Tempe Benguk, Saksi Bisu Ketahanan Pangan Era Revolusi Kemerdekaan

Kacang benguk (mucuna pruriens) yang mudah tumbuh di lahan kering menjadi alternatif sumber makanan bagi pejuang dan masyarakat

Diterbitkan 18 Mei 2025, 02:00 WIB
Share
Copy Link
Batalkan

Liputan6.com, Yogyakarta - Tempe benguk, olahan kacang benguk khas Kulon Progo, telah menjadi bagian dalam sejarah ketahanan pangan Indonesia sejak masa revolusi kemerdekaan. Makanan sederhana ini menjadi penyelamat di kala sulit ketika bahan pangan lain sulit didapat.

Mengutip dari laman Pemda DIY, tempe benguk pertama kali populer di Kulon Progo pada era 1940-an. Saat itu pasokan kedelai sebagai bahan baku tempe biasa terbatas akibat situasi perang.

Kacang benguk (mucuna pruriens) yang mudah tumbuh di lahan kering menjadi alternatif sumber makanan bagi pejuang dan masyarakat. Pada masa revolusi fisik 1945-1949, tempe benguk menjadi makanan pokok para gerilyawan yang beroperasi di sekitar Kulon Progo dan Gunung Kidul.

Teksturnya yang padat dan kandungan proteinnya membuatnya tahan lama dan mudah dibawa dalam perjalanan jauh. Pembuatan tempe benguk tradisional masih mengikuti cara-cara yang digunakan sejak puluhan tahun lalu.

Kacang benguk direndam semalaman, kemudian direbus dan dikupas kulit arinya. Setelah itu, biji-bijian tersebut difermentasi dengan ragi tempe selama 2-3 hari.

Proses ini lebih rumit dibanding pembuatan tempe kedelai. Hal ini dikarenakan kacang benguk memiliki kulit yang lebih keras.

Selain itu, kacang benguk juga mengandung senyawa yang perlu dinetralisir melalui perendaman dan perebusan panjang. Teknik ini telah disempurnakan oleh para pengrajin tempe turun-temurun di Kulon Progo.

 

Mengatasi Kelaparan

Selain menjadi makanan pejuang, tempe benguk juga berperan dalam mengatasi kelaparan di masa-masa sulit. Pada periode blokade Belanda, ketika pasokan makanan dari luar daerah terputus, tempe benguk menjadi penyelamat masyarakat lokal.

Catatan sejarah menunjukkan bahwa tempe ini pernah menjadi makanan pokok di beberapa pesantren dan markas gerilya di wilayah Yogyakarta. Kandungan proteinnya yang mencapai 22-24% membantu memenuhi kebutuhan gizi dasar di tengah keterbatasan pangan.

Meski kini kedelai sudah mudah didapat, tradisi membuat tempe benguk tetap bertahan di Kulon Progo. Beberapa sentra produksi seperti di Desa Banjaroyo dan Desa Hargowilis masih aktif memproduksi tempe ini dengan cara tradisional.

Pemerintah Kabupaten Kulon Progo telah mencatat tempe benguk sebagai Warisan Budaya Takbenda sejak 2017. Berbagai upaya pelestarian terus dilakukan, termasuk melalui festival kuliner dan pelatihan pembuatan tempe benguk.

Penulis: Ade Yofi Faidzun