Tanah Retak Sepanjang 13 Meter, Akses Warga Kampung Cibadak Sukabumi Terputus Usai Hujan Ekstrem

Pergeseran tanah terjadi di Kampung Cicadas, Desa Neglasari, Kecamatan Cibadak, Kabupaten Sukabumi, Jawa Barat (Jabar) pada Kamis malam 20 November 2025.

Diterbitkan 21 November 2025, 19:30 WIB
Share
Copy Link
Batalkan

Liputan6.com, Jakarta - Pergeseran tanah terjadi di Kampung Cicadas, Desa Neglasari, Kecamatan Cibadak, Kabupaten Sukabumi, Jawa Barat (Jabar) pada Kamis malam 20 November 2025.

Kejadian ini dipicu oleh curah hujan deras yang mengguyur wilayah tersebut. Intensitas hujan yang tinggi selama beberapa hari terakhir diduga kuat menjadi penyebab pergeseran tanah ini.

Dampaknya, jalan lingkungan di lokasi tersebut bergeser hingga 20 sentimeter dengan panjang retakan mencapai 13 meter.

Kejadian tersebut dibenarkan oleh anggota Petugas Penanggulangan Bencana Kecamatan (P2BK) Cibadak Daming.

"Hujan sejak kemarin siang hingga malam tadi, mengakibatkan tanah bergeser hingga 20 sentimeter, panjang retakan ada 13 meter," ujar Daming pada Jumat (21/11/2025).

Ia menjelaskan, meskipun pergerakan tanah ini tidak menimbulkan korban jiwa dan tidak ada warga yang terpaksa mengungsi, retakan yang memanjang telah mengganggu akses transportasi warga dan memerlukan penanganan segera.

"Alhamdulillah tidak ada korban dan warga mengungsi, hanya saja retakan memanjang akses warga terganggu," tandas Daming.

Hingga kini, upaya perbaikan darurat sedang dilakukan oleh Babinsa, aparat desa, Ketua RT/RW, dan warga setempat. Mereka menutup retakan dengan material seadanya untuk mencegah kerusakan meluas.

Sebelumnya, akses utama yang menghubungkan Kecamatan Warungkiara dan Bantargadung, Kabupaten Sukabumi, terputus total setelah jembatan sementara yang dibangun warga di Desa Tarisi hanyut diterjang luapan Sungai Cicareuh pada Kamis 20 November 2025.

Jembatan darurat dari bambu tersebut tak mampu menahan debit air yang sangat deras menyusul hujan berintensitas tinggi yang mengguyur wilayah tersebut.

 

Jembatan Darurat di Sukabumi Putus Diterjang Luapan Sungai, Warga Harus Cari Jalur Alternatif

Padahal, jembatan ini merupakan satu-satunya jalur penghubung penting bagi ratusan warga Desa Tarisi dan Hegarmanah, yang kini harus mencari jalan alternatif dengan jarak yang jauh lebih memutar.

"Tarisi dan Hegarmanah untuk melintas? Jembatannya sudah tidak ada, terbawa arus," ujar Kepala Desa Tarisi, H. Sutendi, menyampaikan kekecewaannya melalui unggahan video saat meninjau lokasi, Kamis 20 November 2025.

Jembatan bambu itu sengaja didirikan sebagai solusi sementara sambil menanti rampungnya proyek jembatan permanen yang dikerjakan Dinas Perumahan dan Kawasan Permukiman (Disperkim) Kabupaten Sukabumi.

Namun, proyek pembangunan jembatan permanen tersebut mengalami keterlambatan signifikan. Sudah tiga bulan berjalan sejak Surat Perintah Kerja (SPK) diterbitkan pada 7 Agustus 2025, tetapi konstruksi jembatan belum juga selesai.

 

Minta Pembangunan Jembatan Dipercepat

Sutendi secara khusus mendesak agar proyek jembatan permanen dipercepat, mengingat kebutuhan mendesak masyarakat untuk aktivitas sehari-hari, seperti bekerja, sekolah, dan mengangkut hasil pertanian.

"Ini jembatan yang lagi dibangun tolong disegerakan, kasihan warga semuanya. Ini sudah tiga bulan belum selesai-selesai. Sekarang warga saya mau lewat mana?," terang dia.

Mengingat situasi darurat ini, Pemerintah Desa Tarisi mengeluarkan imbauan resmi kepada seluruh warga.

"Diimbau untuk tidak melintas hari ini dan besok sampai selesainya proyek jembatan, karena kami sudah tidak punya jembatan sama sekali," jelas Sutendi.

Ia berharap pihak terkait segera menyelesaikan jembatan tersebut agar akses warga Desa Tarisi dan Hegarmanah bisa kembali normal.