Liputan6.com, Jakarta - Kabar meninggalnya dr. Yudha Nabella atau yang akrab disapa Bella ramai dikaitkan dengan dugaan bullying selama menjalani pendidikan di Universitas Diponegoro (Undip), Semarang, Jawa Tengah.
Dr. Yudha Nabella diketahui merupakan dosen Fakultas Kedokteran dan Ilmu Kesehatan (FKIK) Universitas Sultan Ageng Tirtayasa (Untirta), Serang, Banten.
Pihak civitas akademika FKIK Untirta mengaku telah berkomunikasi dengan keluarga dan turut memantau kondisi Bella sejak mulai menjalani pendidikan, saat sakit, hingga akhirnya meninggal dunia.
Advertisement
Dekan FKIK Untirta, dr. Omat Rachmat, memastikan dr. Yudha Nabella meninggal karena sakit demam berdarah.
"Informasi dari kolega disana, beliau ini kan memang sakit, kuliah baru sekitar 2 bulan, baru semester satu, kemudian informasi yang saya dapat kena demam berdarah, kemudian sempet di rawat," ujar dr. Omat Rachmat, Dekan FKIK Untirta Serang, melalui selulernya, Selasa (2/9/2026).
Omat mengaku terus memantau kondisi dosennya sejak mulai menjalani pendidikan di Undip hingga mendapat perawatan medis akibat DBD.
Selama almarhumah sakit, Omat terus mendapat kabar dari keluarga, dokter yang merawat, maupun civitas akademika Undip terkait perkembangan kesehatan Bella.
"Sempet sembuh, ada perbaikan, pulang ke rumah, kemudian masuk ICU, ada komplikasi gitu, namanya meningitis, radang selaput otak gitu, salah satu infeksi virus, sampai enggak sadar dan meninggalnya di ICU gitu," terangnya.
Bahkan saat Bella menjalani perawatan di ICU, civitas akademika FKIK Untirta dan Undip bersama pihak keluarga mengadakan pengajian untuk mendoakan kesembuhannya. Namun, kondisi Bella terus memburuk hingga akhirnya dokter yang belum lama menikah itu meninggal dunia dan dimakamkan di Kota Serang, Banten, pada Sabtu, 29 Agustus 2026.
"Kita tetap komunikasi dengan keluarga dan dengan dokter yang merawat disana, kita juga doa bersama di ICU sana, murni sakit karena demam berdarahnya itu," jelasnya.
Bantahan Pihak RS
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9338421/original/019653500_1788329149-IMG-20260902-WA0037.jpg)
Sebelumnya, Manajemen Rumah Sakit Umum Pusat (RSUP) Dr Kariadi Semarang membantah keras kabar yang mengaitkan kematian mahasiswi Program Pendidikan Dokter Spesialis (PPDS) Universitas Diponegoro (Undip), dr. Yudha Nabella Prameswari, dengan dugaan perundungan di lingkungan pendidikan kedokteran.
Bantahan tersebut disampaikan manajemen rumah sakit menyusul beredarnya informasi yang menyebut almarhumah menjadi korban bullying sebelum meninggal dunia.
Staf Humas RSUP Dr Kariadi Semarang, Aditya Kandu Warendra mengatakan, dr. Yudha sebelumnya memang dalam kondisi sakit. Bahkan sempat menjalani perawatan di ruang ICU Garuda RSUP Karyadi pada Agustus 2026.
“Informasi awal memang almarhumah itu kondisi sakit dan terus sempat dirawat di ICU Garuda pada Agustus. Yang bersangkutan meninggal pada 28 Agustus 2026,” ujar Aditya Kandu Warendra pada Selasa (1/9/2026).
Aditya kembali menegaskan bahwa tidak benar kabar yang menyebut dr. Yudha meninggal dunia akibat praktik bullying di lingkungan pendidikan kedokteran.
“Kalau kami lihat di data riwayat pemeriksaan di RSUP Dr Kariadi itu, (Yudha Nabella Prameswari) memang terdiagnosis sakit,” tutur Aditya.
Aditya juga menjelaskan bahwa dr. Yudha merupakan mahasiswa PPDS junior semester satu. Saat itu, almarhumah masih menjalani pembelajaran di ruang kelas dan belum diperbolehkan mengikuti praktik klinis di rumah sakit.
“PPDS junior, dia (Yudha Nabella Prameswari) belum dilepaskan untuk praktik di stase, klinik-klinik, poliklinik, rawat inap. Masih pembelajaran dalam kelas,” ungkapnya.
Advertisement
Undip Bantah Bullying
Meninggalnya dr. Yudha menjadi perhatian setelah kabar mengenai dugaan bullying beredar di media sosial. Tidak hanya RSUP Dr Kariadi yang menepis dugaan tersebut. Pihak manajemen Undip juga memberikan penjelasan mengenai kondisi dr. Yudha sebelum meninggal dunia.
Rumor yang mencuat melalui sejumlah unggahan di media sosial itu menyinggung relasi antara senior dan junior di lingkungan pendidikan dokter spesialis.
Direktorat Jejaring Media, Komunitas dan Komunikasi Publik Undip, Nurul Hasfi, mengatakan berdasarkan laporan resmi yang diterima universitas, dr. Yudha meninggal setelah menjalani perawatan di RSUP Dr Kariadi akibat demam berdarah.
“Berdasarkan laporan resmi yang diterima, dr Yudha meninggal setelah menjalani perawatan di RSUP Dr Kariadi akibat demam berdarah,” ujar Nurul Hasfi.
Nurul menjelaskan, dr. Yudha dinyatakan meninggal pada 28 Agustus 2026 pukul 19.06 WIB di ruang ICU RSUP Dr Kariadi. Sebelumnya, dia telah menjalani perawatan selama 15 hari.
Selama menjalani perawatan, kata Nurul, dr. Yudha juga didampingi oleh keluarga serta pihak Departemen dan Program Studi Undip.
“Berdasarkan laporan resmi yang diterima universitas, almarhumah meninggal dunia setelah menjalani perawatan di RSUP Dr. Kariadi karena sakit Demam Berdarah,” tandasnya.
Dr. Yudha merupakan mahasiswa PPDS semester satu Program Studi Kedokteran Jiwa Undip angkatan ke-85. Dia tercatat mulai mengikuti pendidikan pada 16 Juli 2026.
Nurul mengungkapkan, almarhumah saat itu masih berada dalam tahap orientasi dan baru menjalani perkuliahan sekitar satu setengah bulan.
Pada tahap tersebut, dr. Yudha masih mengikuti Mata Kuliah Dasar Umum (MKDU) di kelas dan belum menjalani praktik di rumah sakit.
Meski demikian, Undip tidak mengabaikan isu dugaan bullying yang berkembang. Pihak universitas menyatakan tengah melakukan klarifikasi internal untuk memperoleh gambaran secara lengkap dan objektif mengenai informasi tersebut.
“Undip saat ini tetap terus mengawal isu ini dengan melakukan klarifikasi internal. Hal itu untuk memastikan kebenaran informasi yang berkembang, serta memperoleh gambaran yang lengkap dan objektif mengenai dugaan tersebut,” terang Nurul.
Undip juga menyatakan akan terus berkoordinasi dengan RSUP Dr Kariadi dalam proses klarifikasi tersebut.
“UNDIP termasuk Fakultas Kedokteran terus berkomitmen menjaga lingkungan pendidikan yang aman, profesional, dan bebas dari segala bentuk perundungan,” pungkasnya.
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/4882760/original/022793700_1720064683-anak_korban_perang_gaza.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9328649/original/001837900_1787203589-Cek_Fakta_Tidak_Benar_Ini_Link_Pendaftaran_-_2026-08-20T122532.000.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9338392/original/039473300_1788327721-HOAX__8_.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9338391/original/066538400_1788327609-Cek_Fakta_Tidak_Benar_Ini_Link_Pendaftaran_-_2026-09-02T123903.075.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/4118964/original/062505600_1660122331-Untirta.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9338421/original/019653500_1788329149-IMG-20260902-WA0037.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9315744/original/019758300_1785885131-yurizal.webp)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9315764/original/018573500_1785893347-yurizal_ok2.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9298258/original/035850400_1784163272-Dokter_PPDS_ditemukan_tewas_di_samping_RSUD_Siak.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/7600637/original/087878800_1780384423-budi__6_.jpeg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9338171/original/056197400_1788316328-085823400_1788314031-IMG-20260901-WA0042.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5460715/original/071076300_1767273436-kereta.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/3216167/original/020626500_1598153695-20200823-Gunung-Sinabung-Kembali-Erupsi-Minggu-Pagi-AFP-2.jpg)