Ibas Dorong Generasi Muda Jadi Pemain di Tengah Perubahan Teknologi

Ia menilai perkembangan teknologi digital telah membuka kesempatan yang jauh lebih luas bagi generasi muda untuk membangun usaha dan menciptakan profesi baru.

Diterbitkan 11 September 2025, 05:00 WIB
Copy Link
Batalkan

Liputan6.com, Jakarta - Wakil Ketua MPR sekaligus Ketua Fraksi Partai Demokrat DPR, Edhie Baskoro Yudhoyono (Ibas), mengajak generasi muda Indonesia untuk tidak hanya menjadi penonton di tengah perubahan teknologi dan ekonomi global, tetapi tampil sebagai pemain, pencipta, dan penggerak perubahan.

Hal itu disampaikan dalam Seminar Kebangsaan Fraksi Partai Demokrat bersama Kementerian Ekonomi Kreatif bertema “Muda Berkarya, Ekonomi Berdaya, Indonesia Maju”, Senin (7/9).

Seminar tersebut mempertemukan unsur parlemen, pemerintah, pelaku ekonomi kreatif, komunitas, serta mahasiswa dari sejumlah perguruan tinggi untuk membahas masa depan ekonomi kreatif, perkembangan teknologi, politik, dan demokrasi.

Menurut Ibas, Indonesia memiliki modal besar berupa generasi muda yang kreatif, inovatif, dan mampu beradaptasi dengan perkembangan teknologi. Potensi tersebut harus diarahkan menjadi kekuatan ekonomi yang menciptakan lapangan kerja dan meningkatkan kesejahteraan masyarakat.

“Kreativitas bukanlah sekadar konten. Kreativitas adalah kekuatan ekonomi,” kata Ibas.

Ia mengatakan, tantangan generasi muda saat ini bukan semata-mata kekurangan ide. Justru, banyak anak muda memiliki gagasan besar tetapi ragu untuk memulai. Karena itu, Ibas mendorong mahasiswa dan generasi muda untuk berani mengubah ide menjadi karya dan karya menjadi nilai ekonomi.

“Ide harus bisa menjadi karya. Karya harus bisa menjadi nilai. Dan nilai harus menciptakan kesempatan. Inilah kerja dari ekonomi kreatif.”

Ia menilai perkembangan teknologi digital telah membuka kesempatan yang jauh lebih luas bagi generasi muda untuk membangun usaha dan menciptakan profesi baru. Seseorang, katanya, tidak selalu harus memiliki modal besar untuk memulai. Kemampuan menggunakan laptop, kamera, keterampilan di bidang teknologi, seni, desain, maupun kemampuan membuat konten dapat dikembangkan menjadi usaha apabila dikerjakan secara serius dan berkelanjutan.

Ia juga mendorong anak muda untuk tidak terjebak dalam pola pikir bahwa sebuah gagasan hanya bisa diwujudkan setelah memiliki jabatan, posisi, atau modal besar.

“Jangan kita cukup berhenti berpikir besar, tetapi tidak mulai. Setelah memulai, mari kita percepat agar apa yang kita jalankan bisa lebih banyak manfaatnya untuk masyarakat luas.”

AI Bukan Musuh

Perkembangan kecerdasan artifisial atau AI menjadi salah satu tantangan sekaligus peluang yang tidak dapat dihindari. Ibas menilai AI sudah menjadi bagian dari kehidupan manusia dan akan terus memengaruhi cara belajar, bekerja, membuat konten, hingga menjalankan bisnis. Karena itu, generasi muda tidak boleh menganggap AI dan digitalisasi sebagai musuh.

“Kalau kita menganggap AI dan teknologi digitalisasi adalah musuh, tentunya kita tidak akan bisa bergerak lebih cepat dan lebih maju.”

Namun, ia mengingatkan agar pemanfaatan AI tetap disertai kemampuan berpikir kritis. Teknologi harus digunakan untuk memperkuat manusia, bukan membuat manusia berhenti belajar. Menurutnya, manusia harus terus meningkatkan kompetensi agar mampu beradaptasi dengan perubahan teknologi.

“Manusia harus terus beradaptasi dan belajar menggunakan AI agar tidak digantikan fungsinya oleh teknologi.”

Di hadapan mahasiswa, Ibas juga mengingatkan agar generasi muda tidak apatis terhadap politik. Ia mengatakan, berbagai persoalan yang bersentuhan langsung dengan kehidupan anak muda pada dasarnya berkaitan dengan kebijakan publik dan proses politik.

Mulai dari pendidikan, lapangan pekerjaan, ekonomi digital, hak cipta, kebijakan AI hingga arah anggaran negara, semuanya membutuhkan keputusan politik.

“Jangan sampai kalian merasa politik ini bukan urusan kalian. Karena politik juga ada dalam kehidupan kalian sehari-hari.”