5 Rekomendasi Museum Milik Kampus Perguruan Tinggi Yogyakarta

Beberapa kampus di Yogyakarta memiliki museum dengan ragam koleksi yang cukup lengkap. Keberadaan museum ini pun menjadi destinasi wisata edukasi bagi para mahasiswa dan masyarakat umum.

Diterbitkan 30 Mei 2025, 17:00 WIB
Share
Copy Link
Batalkan

Liputan6.com, Yogyakarta - Julukan Kota Pelajar yang dimiliki Kota Yogyakarta bukanlah isapan jempol belaka. Kota ini memiliki ragam destinasi yang bisa jadi tujuan untuk menambah ilmu bagi masyarakat lokal maupun wisatawan.

Beberapa kampus di Yogyakarta memiliki museum dengan ragam koleksi yang cukup lengkap. Keberadaan museum ini pun menjadi destinasi wisata edukasi bagi para mahasiswa dan masyarakat umum.

Museum-museum ini juga memuat koleksi seputar sejarah kampus, produk yang telah diciptakan, prestasi kampus, dan lain sebagainya. Dari banyaknya kampus di Yogyakarta yang memiliki museum, berikut beberapa di antaranya seperti dikutip dari laman Dinas Kebudayaan Yogyakarta:

 

1. Museum Biologi UGM

Museum Biologi merupakan salah satu museum khusus bidang ilmu pengetahuan alam (IPA) yang berada di bawah pengelolaan Fakultas Biologi Universitas Gadjah Mada (UGM). Museum Biologi menempati salah satu bagunan cagar budaya yang berlokasi di Jalan Sultan Agung No.22, Kelurahan Wirogunan, Kecamatan Mergangsan, Yogyakarta.

Dahulu, bangunan Museum ini merupakan perumahan opsir-opsir belanda yang digunakan untuk mengawasi aktivitas Keraton Pakualaman.

Setelah Indonesia merdeka, bangunan ini dialihfungsikan menjadi museum yang mulai dibuka untuk umum pada 1 Januari 1970. Bangunan museum ini terdiri dari bangunan induk, bangunan sayap, dan bangunan belakang. Bangunan induk difungsikan sebagai museum, sedangkan bangunan sayap dan belakang difungsikan sebagai rumah tinggal.

Museum ini memiliki koleksi berupa awetan hewan (zoologi) dan awetan tumbuhan (botani) yang terdiri dari awetan kering dan awetan basah. Terdapat sekitar 4.000 spesimen awetan.

2. Museum Universitas Gadjah Mada

Selain Museum Biologi, Universitas Gadjah Mada juga memiliki bangunan museum lainnya, yakniMuseum UGM. Museum ini berada di Kompleks Bulaksumur, Blok D-6 & D-7, Caturtunggal, Kecamatan Depok, Kabupaten Sleman, Yogyakarta.

Pembangunannya dilakukan pada 1960-an dan diresmikan sebagai museum pada acara Dies Natalis UGM ke-64 pada 19 Desember 2013. Museum ini menjadi pusat informasi bagi masyarakat yang ingin mengenal UGM lebih dalam.

Seperti diketahui, UGM merupakan salah satu perguruan tinggi tertua di Indonesia. Kampus ini juga telah menghasilkan banyak tokoh dan karya dalam berbagai bidang.

Saat ini, Museum UGM memiliki sekitar 555 koleksi yang terdiri dari objek-objek yang berhubungan dengan perjalanan sejarah berdirinya UGM, sumbangsih UGM untuk bangsa dan negara, sejarah perjuangan tokoh-tokoh UGM, tokoh nasional yang telah berjasa bagi berdirinya UGM, capaian hasil penelitian, objek-objek yang menunjukkan peran UGM, serta pengabdian masyarakat sejak berdiri hingga saat ini. Museum ini juga kerap menjadi lokasi pameran temporer, diskusi, tour heritage UGM, pendampingan komunitas, dan pelatihan-pelatihan dalam bidang permuseuman.

 

MGTM

3. Museum Geoteknologi Mineral (MGTM)

Museum Geoteknologi Mineral (MGTM) adalah museum milik Universitas Pembangunan Nasional (UPN) Veteran. Pembangunan museum ini diprakarsai oleh Prof. Drs. H. R Bambang Soeroto, sebagai rektor pertama UPN Veteran.

MGTM adalah satu-satunya museum yang menyajikan gambaran sejarah terjadinya jagad raya atau alam semesta hingga tata surya, termasuk bumi. Ragam koleksi museum ini berupa berbagai jenis mineral, batuan, fosil, bahan galian (tambang), maket, berbagai jenis produk minyak mentah dan gambar-gambar yang berhubungan dengan dasar-dasar ilmu kebumian, serta rekayasa ilmu kebumian di bidang teknik pertambangan, perminyakan, dan aplikasi ilmu geologi di bidang pertanian.

Total ada sekitar 1.525 koleksi berupa objek atau peraga yang berasal dari benua Amerika, Eropa, Asia, Australia, hingga Afrika. Koleksi tersebut berada di Ruang Pamer I dan II.

Koleksi lainnya berupa berbagai jenis atau tipe kristal mineral dari berbagai benua dan batuan, seperti batuan beku, batuan sedimen, dan metamorf. Koleksi batuan tersebut berasal dari wilayah NKRI sebagai hasil riset para dosen dan mahasiswa Fakultas Teknologi Mineral dan Pertanian.

4. Museum Kayu Wanagama

Satu lagi museum yang ada di kompleks kampus Universitas Gadjah Mada (UGM), yakni Museum Kayu Wanagama. Pembangunannya diprakarsai oleh Prof. Dr. Ir. Hj. Oemi Haniin Soeseno dan Ir. Dra. Larasati Suliantoro Sulaiman. Tentu saja, realisasi pembangunannya juga berkat adanya dukungan dari pihak-pihak lain.

Museum Kayu Wanagama terletak di Desa Bunder, Kecamatan Playen, Gunungkidul, Yogyakarta. Lokasinya berada dalam Kawasan Dengan Tujuan Khusus (KHDTK) Wanagama, Fakultas Kehutanan, Universitas Gadjah Mada (UGM). Lokasi ini juga sering disebut Hutan Pendidikan Wanagama.

Bangunan museum ini berupa rumah panggung dengan bahan baku kayu jati (Tectona grandis). Bahan baku bangunannya berupa dua buah rumah kayu buatan era 1880 sumbangan Perum Perhutani. Rumah tersebut kemudian dirombak menjadi satu bangunan berbentuk rumah panggung.

Perakitan bangunan museum ini dimulai 1995. Pada 5 Agustus 1998, museum ini diresmikan oleh Gubernur DIY Sri Sultan Hamengku Buwono X dan Menteri Kehutanan RI Ir. Muslimin Nasution.

Museum Kayu Wanagama memiliki 412 koleksi berupa fosil kayu, peralatan rumah tangga, koleksi patung-patung kayu, dan lainnya. Lokasi yang berada di kawasan hutan memberikan kesan asri dan nyaman pada museum ini.

 

Laboratorium Sejarah Universitas PGRI Yogyakarta

5. Laboratorium Sejarah Universitas PGRI Yogyakarta

Selanjutnya ada Laboratorium Sejarah Universitas PGRI Yogyakarta. Pembangunannya dilakukan pada 985 atas inisiasi Drs. Doddy Soejono MA. Lokasinya berada di Jalan PGRI 1 Sonosewu No. 117, Yogyakarta.

Sebelumnya, bangunan ini bernama Laboratorium Sejarah. Pada HUT ke-33 Laboratorium Sejarah 29 September 2018, Laboratorium Sejarah (Lab Sejarah) resmi berubah menjadi Museum Laboratorium Sejarah yang disingkat menjadi Museorium Sejarah.

Museum ini memiliki tiga ruang utama, yakni ruang audio-visual, ruang display, dan ruang workshop. Ruang audio-visual dilengkapi dengan berbagai peralatan dan perlengkapan yang berkaitan dengan pembelajaran multimedia, termasuk maket, diorama, dan media pendukung lainnya.

Pada sisi timur dinding ruangan audio-visual terdapat repro Candi Panataran yang berupa gerbang masuk. Bagian dalamnya tersimpan DVD player, televisi, serta koleksi audio dan visual dari materi sejarah yang dimiliki museum.

Penulis: Resla