Perbedaan Galodo di Solok dan Banjir Biasa, Kenali Penyebab serta Karakteristiknya

Kenali perbedaan galodo di Solok dan banjir biasa, mulai dari pengertian, penyebab, material yang terbawa, hingga risiko bencana di Sumbar.

Diterbitkan 24 September 2026, 14:45 WIB
Share
Copy Link
Batalkan

Liputan6.com, Jakarta - Banjir dan galodo sama-sama dapat mengancam keselamatan warga serta merusak rumah, jalan, dan fasilitas umum. Namun, keduanya memiliki karakteristik yang berbeda, terutama dari segi material yang terbawa dan kondisi wilayah yang terdampak.

Istilah galodo di Solok kembali menjadi perhatian ketika bencana hidrometeorologi melanda sejumlah wilayah Sumatera Barat. Untuk memahami risikonya, penting mengetahui apa itu galodo, arti galodo, dan perbedaannya dengan banjir biasa.

Berikut ulasan lengkap Liputan6.com tentang perbedaan galodo di Solok Sumatera Barat dan banjir biasa merangkum dari berbagai sumber, Kamis (24/9).

Apa Itu Galodo? Kenali Arti Galodo

Sebelum membahas perbedaannya dengan banjir biasa, penting memahami pengertian galodo yang digunakan di Sumatera Barat.

Menurut Majalah Resiliensi BNPB edisi kedua, September 2024, istilah galodo dalam Kamus Minangkabau-Indonesia (1985) memiliki arti tanah terbang yang berbatu-batu dan tanah longsor. Dalam perkembangannya, galodo juga digunakan untuk menyebut banjir bandang atau banjir lahar dingin yang terjadi di lereng Gunung Marapi.

Dengan demikian, arti galodo tidak hanya merujuk pada air yang meluap, tetapi juga berkaitan dengan material tanah, batu, dan material lain yang dapat terbawa aliran deras.

Dalam konteks bencana di Sumbar, istilah ini sering digunakan masyarakat untuk menggambarkan kejadian banjir bandang, termasuk aliran material vulkanik atau sedimen dari kawasan gunung.

Perbedaan Galodo di Solok dan Banjir Biasa

Perbedaan utama galodo dan banjir biasa terletak pada karakteristik alirannya, material yang terbawa, serta kondisi wilayah yang menjadi jalur bencana. Keduanya bisa dipicu oleh hujan deras, tetapi dampak dan mekanisme kejadiannya tidak selalu sama.

1. Material yang Dibawa Aliran Air

Pada banjir biasa, air dapat menggenangi jalan, halaman rumah, permukiman, atau lahan pertanian. Aliran air bisa membawa lumpur dan sampah, tetapi tingkat material yang terbawa bergantung pada kondisi wilayah serta sumber banjir.

Sementara itu, galodo dapat membawa material dalam jumlah besar, seperti batu, pasir, lumpur, tanah, dan kayu. Campuran air dan material tersebut dapat bergerak deras sehingga berpotensi merusak bangunan dan infrastruktur yang berada di jalurnya.

Dalam penjelasan BNPB, galodo di kawasan Gunung Marapi berkaitan dengan banjir lahar hujan dan aliran material dari wilayah gunung.

2. Penyebab dan Kondisi Wilayah

Banjir biasa dapat terjadi karena hujan dengan intensitas tinggi, kapasitas drainase yang tidak mencukupi, luapan sungai, atau kondisi lain yang menyebabkan air menggenang.

Galodo di wilayah pegunungan memiliki keterkaitan dengan kondisi lereng, aliran sungai, serta material yang tersedia di kawasan hulu. Ketika hujan deras terjadi, air dapat mengangkut material lepas dari lereng atau jalur aliran.

Namun, tidak semua banjir di wilayah Solok otomatis merupakan galodo. Jenis bencana perlu dilihat berdasarkan karakteristik kejadian dan laporan dari pihak berwenang.

3. Kecepatan Aliran dan Risiko Kerusakan

Banjir biasa dapat berlangsung secara bertahap, meskipun dalam kondisi tertentu luapan air juga bisa terjadi dengan cepat.

Galodo atau banjir bandang dapat datang secara tiba-tiba dan membawa material yang meningkatkan daya rusak aliran. Kondisi ini membuat warga yang tinggal di dekat sungai, lereng, atau jalur aliran material perlu memperhatikan peringatan dan informasi kebencanaan.

BNPB menekankan pentingnya sistem peringatan dini untuk banjir lahar hujan atau galodo, termasuk pemantauan kondisi aliran sungai.

4. Wilayah yang Berpotensi Terdampak

Banjir biasa dapat terjadi di berbagai wilayah, seperti dataran rendah, kawasan perkotaan, permukiman dekat sungai, dan daerah dengan sistem drainase yang kurang mampu menampung air.

Galodo berkaitan dengan jalur aliran yang membawa air dan material dari kawasan hulu. Karena itu, wilayah yang berada di sekitar sungai atau jalur aliran dari lereng gunung juga dapat menghadapi risiko.

Di Sumatera Barat, BNPB telah melakukan penguatan mitigasi dan survei sistem peringatan dini galodo di sejumlah wilayah yang terdampak, termasuk kawasan sekitar Gunung Marapi.

Perbedaan Galodo dan Banjir Biasa

Galodo dan banjir biasa memiliki karakteristik yang berbeda, mulai dari material yang terbawa hingga risiko kerusakan. Berikut perbandingan keduanya:

Aspek Galodo Banjir Biasa
Karakteristik Dapat berupa banjir bandang atau aliran material bercampur air. Genangan atau luapan air yang dapat terjadi di berbagai wilayah.
Material Bisa membawa batu, pasir, lumpur, tanah, dan kayu. Material yang terbawa bergantung pada sumber serta kondisi banjir.
Wilayah Sering dikaitkan dengan jalur aliran dari lereng atau kawasan hulu. Dapat terjadi di dataran rendah, perkotaan, dan sekitar sungai.
Kecepatan Dapat datang secara tiba-tiba dan mengalir deras. Bervariasi, mulai dari genangan bertahap hingga luapan cepat.
Risiko Aliran air bercampur material dapat meningkatkan daya rusak. Risiko bergantung pada kedalaman, arus, durasi, dan kondisi lingkungan.

Catatan: Tabel ini merupakan perbandingan karakteristik umum, bukan batasan mutlak untuk setiap kejadian. Banjir biasa juga dapat berarus deras dan menimbulkan kerusakan berat.

Galodo di Solok, Mengapa Perlu Diwaspadai?

Galodo di Solok menjadi perhatian karena wilayah ini memiliki kawasan perbukitan dan pegunungan yang terhubung dengan aliran sungai serta permukiman masyarakat.

Dalam laporan BNPB pada 22 September 2026, banjir bandang melanda Nagari Batang Barus, Kecamatan Gunung Talang, Kabupaten Solok, setelah hujan dengan intensitas tinggi. Kejadian tersebut mengakibatkan kerusakan rumah, fasilitas umum, dan jembatan, serta menimbulkan korban jiwa dan warga yang masih dalam pencarian pada saat laporan diperbarui.

Peristiwa tersebut menunjukkan pentingnya memahami karakteristik banjir bandang di daerah Solok. Meski demikian, istilah galodo perlu digunakan sesuai konteks dan keterangan resmi mengenai kejadian yang dilaporkan.

Galodo di Sumbar dan Riwayat Kejadian yang Berulang

Galodo di Sumbar bukan fenomena yang hanya dibahas setelah satu kejadian. Masyarakat di sejumlah wilayah sekitar Gunung Marapi memiliki cerita turun-temurun mengenai bencana serupa.

Majalah Resiliensi BNPB September 2024 mencatat kisah kejadian galodo pada 1901, 1926, 1952, 1979, 2009, dan 11 Mei 2024. Catatan tersebut memperlihatkan adanya rentang waktu yang berbeda antar kejadian. BNPB juga menegaskan bahwa pola rentang waktu itu bukan hal yang mutlak, tetapi dapat menjadi bahan untuk meningkatkan kesiapsiagaan menghadapi risiko bencana ke depan.

Artinya, masyarakat tidak sebaiknya menganggap galodo hanya akan terjadi setelah jangka waktu tertentu. Kesiapsiagaan perlu didasarkan pada pemantauan kondisi hujan, lingkungan, aliran sungai, dan informasi resmi kebencanaan.

Ciri-Ciri yang Perlu Diperhatikan Saat Risiko Galodo Meningkat

Mengenali kondisi sekitar dapat membantu warga mengambil tindakan lebih cepat ketika ada potensi bencana. Beberapa hal yang perlu diperhatikan antara lain:

Hujan deras di kawasan hulu atau pegunungan. Hujan dengan intensitas tinggi dapat meningkatkan aliran air dan risiko material terbawa.

Perubahan kondisi aliran sungai. Perubahan tinggi muka air dan kondisi aliran dapat menjadi bagian dari pemantauan peringatan dini.

Suara gemuruh dari arah sungai atau lereng. Suara yang tidak biasa perlu diwaspadai, terutama jika disertai hujan deras dan perubahan kondisi lingkungan.

Informasi peringatan dari petugas. Warga perlu mengikuti arahan evakuasi dan informasi resmi dari BPBD atau pihak berwenang.

Dalam kisah warga yang dimuat BNPB dalam Majalah Resiliensi edisi kedua September 2024, suara gemuruh dan pengalaman terhadap kejadian galodo sebelumnya menjadi bagian dari kewaspadaan masyarakat. Namun, tanda-tanda tersebut tidak dapat dijadikan satu-satunya alat untuk memastikan bencana akan terjadi.

Cara Mengurangi Risiko Galodo dan Banjir di Lingkungan Rumah

Masyarakat yang tinggal di daerah rawan bencana dapat melakukan beberapa langkah kesiapsiagaan.

1. Kenali Jalur Evakuasi

Ketahui jalur menuju tempat yang lebih aman dan lokasi pengungsian yang ditetapkan oleh pemerintah setempat. Pastikan anggota keluarga mengetahui rute tersebut.

2. Hindari Membangun Rumah di Jalur Rawan

Hindari pembangunan rumah atau kandang ternak di pinggir sungai maupun area yang berpotensi menjadi jalur aliran material. Penentuan lokasi yang aman perlu mempertimbangkan informasi kerawanan bencana dan arahan pihak berwenang.

BNPB juga memuat pesan kesiapsiagaan masyarakat, termasuk imbauan untuk tidak membangun tempat tinggal dan kandang ternak di pinggir sungai.

3. Perhatikan Informasi Cuaca dan Peringatan Dini

Pantau informasi hujan dan peringatan kebencanaan dari sumber resmi. Sistem peringatan hujan tidak selalu sama dengan sistem peringatan khusus banjir lahar atau galodo, sehingga warga perlu memahami informasi yang dikeluarkan untuk wilayahnya.

4. Siapkan Barang Penting untuk Evakuasi

Simpan dokumen penting, obat-obatan pribadi, air minum, senter, dan kebutuhan dasar dalam tempat yang mudah dibawa jika harus meninggalkan rumah.

Pertanyaan Seputar Galodo di Solok

1. Apa itu galodo?

Galodo merupakan istilah Minangkabau yang secara historis berkaitan dengan tanah berbatu yang bergerak atau longsor. Dalam penggunaannya di Sumatera Barat, istilah ini juga merujuk pada banjir bandang atau banjir lahar dingin, terutama di kawasan sekitar Gunung Marapi.

2. Apa arti galodo dalam bahasa Minangkabau?

Menurut kutipan Majalah Resiliensi BNPB edisi September 2024, arti galodo dalam Kamus Minangkabau-Indonesia (1985) adalah tanah terbang yang berbatu-batu dan tanah longsor. Dalam perkembangannya, istilah tersebut digunakan untuk menyebut peristiwa banjir bandang atau banjir lahar dingin di lereng Gunung Marapi.

3. Apakah semua banjir di Solok disebut galodo?

Tidak selalu. Galodo merupakan istilah yang digunakan untuk karakteristik kejadian tertentu, khususnya yang berkaitan dengan banjir bandang atau aliran material. Penentuan jenis bencana perlu mengacu pada kondisi kejadian dan laporan resmi dari pihak berwenang.

Baca informasi kesehatan terbaru di Kesehatan Liputan6