Liputan6.com, Jakarta - Semakin banyak turis asing berakhir menjadi tunawisma di jalanan Bangkok, Thailand. Demikian, hasil investigasi yang dilakukan The Disclosed.
Dikutip dari The Nation, Jumat (26/6/2026), Issarachon Foundation melaporkan, krisis ini dipicu oleh kombinasi berbagai faktor, seperti penipuan, kehilangan pekerjaan secara mendadak, dan kurangnya persiapan sebelum berangkat ke Thailand.
Ketika para wisatawan tersebut kehabisan uang, mereka kemudian terjebak dalam persoalan hukum. Tanpa dana, mereka tidak mampu membeli tiket pesawat untuk pulang ke negara asal sehingga masa berlaku visa mereka habis. Akibatnya, mereka menjadi pendatang tanpa dokumen yang tidak dapat bekerja secara legal, menyewa tempat tinggal, maupun memperoleh layanan kesehatan.
Advertisement
Perjalanan menuju kondisi tunawisma sering kali berawal dari kesalahan perhitungan yang dipengaruhi oleh media sosial. Selain itu, dengan aturan imigrasi yang kini tidak lagi mewajibkan banyak jaminan finansial saat masuk ke Thailand, banyak wisatawan datang hanya dengan cadangan dana yang sangat terbatas.
"Saya benar-benar percaya hal itu ada kaitannya," kata Friso Poldervaart, salah satu pendiri Bangkok Community Help Foundation, ketika menanggapi aturan perbatasan Thailand yang relatif longgar.
"Persyaratan masuk ke Thailand saat ini memang sedikit terlalu longgar. Sangat mudah untuk masuk dan tinggal dalam waktu lama. Mereka tidak meminta tiket pulang, dan biasanya juga tidak memeriksa apakah Anda memiliki dana yang cukup. Banyak orang datang tanpa persiapan sama sekali," ujar Poldervaart.
Dalam kurun waktu delapan bulan, Bangkok Community Help Foundation saja telah menemukan dan membantu sekitar 45 warga negara asing yang menjadi tunawisma.
Angka tersebut hanya mencakup mereka yang secara aktif meminta bantuan atau dirujuk langsung oleh kedutaan besar negara masing-masing. Para pemerhati sosial memperingatkan bahwa jumlah sebenarnya diperkirakan jauh lebih besar karena banyak kasus yang tidak pernah tercatat.
Jadi Korban Penipuan Kripto hingga Asmara
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/6382754/original/076302200_1779257959-000_34LX8MW.jpg)
Anggapan bahwa tunawisma terjadi karena warga asing hanya berpesta berlebihan atau sekadar enggan pulang ke negaranya tidak sepenuhnya sesuai. Sebab, banyak dari mereka menjadi korban kejahatan modern.
Sebagian besar wisatawan yang terdampar ternyata menjadi korban penipuan asmara (romance scam) atau penipuan investasi mata uang kripto yang menghabiskan seluruh tabungan mereka.
Ketika bank internasional mendeteksi adanya aktivitas mencurigakan tersebut, rekening nasabah biasanya langsung dibekukan demi alasan keamanan. Untuk membuka kembali akses rekening, pihak bank umumnya mengharuskan nasabah datang langsung ke kantor cabang di negara asal.
Kondisi ini menciptakan situasi yang nyaris mustahil. Wisatawan yang terdampar membutuhkan uang untuk membeli tiket pesawat pulang dari Thailand. Namun karena rekening mereka dibekukan, mereka tidak memiliki akses terhadap dana tersebut. Akibatnya, mereka tidak mampu membeli tiket dan terpaksa tinggal melebihi batas waktu yang diizinkan.
Begitu visa mereka habis masa berlakunya, situasi tersebut berubah menjadi persoalan hukum yang serius. Dari semula menjadi korban kejahatan, mereka justru berubah menjadi pelanggar hukum berdasarkan aturan imigrasi Thailand.
"Tren ini merupakan tantangan baru yang terus berkembang bagi otoritas pemerintah," ujar Sekretaris Jenderal Issarachon Foundation, Adchara Saravari.
Adchara juga menjelaskan bahwa kelompok lain yang rentan adalah para pensiunan asing yang telah menjual seluruh aset mereka di negara asal demi mewujudkan impian hidup di Thailand. Jika investasi mereka gagal atau rencana hidup mereka tidak berjalan sesuai harapan, mereka tidak lagi memiliki cadangan keuangan sama sekali.
Begitu seseorang menjadi pendatang tanpa dokumen, mereka praktis menjadi "tidak terlihat" di mata masyarakat. Mereka dilarang bekerja secara legal, tidak dapat menyewa tempat tinggal, dan kehilangan akses terhadap layanan kesehatan publik.
Advertisement
Penampungan Centre of Dreams
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/2834780/original/080484900_1561188019-20190622-Damnoen-Saduak-Thailand-7.jpg)
Di tengah krisis tersebut terdapat Centre of Dreams, sebuah tempat penampungan yang dikelola Bangkok Community Help Foundation.
Fasilitas ini awalnya dibangun untuk menyediakan tempat tinggal yang aman bagi warga Thailand yang kehilangan tempat tinggal. Namun tanpa diduga, tempat ini kini berkembang menjadi pusat bantuan bagi warga asing yang terdampar.
Saat ini, penghuni pusat tersebut berasal dari berbagai negara, termasuk Jerman, Amerika Serikat, Jepang, dan negara-negara lainnya.
Salah satunya adalah "Jane", warga negara Amerika Serikat berusia 57 tahun. Namanya disamarkan untuk melindungi privasinya.
"Tepat sebelum saya menemukan Centre of Dreams, saya benar-benar tidak yakin bisa bertahan," kenang Jane.
"Saya berpikir mungkin saya akan meninggal di Thailand karena saya bisa merasakan jantung saya bekerja sangat keras ketika berjalan menuju kuil untuk mendapatkan makanan. Saya mulai menyadari tubuh saya benar-benar kehabisan tenaga. Kemungkinan saya mengalami kekurangan gizi dan dehidrasi."
Sebelum pindah ke Thailand, ia memiliki pekerjaan yang mapan di Wall Street. Kemudian ia beralih menjadi konselor daring dan menjalani pekerjaan tersebut selama lima tahun.
Karena pekerjaannya dapat dilakukan dari mana saja, ia memutuskan pindah ke Thailand. Namun, hanya tiga hingga empat minggu setelah tiba, ia secara mendadak kehilangan pekerjaannya.
Kondisi keuangannya langsung memburuk karena tabungannya telah digunakan untuk membayar perjalanan yang tidak dapat dibatalkan ke Filipina dan Kuala Lumpur.
Ketika rekeningnya benar-benar kosong, ia tidak lagi mampu membayar biaya tempat tinggal maupun denda akibat masa tinggal yang melebihi batas visa.
"Banyak orang menyarankan saya tinggal di kuil Buddha. Tetapi saya merasa jika tinggal di sana, seolah-olah saya akan menetap selamanya. Itu bukan tujuan saya. Saya ingin pulang ke rumah dan mendapatkan pekerjaan. Menganggur dan menjadi tunawisma bukanlah rencana hidup saya," kata Jane.
Baginya, mengetahui bahwa begitu banyak warga asing lain mengalami nasib serupa merupakan kejutan besar.
Ia mengatakan bahwa sesama tunawisma asing kemudian menghampirinya di jalan dan memberi tahu tempat-tempat yang aman untuk beristirahat atau sofa yang bisa digunakan untuk tidur. Pengalaman itu membuatnya menyadari bahwa ia bukan satu-satunya orang yang berada dalam situasi tersebut.
Sistem Perlidungan Warga Asing
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/4286085/original/051862200_1673266023-Dengan_harapan_besar__Thailand_menyambut_kembalinya_turis_China-AP__2_.jpg)
Persoalan mendasar dalam krisis ini adalah tidak adanya sistem perlindungan sosial resmi bagi warga negara asing di Thailand.
Berbagai organisasi nonpemerintah (LSM) terus berupaya menjadi penghubung dengan menghabiskan waktu berbulan-bulan untuk mengoordinasikan proses pemulangan bersama keluarga, maskapai penerbangan internasional, dan kantor konsuler negara asal. Namun mereka bekerja dalam situasi yang belum memiliki kerangka regulasi yang jelas.
Di sisi lain, kedutaan besar negara asing bekerja berdasarkan aturan birokrasi yang ketat. Mereka umumnya tidak memiliki anggaran maupun kewenangan untuk memberikan tiket pesawat komersial secara gratis kepada warga negaranya yang terdampar.
Selama proses verifikasi identitas dan koordinasi dengan keluarga berlangsung, organisasi nonpemerintah menjadi satu-satunya pihak yang membantu para warga asing tersebut tetap bertahan hidup dan tidak terus berada di jalanan.
Seiring Thailand semakin gencar mempromosikan sektor pariwisata untuk menarik lebih banyak wisatawan mancanegara, muncul pertanyaan mengenai tanggung jawab ketika seorang pelancong asing mengalami situasi seperti ini. Apakah tanggung jawab berada di pihak kedutaan negara asal, individu yang tidak memiliki rencana cadangan, atau negara tujuan yang memperoleh manfaat ekonomi dari kebijakan perbatasan yang terbuka?
Hingga terbentuk kerangka kerja sama yang melibatkan korps diplomatik internasional dan lembaga pemerintah Thailand seperti Kementerian Pembangunan Sosial dan Keamanan Manusia, para wisatawan asing yang kehilangan arah diperkirakan akan terus ditemukan di jalanan negara yang selama ini dikenal sebagai surga wisata.
Advertisement
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8528276/original/060137100_1782459682-Cek_Fakta_Tidak_Benar_Ini_Link_Pendaftaran_-_2026-06-26T143742.924.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8259258/original/056986600_1781493541-3549582318816429688.jpeg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8519902/original/067689300_1782446978-Tugas__41_.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8520488/original/002175600_1782447973-Cek_Fakta_Tidak_Benar_Ini_Link_Pendaftaran_-_2026-06-26T112427.080.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/avatars/413/original/067947800_1469525472-mevi.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/2233834/original/073695400_1527752900-20180531-Thailand-Tutup-Wisata-Unggulan-Maya-Bay-Selama-Empat-Bulan-AP-5.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/1412040/original/046833700_1479720100-thailand.jpg)

:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/1414454/original/039986100_1479885753-Bangkok.jpg)

:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8256534/original/027399300_1781161052-Vertical_500x656_-_Pentas_Bola_Dunia_2026__3_.png)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8264097/original/098152700_1782090739-AP26172582885325.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/4891677/original/000043600_1721008752-10_AP24196756280349.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8504143/original/019730100_1782424741-jerman.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8260740/original/033303400_1781654609-063_2281951293.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8380798/original/058541300_1782259430-Didier_Deschamps.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/934935/original/034536700_1437647124-AP_173328494831.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8264147/original/086220300_1782096373-063_2282523599.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/916085/original/009668100_1435788780-Cover.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8261449/original/024360400_1781704034-000_B7CB6XN.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8530300/original/023508000_1782462492-AP26175847717345.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8528304/original/000911800_1782459714-AP26177049351866.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5448078/original/040755400_1765983961-Barcelona-Pau-Cubarsi.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8338677/original/007228800_1782210512-61dnX_3f.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8305200/original/089109800_1782170597-dadan.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5564499/original/097351100_1776946494-1000723469.jpg)