Kisah Pilu Lansia Tinggal di Rumah Reyot, Dinding Seng Berkarat dan Lantai Tanah Beralas Terpal

Pasangan lansia Daeng Sija (80) dan istrinya, Daeng Sangnging (80), menghabiskan hari tua mereka.

OlehFauzan
Diperbarui 24 September 2025, 17:32 WIB
Share
Copy Link
Batalkan

Liputan6.com, Jakarta Di sebuah desa kecil bernama Julubori, Kecamatan Pallangga, Kabupaten Gowa, Sulawesi Selatan, terdapat sebuah rumah reyot yang hampir roboh. Dindingnya seng berkarat, lantainya tanah beralas terpal plastik, dan tepat di sampingnya berdiri kandang ayam. Di situlah pasangan lansia Daeng Sija (80) dan istrinya, Daeng Sangnging (80), menghabiskan hari tua mereka.

Malam demi malam mereka lalui bersama dan tidur di ruang sempit yang tak lebih layak dari gubuk. Daeng Sangnging hanya bisa terbaring sakit, tak mampu berjalan. Sang suami, dengan tubuh renta dan langkah yang sudah mulai goyah, tetap setia merawatnya.

Meski serba kekurangan, ia memilih bertahan dengan penuh kesabaran untuk membuktikan cintanya. Bagi Daeng Sija, cinta itu bukan tentang kemewahan, melainkan kesetiaan.

Kisah pilu pasangan lansia ini sampai ke telinga Kapolres Gowa, AKBP Muhammad Aldy Sulaiman. Sang istri, yang juga Ketua Bhayangkari, mendorongnya untuk segera turun tangan. Bersama jajaran Polres, ia mendatangi rumah reyot itu.

"Kondisi mereka cukup memprihatinkan. Ibu hanya bisa terbaring sakit, dirawat sendiri oleh suaminya yang juga sudah tua. Karena itu kami datang memberikan bantuan sebagai bentuk empati," ujar Aldy.

Bantuan berupa sembako, kipas angin, rice cooker, susu, popok, makanan ringan hingga uang tunai mereka bawa. Kapolres juga menyiapkan layanan kesehatan gratis.

"Insha Allah besok dokter dari Klinik Polres Gowa akan datang untuk memeriksa kesehatan bapak dan ibu ini," tambahnya.

Ternyata, rumah yang ditinggali pasangan itu bukan milik pribadi. Mereka hanya menumpang di atas tanah warga. Sambungan listrik pun mereka nikmati dari tetangga.

"Insha Allah nanti kami akan koordinasikan dengan pemilik lahan dan warga setempat agar ada solusi terbaik," jelas AKBP Aldy.

Rasa iba makin bertambah saat ia menyambangi rumah anak kedua pasangan lansia itu. Sang anak kesulitan berjalan, sementara menantunya lumpuh akibat stroke.

"Saya sangat prihatin. Hidup mereka penuh keterbatasan, sehingga saya meminta Kapolsek Pallangga untuk memberi perhatian khusus," ucap Aldy terbata.

Haru dan Doa Terima Kasih

Daeng Sija tak mampu menyembunyikan haru ketika menerima bantuan itu. Dengan suara bergetar, ia hanya bisa mengucapkan terima kasih. Air mata menetes, bukan karena kesedihan, melainkan lega bahwa masih ada yang peduli pada keluarganya.

"Terima kasih bantuannya. Ini sangat membantu kami," ucapnya lirih.

Di tengah keterbatasan, pasangan lansia itu beruntung masih mendapat perhatian dari tetangga mereka, Syamsiah Daeng Baji (45). Meski hanya berjualan jalangkote, Syamsiah sering membawakan makanan dan membantu merawat Daeng Sangnging.

"Kasihan saja. Saya simpati karena orang tua saya sudah tiada, jadi saya anggap mereka seperti orang tua saya. Walaupun saya tidak punya apa-apa, yang penting mereka dirawat," tuturnya.

Ia bahkan siap menerima bila pasangan lansia itu ingin tinggal di rumahnya.

"Kalau diizinkan anak-anaknya, saya tidak keberatan merawat di rumahku. Yang penting mereka terjaga," ujarnya.