Masa Tanggap Darurat Bencana Banjir Sitaro Berakhir, Warga Masih Butuh Pertolongan

Masa tanggap darurat bencana banjir bandang 14 hari yang ditetapkan Pemkab Kepulauan Sitaro, Sulut, diketahui akan berakhir pada Senin (19/1/2026) besok.

Diterbitkan 18 Januari 2026, 19:12 WIB
Share
Copy Link
Batalkan

 

Liputan6.com, Sitaro - Masa tanggap darurat bencana banjir bandang 14 hari yang ditetapkan Pemkab Kepulauan Sitaro, Sulut, diketahui akan berakhir pada Senin (19/1/2026) besok. Berakhirnya masa tanggap darurat bencana bukan berarti masalah telah selesai, pasalnya di lapangan masih ada warga terdampak yang masih butuh pertolongan.

Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Sitaro Utara menyebutkan warga terdampak banjir bandang Pulau Siau yang terjadi Senin (5/1/2026) dini hari, mencapai 1.377 orang atau sebanyak 472 kepala keluarga.

"Ada yang mengungsi secara mandiri, ke gereja-gereja serta bangunan lainnya," kata Kepala Bidang Kedaruratan BPBD Kepulauan Sitaro, Sonny Belseran.

Sonny menyebutkan, warga kampung terdampak bencana banjir bandang tersebut tersebar di Kecamatan Siau Barat Selatan, Kecamatan Siau Barat, Kecamatan Siau Timur dan Kecamatan Siau Timur Selatan.

Di Kecamatan Siau Barat Selatan (Kampung/Kelurahan Batusenggo, Laghaeng dan Makoa), keluarga terdampak sebanyak 563 orang (197 kepala keluarga).

"Selanjutnya, di Kecamatan Siau Barat yang mencakup kampung/kelurahan Paniki, Peling, Bumbiha dan Paseng, keluarga terdampak sebanyak 494 orang atau 160 kepala keluarga," katanya.

Sementara di Kecamatan Siau Timur di kampung/kelurahan Bahu, keluarga terdampak sebanyak 309 orang (111 kepala keluarga), di Kecamatan Siau Timur Selatan, kampung/kelurahan Bandil sebanyak 11 orang atau 4 kepala keluarga.

Sonny menjelaskan, korban banjir bandang yang mengungsi di Kecamatan Siau Timur sebanyak 258 orang, di Kecamatan Siau Barat (219 orang), di Kecamatan Siau Barat Selatan (104).

Sejumlah lokasi yang dijadikan tempat mengungsi yaitu Gereja GMIST Eden dan Gereja KGPM Batusenggo, Gereja GMIST Betel, Gereja Filadelfia, Gereja GPKAI Peling, Pos I Peling, Gereja Bethabara Paseng, Gereja Advent dan Posko Museum Bahu.

 

Pangkoarmada RI Tinjau Pulau Siau

Panglima Komando Armada Republik Indonesia (Pangkoarmada RI) Laksdya TNI Denih Hendrata didampingi Dankodaeral VIII Laksda TNI Dery Triesananto dan Pangkoarmada II Laksda TNI I G.P. Alit Jaya meninjau daerah terdampak banjir bandang di Pulau Siau, Kabupaten Kepulauan Siau Tagulandang Biaro (Sitaro) pada akhir pekan lalu.

"Rombongan bertolak menuju lokasi menggunakan KRI WSH-991, KRI AMY-351, KRI SLR-879 sebagai bagian dari dukungan TNI Angkatan Laut dalam penanggulangan bencana alam," kata Kadispen Kodaeral VIII Letkol Laut (P) Rudi Tandirerung.

Setibanya di Dermaga Ulu, Kepulauan Siau, Pangkoarmada RI beserta rombongan disambut Bupati Chyntia I. Kalangit dan Forkopimda Sitaro melaksanakan sejumlah kegiatan.

Kegiatan diawali dengan peninjauan Posko Siaga Bencana Kodaral VIII, peninjauan dapur umum dari Yonbekang Kodam XIII/Mdk, serta tempat penampungan sementara pengungsi korban bencana di Museum Ulu Siau Kelurahan Tarorane, Kecamatan Siau Timur.

Selanjutnya, Pangkoarmada RI beserta rombongan melaksanakan peninjauan langsung ke daerah terdampak bencana alam di Desa Bahu.

"Peninjauan ini bertujuan untuk melihat secara langsung kondisi lapangan, dampak kerusakan yang terjadi, serta kebutuhan mendesak masyarakat setelah bencana guna menentukan langkah tindak lanjut yang tepat dan terukur," ujarnya.

Selesai dari lokasi bencana, kemudian meninjau Posko Bantuan Pemerintah Kepulauan Siau dan menyerahkan bahan pokok secara simbolis kepada Bupati Kepulauan Sitaro di gedung Perpustakaan Daerah Kelurahan Ondong.

"Kegiatan penyerahan bantuan tersebut dilaksanakan sebagai wujud kepedulian dan dukungan TNI AL kepada pemerintah daerah serta masyarakat yang terdampak bencana alam di Desa Kelurahan Bahu, Kecamatan Siau Timur, Kepulauan Sitaro," ujarnya.

Dankodaeral VIII menegaskan kesiapan jajaran untuk terus bersinergi dan mendukung kebijakan Pangkoarmada RI dalam penanggulangan bencana alam.

"Kegiatan ini juga memastikan kehadiran negara melalui TNI Angkatan Laut dalam membantu masyarakat dan mempercepat proses pemulihan di wilayah terdampak," katanya.Â