi galian. Hampir 28 jam beliau hilang. Waktu ditemukan kondisinya sudah lemas, tetapi masih sadar," tutur Muhaimin, kamis (30/7/2026).

Lokasi ditemukannya Doso berada lebih dari satu kilometer dari rumahnya. Medan menuju lokasi cukup sulit dilalui kendaraan biasa. Di tengah situasi darurat itu, keluarga bersama warga hanya memiliki satu pilihan yang memungkinkan, yakni memanfaatkan bak truk milik warga untuk membawa Doso keluar dari lokasi.

Bukan karena ingin, melainkan karena memang tidak ada alternatif lain. Desa Curahmojo hingga kini belum memiliki ambulans maupun mobil siaga desa yang dapat digunakan untuk keadaan darurat.

Sesampainya di rumah, ayah dari lima anak tersebut mendapat penanganan awal dari bidan desa sebelum menjalani perawatan lebih lanjut.

Sunaryo (42), warga yang juga mengunggah video evakuasi itu ke media sosial, mengatakan penggunaan truk semata-mata dipicu minimnya fasilitas transportasi kesehatan di desanya.

Menurutnya, kondisi tersebut sudah berlangsung bertahun-tahun. Warga yang membutuhkan kendaraan menuju rumah sakit atau puskesmas biasanya harus meminjam mobil tetangga atau menyewa kendaraan dengan biaya sekitar Rp 300 ribu hingga Rp 500 ribu.

"Saat evakuasi medannya memang sulit. Kebetulan ada truk yang hendak mengangkut pallet. Saya menghubungi pemiliknya dan alhamdulillah diizinkan dipakai untuk membantu evakuasi," ujarnya.

Dia berharap peristiwa yang dialami Doso menjadi perhatian bersama. Keberadaan mobil siaga dinilai sangat mendesak mengingat jarak Desa Curahmojo menuju Puskesmas Pungging mencapai sekitar 12 hingga 15 kilometer.

 

"Kalau ada mobil siaga tentu masyarakat akan lebih mudah saat menghadapi kondisi darurat," katanya.

Sementara itu, Kepala Desa Curahmojo, Sutrisno, tidak menampik bahwa hingga kini pemerintah desa memang belum memiliki ambulans maupun mobil siaga.

Selama ini, kebutuhan transportasi bagi warga yang sakit masih mengandalkan kendaraan pribadi milik masyarakat.

Dia menjelaskan, keterbatasan anggaran membuat pemerintah desa lebih memprioritaskan pembangunan infrastruktur seperti jalan dan saluran air.

"Selama ini anggaran masih diprioritaskan untuk pembangunan jalan dan saluran," ujar Sutrisno.

Meski demikian, ia memastikan usulan pengadaan mobil siaga akan dibahas dalam forum musyawarah desa.

Menurutnya, apabila menjadi kebutuhan prioritas masyarakat dan kemampuan anggaran memungkinkan, pemerintah desa akan mengupayakan pengadaannya.

"Kalau memang menjadi kebutuhan masyarakat dan anggarannya tersedia, tentu akan kami laksanakan. Semua tergantung hasil usulan masyarakat," tandasnya.

Reporter: Merdeka.com/Erwin Yohanes