Korban Tewas Penembakan Sekolah di Thailand Bertambah Jadi 8 Orang

Jumlah koban tewas akibat penembakan sekolah di Thailand bertambah menjadi 8 orang.

Diterbitkan 08 Agustus 2026, 20:51 WIB
Share
Copy Link
Batalkan

Liputan6.com, Bangkok - Seorang siswi berusia 12 tahun meninggal dunia setelah sempat dirawat akibat luka kritis, sehari setelah seorang siswa melepaskan tembakan di sebuah sekolah menengah dan rumahnya di luar Bangkok, Thailand. Korban tersebut menambah jumlah korban tewas dalam penembakan menjadi sedikitnya delapan orang.

Dikutip dari Associated Press, Sabtu (8/8/2026), penembakan terjadi pada Jumat sekitar pukul 10.00 waktu setempat di Debsirin Nonthaburi School, Provinsi Nonthaburi, di barat laut Bangkok. Pelaku yang berusia 14 tahun diduga kemudian mengakhiri hidupnya sendiri.

Sebelumnya pada Jumat pagi, bocah tersebut juga diduga membunuh dua kakek-neneknya di rumah keluarga mereka, menurut keterangan pejabat.

Kementerian Kesehatan Thailand mengatakan siswi berusia 12 tahun itu meninggal setelah menjalani perawatan di rumah sakit. Pihak sekolah sebelumnya mengunggah permintaan donor darah melalui Facebook untuk dua siswanya, termasuk korban yang duduk di kelas tujuh tersebut.

Sebanyak 14 orang masih menjalani perawatan di rumah sakit. Tujuh di antaranya berada dalam kondisi kritis pada Sabtu. Sebagian besar korban luka berusia antara 12 hingga 14 tahun.

Keluarga Korban Datang Mengambil Jenazah

Keluarga korban mendatangi Institut Kedokteran Forensik Bangkok untuk mengambil jenazah delapan orang yang tewas dalam serangan tersebut. Mereka terdiri atas lima staf sekolah, pelaku penembakan, serta dua kakek-neneknya.

Petugas darurat terlihat membawa sebuah peti jenazah dan memasukkannya ke ambulans untuk kemudian dibawa ke kampung halaman para korban guna menjalani prosesi pemakaman.

Sementara itu, jenazah siswi berusia 12 tahun yang meninggal setelah menjalani perawatan masih belum diserahkan.

Kepala Institut Kedokteran Forensik, Wiroon Supasingsiripreecha, mengatakan sebagian besar korban meninggal akibat satu luka tembak yang mengenai bagian vital tubuh, termasuk dada atau kepala.

Menurutnya, luka tembak yang ditemukan pada tubuh pelaku sesuai dengan senjata yang digunakannya. Pemeriksaan forensik lebih mendalam, termasuk hasil toksikologi, akan dilakukan kemudian.

Pejabat mengatakan senjata yang digunakan dalam penembakan tersebut berukuran kecil dan ringkas. Senjata itu terdaftar secara legal atas nama kakek pelaku.

 

Saksi dan Orang Tua Masih Terpukul

Pelaku diketahui tinggal bersama kakek dan neneknya. Sejumlah laporan menyebut bocah tersebut sebelumnya menunjukkan tanda-tanda stres yang berkaitan dengan sekolah. Namun, beberapa kerabat mengatakan kepada media Thailand bahwa mereka tidak mengetahui adanya masalah yang sedang dihadapinya.

Setelah penembakan, sejumlah warga mendatangi gerbang sekolah untuk meletakkan bunga sebagai tanda duka. Beberapa polisi juga terlihat berjaga di lokasi pada Sabtu pagi.

Charin Siriananchai datang bersama dua putranya yang berusia 9 dan 6 tahun untuk menyampaikan penghormatan kepada para korban. Kedua anaknya tidak bersekolah di tempat tersebut, tetapi Charin tinggal di lingkungan sekitar dan hampir setiap hari melewati sekolah itu.

Ia mengatakan dirinya kerap berhenti di depan sekolah untuk memberi kesempatan kepada para siswa menyeberang jalan.

Sejumlah orang tua juga datang bersama anak-anak mereka untuk mengambil barang-barang yang tertinggal setelah penembakan.

Seorang ayah yang menolak menyebutkan namanya mengatakan putranya berada di sekolah ketika penembakan terjadi. Setelah kejadian itu, sang anak masih mengalami trauma dan tidak bisa tidur sendirian.

 

Sekolah Hentikan Kegiatan Belajar

Debsirin Nonthaburi School merupakan sekolah negeri campuran yang memiliki sekitar 3.000 siswa berusia 12 hingga 18 tahun.

Pihak sekolah mengumumkan seluruh kegiatan belajar mengajar dihentikan pada 10-14 Agustus. Para staf sekolah juga diminta bekerja dari rumah selama periode tersebut.

Penembakan itu terjadi ketika Thailand masih menghadapi persoalan kepemilikan senjata api yang relatif tinggi dibandingkan negara-negara Asia lainnya.

Berdasarkan data Small Arms Survey dan GunPolicy.org yang dikumpulkan pada 2017 dalam studi internasional terakhir mereka yang ekstensif, kepemilikan senjata api oleh warga sipil di Thailand mencapai sekitar 15,1 senjata per 100 penduduk. Angka tersebut jauh lebih tinggi dibandingkan Malaysia yang kurang dari satu senjata per 100 penduduk.

Data World Population Review pada 2023 menunjukkan Thailand mencatat 3,49 kematian akibat senjata api per 100.000 penduduk. Angka tersebut masih jauh di bawah sejumlah wilayah di Amerika Latin dan Karibia, tetapi tergolong tinggi di Asia. Di Asia Tenggara, hanya Filipina yang memiliki angka lebih tinggi.

Meski penembakan yang menewaskan banyak orang secara acak bukan kejadian umum di Thailand, negara tersebut mengalami peningkatan kasus penembakan yang menjadi perhatian publik dalam beberapa tahun terakhir.

Pada Februari lalu, seorang remaja berusia 17 tahun mencuri senjata dari polisi dan melepaskan tembakan di sebuah sekolah menengah negeri di Thailand bagian selatan. Serangan yang berlangsung sekitar dua jam itu sempat melibatkan penyanderaan dan menewaskan satu orang serta melukai dua lainnya.

Sebelumnya, seorang remaja berusia 14 tahun juga didakwa terkait penembakan di sebuah pusat perbelanjaan besar di Bangkok pada 2023.