Cara Baru Polda Jabar Hadapi Kejahatan Digital

Polda Jabar mengandalkan teknologi digital untuk mendeteksi dan merespons ancaman kejahatan lebih cepat.

Diterbitkan 30 Juli 2026, 10:53 WIB
Share
Copy Link
Batalkan

Liputan6.com, Jakarta - Biro SDM Polda Jawa Barat (Jabar) menggelar pelatihan kecerdasan buatan atau Artificial Inteligence (AI) untuk melawan hoaks, deep fake, penipuan arisan online, love scamming, penipuan online hingga mencerdaskan masyarakat di dunia digital.

Kabag Binkar Polda Jabar, AKBP Condro Sasongko mengatakan, personel Polda Jabar yang mengikuti pelatihan ini nantinya menjadi trainer yang akan turun ke sekolah, terutama siswa SMA sederajat, untuk menjelaskan tanggung jawab mereka di dunia digital.

Polda Jabar menargetkan antara 37 ribu hingga 40 ribu pelajar maupun masyarakat, bisa mendapatkan pelatihan kecerdasan buatan. Karena AI dan dunia digital bagaikan mata pisau bermata dua, bisa menjadi baik dan jahat bagi penggunanya.

"Pesertanya dari Polda Jawa Barat dan polres jajaran di wilayah hukum kita. Nantinya mereka akan memberikan edukasi ke sekolah-sekolah, untuk mengajarkan adik-adik kita bagaimana memanfaatkan AI dan digital. Rekan-rekan di jajaran juga bisa meneruskan ke masyarakat, gen Z, juga ke pelajar," ujar Condro, Kamis, (30/07/2026).

Mantan Kapolres Serang 2024 - 2026 itu menjelaskan, banyak yang menyalahgunakan kecerdasan buatan untuk berbuat kejahatan, seperti love scamming. Nantinya pelajar, anak muda hingga masyarakat umum, bisa membantu penyaringan informasi di dunia digital, sehingga bisa membedakan informasi yang benar atau tidak.

Personel polri hingga masyarakat nantinya diharapkan bisa melakukan cek fakta seperti yang sudah dilakukan oleh media arus utama saat ini. Dimana, banyak sekali AI diunggah ke medsos dengan tujuan provokasi.

"Melek AI bukan sekedar bisa menggunakan teknologi, melainkan sebuah kemampuan komprehensif. AI membantu manusia berfikir lebih cepat, manusia tetap memegang kendali, pertimbangan dan tanggung jawab. Kejahatan digital menggunakan AI saat ini masih berupa gunung es," terangnya.

Menurut Condro Sasongko yang sudah malang melintang di dunia reserse ini menjelaskan, setidaknya Polri memiliki empat tantangan dalam adaptasi teknologi, seperti Volatility, yakni perubahan situasi dilapangan yang terjadi sangat cepat.

Kemudian Uncertainty, informasi dan kondisi keamanan semakin sulit diprediksi. Selanjutnya Complexity, permasalahan masyarakat saling terhubung dan rumit. Hingga Ambiguity, yakni arus informasi melimpah, namun tidak selalu jelas dan benar.

"Harapannya, adik-adik kita nanti bisa lebih memahami apa itu informasi hoax hingga deep fake, serta menggunakan AI lebih bertanggung jawab," tuturnya.

 

Garda Terdepan Melawan Hoaks

Alumni Akpol 2005 ini berharap para pelajar nantinya bisa menjadi garda terdepan untuk melawan hoaks di media sosial. Karena generasi muda saat ini sudah sangat akrab dengan AI.

Mereka pada umumnya sudah bisa menggunakan kecerdasan buatan secara otodidak. Polri sendiri menargetkan 10 juta pelajar tingkat SMA sederajat bisa mendapat pelatihan tersebut.

Penggunaan AI juga harus bijak dan bertanggung jawab, agar tidak membuat bising dunia maya, seperti menimbulkan bias kelas sosial, bias gender hingga bias prasangka.

Jika kecerdasan buatan digunakan dengan bijak, benar dan bertanggung jawab, akan membantu dalam membuat keputusan, diskusi kelompok hingga membantu akademik.

"Bahkan media arus utama sudah banyak yang menyediakan cek fakta, namun informasi hoaks maupun deep fake, terutama yang menggunakan AI terus mengalir di dunia maya," jelasnya.

Lalu mengapa pelatihan AI ini penting untuk menjaga keamanan dan ketertiban di masyarakat? Karena bisa mengubah setumpuk data menjadi mudah dibaca dan dipahami. Dimana, informasi dari masyarakat, data lapangan, hingga data digital bisa diolah menggunakan mesin AI.

Data yang dihasilkan akan diolah sebagai deteksi dini kejahatan, pemetaan kerawanan, analisis, respon, hingga evaluasi.

Nantinya personel Polda Jabar berperan sebagai pemberi wawasan, pembimbing hingga penjaga, agar penggunaan AI tetap menjunjung tinggi tanggung jawab, etika dan aman.

"Melek AI berarti kerja lebih cerdas, respon lebih cepat, harkamtibmas lebih terjaga dengan baik. Tentunya ini sesuai dengan visi misi Pak Kapolda, yakni Jaga Rawat Jawa Barat," jelasnya.

Â