PSI: Beda Pilihan Politik Jangan Menghapus Rekam Jejak Jokowi di NTT

PSI NTT mengajak masyarakat menilai rekam jejak pembangunan Jokowi secara terpisah dari perbedaan pilihan politik.

Diterbitkan 30 Juli 2026, 13:45 WIB
Share
Copy Link
Batalkan

Liputan6.com, Jakarta - Sekretaris DPW PSI Nusa Tenggara Timur (NTT) Junaidin Mahasan mengajak masyarakat memisahkan perbedaan pilihan politik dari penilaian terhadap rekam jejak pembangunan di daerah tersebut.

Pernyataan itu disampaikan menjelang kunjungan Presiden ke-7 RI Joko Widodo (Jokowi) ke NTT pada 31 Juli hingga 2 Agustus 2026.

Junaidin menilai berbagai program pembangunan yang dijalankan pada masa pemerintahan Jokowi masih diingat dan dirasakan oleh sebagian masyarakat NTT.

"Setiap kali nama beliau (Jokowi) kembali disebut, ingatan masyarakat NTT tentang legacy dan jejak pembangunan di NTT pun ikut muncul ke permukaan. Di era Bapak Jokowi, paradigma pembangunan bergeser dari Jawa-sentris menjadi Indonesia-sentris," kata Junaidin, Kamis (30/7/2026).

Menurut dia, perubahan orientasi pembangunan tersebut tidak hanya menjadi slogan, tetapi diwujudkan melalui pembangunan infrastruktur, penguatan konektivitas, pembangunan jalan dan pelabuhan, pengembangan kawasan pariwisata, serta program Tol Laut.

"Bagi sebagian besar masyarakat NTT, perubahan paradigma itu bukan sekadar slogan. Masyarakat melihatnya melalui pembangunan infrastruktur, penguatan konektivitas, pembangunan jalan dan pelabuhan, pengembangan kawasan pariwisata, serta program Tol Laut. Tol Laut bukan sekadar kapal yang berlayar dari satu pelabuhan ke pelabuhan lainnya. Tol Laut adalah simbol perubahan cara negara melihat NTT," ujarnya.

Junaidin mengatakan, program Tol Laut turut memperkuat konektivitas antarwilayah di provinsi kepulauan tersebut. Menurutnya, pembangunan konektivitas membantu menghubungkan wilayah-wilayah yang sebelumnya menghadapi keterbatasan akses.

"Laut yang dulu menjadi pemisah, perlahan diubah menjadi jalan. Jarak yang dulu menjadi hambatan, mulai diubah menjadi konektivitas. Dan pulau-pulau yang dulu terasa jauh, mulai dihubungkan dengan denyut pembangunan nasional," jelasnya.

 

Konsep Indonesia-sentris Cerminkan Negara Hadir

Ia menegaskan, perbedaan pandangan dan pilihan politik tidak seharusnya menghilangkan penilaian terhadap pembangunan yang telah dilakukan.

"Karena itu, kalau ada yang hari ini mencoba mengecilkan arti pembangunan di NTT hanya karena alasan politik, saya ingin mengatakan, Silakan berbeda pilihan politik. Tetapi jangan menghapus fakta sejarah. Di era Bapak Jokowi, paradigma pembangunan bergeser dari Jawa-sentris menjadi Indonesia-sentris," tegas Junaidin.

Menurut dia, konsep Indonesia-sentris mencerminkan upaya memperluas kehadiran pembangunan hingga ke wilayah kepulauan, perbatasan, dan daerah yang selama ini menghadapi keterisolasian.

"Inilah makna Indonesia-sentris: negara hadir bukan hanya di pusat-pusat pertumbuhan, tetapi juga di wilayah perbatasan, kepulauan, dan pelosok yang selama ini menghadapi keterisolasian. Sehingga bagi sebagian masyarakat NTT, Bapak Jokowi bukan sekadar mantan Presiden. Beliau adalah sosok yang meninggalkan cerita, kebijakan, dan pembangunan yang masih dirasakan hingga hari ini," jelasnya.

Bukan Sekadar Agenda Politik

Junaidin mengatakan, kunjungan Jokowi ke NTT tidak hanya dipandang sebagai agenda politik. Menurutnya, kedatangan Jokowi juga menjadi momentum bagi masyarakat untuk mengingat berbagai kebijakan dan program pembangunan yang dijalankan selama masa pemerintahannya.

"Karena itu, ketika Bapak Jokowi datang kembali ke NTT, yang muncul bukan hanya nostalgia, tetapi juga memori kolektif masyarakat NTT tentang apa yang pernah dikerjakan dan apa yang masih menjadi legacy beliau," ungkapnya.

 

Bukan Mengkultuskan Jokowi

Ia menegaskan, pernyataan tersebut bukan bertujuan mengkultuskan Jokowi. Junaidin mengatakan, pihaknya hanya ingin mengingat kembali rekam jejak pembangunan yang dinilai masih dirasakan masyarakat NTT.

Menurut dia, hubungan emosional antara Jokowi dan sebagian masyarakat NTT terbentuk melalui perhatian serta kebijakan yang dijalankan selama masa pemerintahannya.

"Bagi banyak masyarakat NTT, Pak Jokowi telah meninggalkan jejak. Dan jejak itu masih bisa dilihat, masih bisa dirasakan, dan masih menjadi bagian dari cerita pembangunan NTT. Maka ketika Pak Jokowi kembali datang ke NTT, jangan heran kalau masyarakat menyambut dengan hangat. Karena hubungan emosional antara Pak Jokowi dan masyarakat NTT tidak lahir kemarin sore. Hubungan itu dibangun melalui proses cukup lama, melalui perhatian, dan melalui kebijakan yang dirasakan masyarakat," tutupnya.