Peringatan Hari Pariwisata Dunia 2025 di Bali: Antara Wisata dan Aksi Iklim

Kualitas destinasi bukan lagi dari jumlah bintang hotelnya, melainkan dari seberapa baik lingkungan dijaga.

Diterbitkan 10 Oktober 2025, 17:12 WIB
Share
Copy Link
Batalkan

Liputan6.com, Bali - Hari Pariwisata Dunia atau World Tourism Day seri ke-3 yang mengusung tema global "Tourism and Climate Action', digelar Kamis (8/10/2025) di The Meru Sanur-Bali.

Hadir dalam acara tersebut lebih dari 300 pemangku kepentingan lintas sektor, mulai dari perwakilan pemerintah, pelaku industri perhotelan, asosiasi, komunitas, dan mitra keberlanjutan yang bersatu dalam misi bersama, yakni menjadikan pariwisata sebagai bagian dari solusi iklim.

Perayaan tahun ini menegaskan pentingnya kolaborasi dan komitmen untuk memastikan keberlanjutan dalam pariwisata tidak berhenti pada pernyataan semata, tetapi diwujudkan dalam tindakan nyata yang terukur dan berdampak positif bagi lingkungan dan masyarakat.

Ibu Ni Luh Puspa, Wakil Menteri Pariwisata, yang menekankan, saat ini, wisatawan global semakin sadar, kualitas destinasi bukan lagi dari jumlah bintang hotelnya, melainkan dari seberapa baik lingkungan dijaga, seberapa besar masyarakat lokal terlibat dan diberdayakan, serta bagaimana seluruh sektor dikelola dengan transparansi dan akuntabilitas.

“Inilah makna baru dari ‘premium’, pariwisata yang berkualitas, adil, dan berkelanjutan. Aset terbesar Bali bukan hanya pantai atau sawahnya, tetapi rakyatnya yang menjaga harmoni antara alam dan budaya. Ini adalah harta tak ternilai yang harus kita jaga bersama,” katanya.

Dua inisiatif penting juga diluncurkan, pertama, Sustainable Procurement Guideline untuk HORECA, yakni bekerja sama dengan Kopernik dan KEM (Koalisi Ekonomi Membumi), Eco Tourism Bali memperkenalkan panduan komprehensif untuk membantu hotel, restoran, kafe, dan pemasoknya membangun rantai pasok yang benar-benar berkelanjutan.

Kedua, Eco Climate Badge 2.0 untuk hotel, yakni versi terbaru dari program verifikasi keberlanjutan Eco Tourism Bali ini kini mengintegrasikan prinsip ESG (Environment, Social, and Governance). Dengan pendekatan yang lebih holistik, badge ini memperkuat kapasitas bisnis pariwisata lokal untuk mengukur dan mengkomunikasikan dampak keberlanjutannya dengan transparansi dan kredibilitas lebih tinggi.

Kedua alat tersebut dirancang untuk mempercepat penerapan praktik ramah iklim dan bertanggung jawab sosial di seluruh ekosistem pariwisata.

Co-Founder Eco Tourism Bali Suzy Hutomo, menyoroti perjalanan organisasi selama empat tahun dari membangun kesadaran hingga mendorong aksi nyata untuk iklim dalam sektor pariwisata.

“Hari ini, kita sudah melangkah lebih jauh dari sekadar kesadaran. Kita mengambil tindakan nyata dan menyediakan alat praktis agar bisnis dapat menerapkan keberlanjutan dengan kredibilitas dan dampak yang terukur,” ujarnya.

Dalam acara tersebut juga digelar diskusi panel dengan para pemimpin perhotelan berkelanjutan, serta sesi lintas generasi bersama Melati Wijsen, aktivis muda iklim, yang berbagi bagaimana suara generasi muda membentuk bisnis dan industri menuju masa depan hijau yang berkelanjutan. Selain itu, Eco Games for Young Makers juga digelar sebagai tantangan interaktif yang mengajak peserta berkreasi melindungi lingkungan.

 

Jaga Keindahan Alam Bali

Eco Tourism Bali bekerja sama dengan The Meru Sanur juga untuk mengadakan kegiatan edukatif untuk anak-anak Banjar setempat, untuk menanamkan nilai pentingnya menjaga keindahan alam Bali untuk hutan, laut, dan pesisirnya.

“Masa depan pariwisata Bali bergantung pada seberapa baik kita melindungi apa yang kita cintai hari ini,” tutupnya.

Sedangkan Fito Rahdianto, Executive Director Koalisi Ekonomi Membumi (KEM) menyampaikan, melalui kolaborasi dengan Eco Tourism Bali, KEM berupaya memastikan keberlanjutan tidak hanya menjadi aspirasi, tetapi praktik nyata yang memperkuat bioekonomi bertanggung jawab di Indonesia, memberdayakan masyarakat lokal, dan melindungi sumber daya alam.

Melalui Sustainable Procurement Guideline dan Business Matching Session, KEM juga menghadirkan jejaring perusahaan ke dalam ekosistem bisnis pariwisata untuk mempercepat rantai pasok tangguh terhadap iklim.

Margareth Meutia, Manager Consumer Campaign and Engagement Rainforest Alliance Indonesia yang memimpin implementasi ACT! Project menyebutkan, pihaknya ingin mengurangi dampak sosial dan lingkungan negatif dari konsumsi pangan domestik, khususnya kopi, cokelat, teh, dan minyak sawit melalui transformasi di sektor pariwisata dan ritel.

“Perayaan Hari Pariwisata Dunia menjadi momentum yang relevan untuk berbagi inisiatif dan kolaborasi ini,” katanya.