Kisah Bu Guru Yustiana, Keluar Masuk Hutan Mengajar Murid Hanya Diupah Rp 150 Ribu

Berjalan 6 KM Melintasi Hutan, Guru Honorer di NTT Rela Bertahan dengan Gaji Rp 150 Ribu

Diterbitkan 04 Mei 2026, 19:06 WIB
Share
Copy Link
Batalkan

 

Liputan6.com, Kupang - Pagi di Desa Sikka, Kecamatan Lela, Kabupaten Sikka, tak selalu dimulai dengan suara kendaraan atau deru aktivitas kota. Di balik sunyi hutan dan jalan berbatu, langkah kaki seorang guru menjadi penanda dimulainya harapan baru bagi puluhan anak di pelosok Flores.

Namanya Yustina Yuniarti. Sejak 2016, ia setia mengajar di SDK Wukur—sebuah sekolah kecil dengan segala keterbatasannya. Setiap hari, Yustina harus menempuh perjalanan panjang yang tak biasa. Ia menumpang sepeda motor warga hingga batas kampung, lalu melanjutkan perjalanan dengan berjalan kaki sejauh enam kilometer.

Jalur yang dilalui bukan sekadar jauh, tetapi juga berat. Jalan setapak berbatu, hutan lebat, hingga lintasan di tepi jurang menjadi bagian dari rutinitasnya. Di beberapa titik, ia harus berhenti sejenak untuk mengatur napas, dengan alas kaki sederhana berupa sandal jepit.

“Saya sudah mengabdi 11 tahun. Setiap pagi saya berjalan melewati jalan berbatu, rusak, hutan, bahkan pantai. Jaraknya sekitar 6 kilometer. Meski berat, saya lakukan ini demi anak-anak di sini,” ujarnya.

Perjalanan panjang itu bukan satu-satunya tantangan. Di balik dedikasinya, Yustina hanya menerima honor sebesar Rp150 ribu per bulan—jumlah yang bahkan sulit memenuhi kebutuhan dasar.

Honor tersebut berasal dari iuran komite sekolah. Ia dan rekan-rekannya tidak menerima alokasi dana Bantuan Operasional Sekolah (BOS) untuk gaji. Saat pertama kali mengajar, ia bahkan hanya mendapatkan Rp15 ribu per bulan.

“Banyak orang tidak mau mengajar di sini karena kondisi jalan dan keuangan yang tidak memungkinkan. Tapi kami bertahan karena panggilan hati,” katanya.

 

 

Gaji Minim, tapi Semangat Mendidik Tak Surut

Yustina bukan satu-satunya yang bertahan. Kepala SDK Wukur, Tersiana Siti Rosa, menyebutkan bahwa dari total delapan tenaga pendidik, hanya satu yang berstatus aparatur sipil negara (ASN). Sisanya adalah guru honorer dengan kondisi serupa.

“Jumlah murid 34 orang dan tenaga pendidik 8 orang. ASN hanya satu orang, sedangkan tujuh lainnya honorer dengan gaji Rp150 ribu,” jelasnya.

Menurut Tersiana, penghasilan tersebut jelas tidak mencukupi, terutama bagi guru yang telah berkeluarga. Namun, semangat pengabdian membuat mereka tetap mengajar.

“Honor tersebut tentu tidak mencukupi kebutuhan mereka, tetapi karena semangat mengabdi, mereka tetap bertahan mengajar,” ujarnya.

Keterbatasan juga terlihat dari fasilitas sekolah. Dengan jumlah siswa 34 orang, ruang kelas yang tersedia tidak memadai. Satu ruangan terpaksa dibagi untuk dua tingkat kelas dengan sekat sederhana.

 

Tak Ada Akses Internet

Akses teknologi pun menjadi tantangan tersendiri. Sekolah ini belum memiliki jaringan internet. Saat pelaksanaan Asesmen Nasional Berbasis Komputer (ANBK), guru harus membawa siswa berjalan jauh ke kampung utama untuk menumpang fasilitas di sekolah lain.

Di tengah segala keterbatasan itu, harapan tetap tumbuh. Para guru berharap sekolah mereka dapat dinegerikan agar kesejahteraan tenaga pendidik lebih terjamin.

Mereka juga menginginkan perhatian pemerintah terhadap akses jalan dan penyediaan fasilitas dasar, termasuk rumah dinas bagi guru.

“Kami juga berharap, jika ada seleksi CPNS, guru-guru swasta di daerah terpencil seperti kami bisa diprioritaskan,” ujar Yustina.