Liputan6.com, Nganjuk - Wayang timplong merupakan kesenian tradisional khas Nganjuk, Jawa Timur. Sudah ada lebih dari satu abad lalu, wayang timplong kini terancam punah.
Sosok di balik lahirnya wayang timplong adalah Ki Bancol atau Mbah Bancol dari Grobogan, Jawa Tengah. Ki Bacol menyukai wayang klithik sejak masih kecil hingga membuatnya terinspirasi untuk membuat bentuk kesenian wayang baru.
Wayang klithik merupakan wayang dari kayu berukuran kecil. Wayang ini juga kerap disebut sebagai wayang krucil. Kebiasaan menonton wayang klithik menumbuhkan kegemaran terhadap wayang klithik dalam diri Ki Bacol.
Advertisement
Suatu hari, ia pindah dan bermukim di Dusun Kedung Bajul, Desa Jetis, Kecamatan Pace, Kabupaten Nganjuk, Jawa Timur. Ia pun terdorong untuk membuat kesenian baru sebagai sarana hiburan masyarakat setempat.
Pada 1910, wayang timplong lahir. Saat itu, Ki Bancol membelah sebatang pohon waru untuk dijadikan kayu bakar. Pada satu belahan pohon itu, ia melihat gambar mirip wayang. Ia pun mulai memahat kayu tersebut menjadi sebuah wayang.
Selanjutnya, Ki Bancol membuat wayang lainnya, sehingga menghasilkan seperangkat wayang. Ia juga menyiapkan seperangkat gamelan sederhana sebagai pelengkap.
Perangkat gamelan yang digunakan sangat sederhana, yakni berupa sebuah gambang bambu, sebuah kendang, tiga buah kenong, dan sebuah kempul (gong kecil). Setelah gamelan tercipta, lalu digubahlah gendhing pengiring yang ditandai dengan nama grendhel untuk jejeran, ladrang untuk perang, dan awe-awe untuk tandhakan.
Namun karena perangkat gamelan yang disiapkan cukup sederhana, tiga gendhing tersebut pun terkesan sama menurut telinga awam. Bunyi gambang bambu terdengar "thing-thong", sedangkan bunyi kenong terdengar “plong". Dari sanalah, orang-orang menyebut kesenian ini sebagai wayang timplong.
Â
Wayang Kricik
Selain disebut wayang timplong, orang Nganjuk juga menyebutnya dengan nama wayang kricik karena saat dimainkan menimbulkan bunyi kricik-kricik. Banyak pula yang menyebutnya dengan nama wayang gung karena kesan bunyi kempul pada gamelan.
Berakar dari wayang klithik, beberapa orang memasukkan wayang timplong sebagai salah satu varian wayang klithik. Namun, ada pula yang beranggapan berbeda karena menganggap keduanya memiliki beberapa perbedaan mendasar.
Wayang timplong dibuat dari kayu sengon laut atau mentaos. Tak seperti wayang kulit, bentuk wayang timplong yang pipih tampil tanpa ukiran. Adapun bagian tangannya terbuat dari kulit binatang.
Sebagai penekanan wajah dan karakter, wajah wayang timplong ditandai dengan pemberian warna hitam dan putih. Dalam satu pagelaran terdapat sekitar 70 tokoh wayang. Jumlah tersebut meliputi beberapa tokoh, binatang, dan senjata. Namun yang pakem tokohnya ada sembilan, yakni tokoh Ksatria (prajurit), Satria Muda, Putri Sekartaji, Ratu (Putri), Panji, Satrio Sepuh, Patih, Tumenggung, dan Ratu (Kediri, Majapahit, Jenggala).
Tokoh-tokoh wayang timplong tak memiliki penokohan khusus, kecuali Panji, Sekartaji, dan Kilisuci. Sedangkan tokoh lainnya hanya sebagai pemeran biasa. Selain itu, terdapat dua Panakawan, yakni Kedrah dan Gethik Miri.
Wayang timplong dimainkan oleh seorang dalang dengan dibantu lima orang panjak atau pemain gamelan. Pagelaran wayang timplong tidak ada pesinden untuk mengiringi pementasan.
Â
Advertisement
Cerita Panji
Wayang timplong mementaskan cerita Panji yang berlatar belakang hubungan kerajaan Jenggala dan Kediri. Ada beberapa lakon yang biasa dipentaskan, yakni Babad Kediri, Asmoro Bangun, Panji Laras Miring, Jaka Umbaran, Jaka Slewah, Dewi Galuh, Dewi Sekartaji dan lainnya.
Secara turun-temurun, Ki Bacol mewariskan keahlian mendalang wayang timplong kepada Darto Dono, Ki Karto Jiwul, Ki Tawar, Ki Gondo Maelan, Ki Talam, dan Ki Jikan. Ki Talam dan Ki Jikan beralih profesi lain, sehingga dalang wayang timplong sudah tidak memiliki garis keturunan langsung dengan Ki Bancol sejak era Ki Gondo Maelan.
Wayang timplong awalnya berfungsi sebagai hiburan dan sempat populer pada 1970-an. Setelahnya, popularitas wayang ini menurun bahkan terancam punah. Saat ini, wayang timplong hanya dipentaskan dalam acara ruwatan atau bersih desa di daerah Nganjuk.
Penulis: Resla
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8519902/original/067689300_1782446978-Tugas__41_.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8262299/original/014349800_1781777647-Tugas__37_.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5226996/original/003118400_1747799527-Putin.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8528276/original/060137100_1782459682-Cek_Fakta_Tidak_Benar_Ini_Link_Pendaftaran_-_2026-06-26T143742.924.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/avatars/535950/original/093375400_1577858984-IMG_20200101_130416.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/1345818/original/011860900_1473901116-Wayang-Kayu.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/avatars/827404/original/069659300_1510203910-WhatsApp_Image_2017-11-09_at_12.04.27.jpeg)

:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8256534/original/027399300_1781161052-Vertical_500x656_-_Pentas_Bola_Dunia_2026__3_.png)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8584006/original/084196900_1782546499-AP26178201151443.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8583299/original/047451600_1782545178-AP26178061252747.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8526854/original/004442800_1782457565-Hong_Myung-bo.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8384804/original/025311600_1782263854-kroasia.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8581680/original/086573300_1782542126-AP26178050808259.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8208033/original/056349800_1781066890-063_2280813255.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8293308/original/041888100_1782155517-AP26173640031261.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8322380/original/064889600_1782191323-063_2282870058.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8578726/original/087210500_1782537285-063_2283517405.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8578725/original/075292300_1782537284-063_2283517529.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8513111/original/058658300_1782436597-063_2283345627.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8261509/original/095684300_1781725548-RD_Kongo_s_Yoane_Wissa.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/6032940/original/076207900_1778923870-WhatsApp_Image_2026-05-16_at_16.14.32__4_.jpeg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/6032531/original/006354500_1778923500-1000027868.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/6014503/original/056263500_1778906535-Prabowo_Resmikan_Museum_Marsinah.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/6009317/original/021277900_1778901710-Prabowo_Tiba_Marsinah.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5968759/original/033073000_1778864146-image__12_.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5516186/original/018292900_1772264362-Foto2.jpg)