Larangan Membawa Daging Sapi ke Gunung Agung

Keyakinan ini telah diwariskan turun-temurun oleh masyarakat Bali, terutama oleh para pemangku adat dan pemuka agama.

Diterbitkan 06 Juni 2025, 11:00 WIB
Share
Copy Link
Batalkan

Liputan6.com, Bali - Gunung Agung tidak hanya menjadi destinasi pendakian tertinggi di Bali, tetapi juga tempat yang disucikan dalam kepercayaan Hindu. Salah satu pantangan yang paling dijaga adalah larangan membawa daging sapi saat mendaki.

Mengutip dari berbagai sumber, Gunung Agung dianggap sebagai tempat bersemayamnya Dewa Siwa, salah satu dewa utama dalam agama Hindu. Dalam mitologi Hindu, sapi atau lembu adalah kendaraan Dewa Siwa, sehingga hewan ini dianggap suci dan tidak boleh dikonsumsi atau dibawa ke area sakral.

Keyakinan ini telah diwariskan turun-temurun oleh masyarakat Bali, terutama oleh para pemangku adat dan pemuka agama. Menurut catatan sejarah, larangan membawa daging sapi ke Gunung Agung berkaitan dengan konsep niskala (alam gaib) dan sekala (alam nyata).

Gunung Agung diyakini sebagai simbol emas dalam alam niskala, sehingga membawa emas atau daging sapi, yang dianggap memiliki energi kuat dapat mengganggu keseimbangan spiritual. Banyak cerita beredar tentang pendaki yang mengalami musibah setelah melanggar pantangan ini.

Beberapa laporan menyebutkan pendaki tiba-tiba terjatuh, tersesat, atau bahkan mengalami sakit mendadak setelah membawa daging sapi. Selain itu, masyarakat setempat percaya bahwa orang-orang dengan ilmu spiritual tinggi kadang melihat penampakan sapi hitam besar di sekitar Gunung Agung.

Keberadaan sapi gaib ini dianggap sebagai penjaga gunung yang akan menghukum mereka yang tidak menghormati kesuciannya. Dalam ajaran Hindu Bali, sapi tidak hanya dipandang sebagai hewan suci, tetapi juga simbol kemakmuran dan kesejahteraan.

 

Larangan Sembelih Sapi

Penyembelihan sapi untuk konsumsi sangat dihindari, berbeda dengan babi yang menjadi makanan utama masyarakat Bali akibat pengaruh budaya Majapahit. Pura Besakih, yang terletak di lereng Gunung Agung, juga menjadi alasan kuat larangan ini.

Sebagai pura terbesar di Bali, Pura Besakih dianggap sebagai pusat spiritual yang dijaga kesuciannya. Membawa daging sapi ke area ini diyakini dapat menimbulkan kemarahan para dewa.

Aturan ini tidak hanya berlaku bagi pendaki lokal, tetapi juga wisatawan asing. Pemandu pendakian biasanya akan mengingatkan untuk tidak membawa makanan berbahan sapi atau produk turunannya.

Selain larangan daging sapi, pendaki juga menghindari penggunaan emas, pakaian berwarna merah atau hijau, serta mendaki pada hari-hari tertentu seperti Sabtu Kliwon dan Rabu Wage. Larangan ini turut memengaruhi kebiasaan makan masyarakat sekitar.

Restoran dan warung di kawasan pendakian lebih banyak menyajikan hidangan berbahan babi, ayam, atau ikan. Daging sapi jarang ditemui, bahkan di tempat makan yang bukan milik warga Hindu sekalipun.

Penulis: Ade Yofi Faidzun