Liputan6.com, Jakarta - Suara cambuk tiba-tiba memecah suasana. Di tengah arena terbuka, dua pria saling berhadapan dan bergantian mengayunkan pilinan lidi aren ke tubuh lawannya.
Sekilas, adegan itu tampak seperti pertarungan. Namun, tak ada amarah di sana. Setelah tiga kali cambukan, mereka justru berjabat tangan dan saling memaafkan.
Inilah Tiban, tradisi adu cambuk yang berkembang di tengah masyarakat Lampung Timur. Dahulu, tradisi ini dipercaya sebagai ritual untuk memohon turunnya hujan saat musim kemarau. Kini, Tiban menjelma menjadi seni pertunjukan sekaligus cara masyarakat menjaga warisan budaya.
Advertisement
Di balik cambukan yang meninggalkan rasa sakit, tersimpan makna budaya dan harapan masyarakat agar hujan segera turun
Â
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9338820/original/096376900_1788342843-VID-20260902-WA0083_3_.jpg)
Tiga Kali Cambuk, Bukan untuk Saling Melukai
Pelaksanaan Tiban memiliki aturan yang harus dipatuhi para peniban atau peserta. Mereka diberi kesempatan mencambuk lawan sebanyak tiga kali secara bergantian.
Bagian tubuh yang menjadi sasaran pun dibatasi. Cambukan tidak boleh diarahkan ke kepala, tetapi hanya diperbolehkan mengenai bagian dada hingga pinggang.
Setiap kali satu cambukan dilakukan, seorang plandang atau wasit akan mengatur jalannya pertunjukan. Permainan dihentikan sejenak sebelum kembali dilanjutkan.
Di sela-sela itu, suasana justru berubah. Para peniban menari mengikuti iringan musik gamelan.
Nuansa keras dari suara cambuk berpadu dengan alunan musik tradisional, menciptakan pertunjukan yang menjadi daya tarik tersendiri bagi masyarakat.
Begitu pertunjukan berakhir, kedua peniban juga tidak membawa dendam dari arena.
Mereka berjabat tangan dan saling bermaafan. Sebab, esensi Tiban bukanlah pertarungan untuk menjatuhkan atau menyakiti lawan, melainkan bagian dari tradisi dan kebersamaan masyarakat.
Imam Maksum, penyelenggara Tiban sekaligus Ketua Badak Lampung, menjelaskan pertandingan dilakukan secara bergantian dengan masing-masing peserta mendapat tiga kesempatan mencambuk.
Menurut dia, keberadaan plandang menjadi salah satu unsur penting untuk memastikan pertandingan berlangsung sesuai aturan dan tidak menimbulkan dendam antarpeserta.
Â
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9338818/original/040574700_1788342843-VID-20260902-WA0083_1_.jpg)
Advertisement
Peserta Datang dari Berbagai Daerah
Tradisi Tiban yang berkembang di Lampung Timur ternyata tidak hanya diikuti masyarakat setempat.
Pesertanya juga datang dari sejumlah kabupaten lain di Provinsi Lampung, seperti Lampung Tengah dan Lampung Selatan.
"Kalau yang main di sini peserta dari Lampung Tengah ada, Lampung Selatan ada, Lampung Timur ada. Jadi se-Lampung itu ada, pasti ada pemainnya," kata Imam Maksum, Rabu (2/9/2026).
Kondisi tersebut menunjukkan bagaimana Tiban berkembang menjadi ruang pertemuan bagi masyarakat dari berbagai daerah sekaligus menjadi bagian dari seni pertunjukan tradisional.
Dulu Ritual Memanggil Hujan, Kini Menjadi Seni Budaya
Dalam perkembangannya, makna Tiban mengalami perubahan. Imam menuturkan, pada masa lalu Tiban erat kaitannya dengan ritual memohon turunnya hujan ketika musim kemarau panjang.
Namun, seiring perubahan zaman, tradisi tersebut kini lebih banyak ditempatkan sebagai bagian dari budaya dan seni pertunjukan masyarakat.
"Kalau waktu yang dulu, itu minta hujan. Tapi sekarang tidak, sekarang itu tradisi budaya," kata Imam.
Tiban bahkan tidak hanya digelar ketika musim kemarau. Tradisi tersebut juga kerap ditampilkan dalam berbagai kegiatan masyarakat, seperti hajatan, sunatan hingga acara pernikahan.
Tiban juga dapat digelar dalam momentum tertentu, termasuk bulan Muharram dan peringatan Hari Ulang Tahun Kemerdekaan Republik Indonesia.
Dengan demikian, tradisi yang dahulu memiliki kaitan kuat dengan ritual meminta hujan kini telah bertransformasi menjadi pertunjukan budaya yang tetap mempertahankan unsur tradisionalnya. Warisan Budaya dari Jawa Timur Meski kini berkembang di Lampung, Tiban bukanlah tradisi asli Lampung. Menurut Imam, tradisi tersebut berasal dari Jawa Timur, terutama wilayah Tulungagung, Trenggalek, Blitar, hingga Banyuwangi.
Dalam istilah bahasa Jawa, Tiban berkaitan dengan kata 'tiba' yang berarti jatuh. Dalam konteks tradisinya, Tiban secara turun-temurun dikaitkan dengan harapan datangnya hujan.
Â
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9338817/original/036588600_1788342843-VID-20260902-WA0083_4_.jpg)
Cambuk yang digunakan pun dibuat secara sederhana dari bahan alam. Lidi aren atau lidi kelapa dipilin dan dililit hingga membentuk cambuk yang cukup kuat untuk digunakan dalam pertunjukan.
"Jadi bikin sendiri itu," ujar Imam.
Meski menggunakan cambuk dan mempertontonkan aksi saling pukul, Tiban memiliki batasan yang harus dihormati seluruh peserta.
Aturan tersebut sekaligus menjadi pengingat bahwa rasa sakit yang muncul selama pertunjukan bukanlah tujuan utama.
Di tengah perubahan zaman, Tiban kini menemukan bentuk baru. Dari sebuah ritual yang dikaitkan dengan permohonan turunnya hujan, tradisi tersebut berkembang menjadi seni pertunjukan yang mempertemukan masyarakat, menjaga kebersamaan, sekaligus merawat jejak budaya leluhur.
Cambukan mungkin hanya berlangsung beberapa saat. Namun, nilai yang ingin dipertahankan jauh lebih panjang: tradisi, kebersamaan, dan penghormatan terhadap warisan budaya.
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9328649/original/001837900_1787203589-Cek_Fakta_Tidak_Benar_Ini_Link_Pendaftaran_-_2026-08-20T122532.000.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9338392/original/039473300_1788327721-HOAX__8_.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9338391/original/066538400_1788327609-Cek_Fakta_Tidak_Benar_Ini_Link_Pendaftaran_-_2026-09-02T123903.075.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8262299/original/014349800_1781777647-Tugas__37_.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9338819/original/085398100_1788342843-VID-20260902-WA0083_2_.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9325658/original/028010100_1786892177-WhatsApp_Image_2026-08-16_at_20.44.51.jpeg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9316389/original/088992800_1785924812-WhatsApp_Image_2026-08-05_at_16.27.15.jpeg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5175380/original/036780300_1742987441-WhatsApp_Image_2025-03-26_at_17.43.47_75a174de.jpg)