4 Hari Terombang-ambing, Korban KM Nurul Salsa Selamat Berkat Pelukan Suami

Sitti Amang menceritakan perjuangannya bertahan hidup terombang-ambing di tengah laut usai Km Nurul Salsa karam di perairan Selayar.

OlehFauzan
Diterbitkan 22 Juli 2026, 10:05 WIB
Share
Copy Link
Batalkan

Liputan6.com, Selayar - Ombak tak pernah benar-benar berhenti. Siang membakar kulit, malam menghadirkan dingin yang menusuk tulang. Di tengah bentangan laut, Sitti Amang hanya memiliki satu tempat bergantung: selembar gabus yang mengapung dan pelukan suaminya yang tak pernah lepas.

Empat hari tiga malam perempuan asal Kabupaten Kepulauan Selayar itu bertarung dengan maut setelah KM Nurul Salsa tenggelam di perairan barat Pulau Polassi, Kecamatan Bontosikuyu, Rabu (15/7/2026) lalu.

Sesaat setelah kapal tenggelam, ia bersama sang suami, Andi Samad, dan beberapa penumpang lain berhasil naik ke pelampung gabus yang terlepas dari badan kapal.

"Awalnya kami di atas gabus itu ada sembilan orang. Tapi yang selamat hanya lima orang, termasuk Diska Yanti. Empat orang lainnya meninggal dunia," tutur Sitti dengan suara pelan saat ditemui Kapolres Kepulauan Selayar AKBP Didid Immawan di RSUD KH Hayyung Selayar, Selasa (21/7/2026).

Hari pertama masih menyisakan harapan. Namun, memasuki hari-hari berikutnya, tubuh mereka mulai menyerah. Tak ada setetes air yang bisa diminum. Tak ada sepotong makanan yang bisa mengganjal perut.

"Empat hari kami tidak makan, tidak minum. Tidak pernah tidur, kedinginan terus. Malam menggigil," katanya.

Dalam keadaan lemah, mereka sempat berharap laut menghadiahkan sesuatu yang bisa dimakan. Namun sayang, harapan itu berbuah hampa.

"Mau makan daun yang hanyut, tapi tidak ada," ujarnya.

Ketika tenaga mulai habis, satu per satu orang di atas pelampung itu tak lagi sanggup bertahan. Di hadapan mata Sitti, nyawa perlahan meninggalkan mereka.

Yang paling membekas baginya adalah saat Malida, ibu dari Diska Yanti, mengembuskan napas terakhir dalam pelukan putrinya. Tak ada yang bisa dilakukan selain menyaksikan dan terus berdoa agar mereka yang masih hidup mampu bertahan sedikit lebih lama.

Di tengah keputusasaan itu, Sitti mengaku hidupnya terselamatkan oleh sosok yang tak pernah meninggalkannya sedetik pun, suaminya sendiri, Andi Samad.

Ia tak bisa berenang. Karena itu, Andi Samad terus berada di belakang tubuh istrinya, memegang dan menopangnya setiap saat agar tidak terjatuh ke laut.

"Saya dijaga terus karena saya tidak bisa berenang. Kalau malam dan tidak ada suami, mungkin saya sudah jatuh," ucapnya.

"Saya di bagian depan, suami di belakang terus pegang saya. Karena saya tidak bisa berenang."

Sebelum semuanya berubah menjadi lautan yang sunyi, Sitti masih mengingat detik-detik kapal kehilangan keseimbangan.

"Kapal sudah miring waktu saya turun," kenangnya.

Rasa takut yang begitu besar membuat lapar dan haus seperti menghilang. Yang tersisa hanya naluri untuk tetap hidup.

"Tapi waktu itu saya tidak merasa lapar, tidak merasa haus. Karena takut," katanya.

Setiap malam, ketika cahaya kapal tampak samar di kejauhan, harapan kembali tumbuh. Mereka yang masih memiliki tenaga menggerakkan pelampung gabus dengan tangan, mencoba mendekati sumber cahaya itu.

"Kalau malam ada cahaya lampu kapal, kami berusaha ke sana. Semua yang masih kuat berusaha menggerakkan gabus supaya mendekat."

"Cahayanya jauh sekali, tapi kami tetap berusaha ke sana," tuturnya.

Usaha itu akhirnya berbuah hasil pada Sabtu (18/7/2026) menjelang petang. Sebuah kapal nelayan melihat lambaian tangan mereka dari kejauhan. Satu per satu penyintas dievakuasi, mengakhiri empat hari perjuangan di tengah laut.

Sitti Amang bersama empat penyintas tenggelamnya KM Nurul Salsa pun akhirnya berhasil dievakuasi dan kini masih menjalani perawatan intensif di Rumah Sakit.