Sukses

Manisnya Bisnis Minyak Nilam di Tengah Kelesuan Pariwisata Tojo Unauna

Liputan6.com, Tojo Unauna - Sektor pariwisata Kabupaten Tojo Unauna yang masih lesu karena pandemi, membuat pelaku pariwisata dan masyarakat nelayan berallih menggarap tanaman nilam menjadi produk minyak yang punya potensi ekonomi.

Harga produk olahan dari tanaman tersebut yang sedang bagus yakni Rp500 ribu sampai Rp900 ribu membuat mayoritas pelaku pariwisata di Kabupaten Tojo Unauna meliriknya sebagai sumber ekonomi alternatif kala sektor pariwisata yang jadi tumpuan selama ini masih lesu.

Jafar Amin, salah seorang pemilik resor di Kepulauan Togean yang beralih mengembangkan tanaman itu. Dia mengakui bisnis nilam saat ini menjadi penolong baginya mengatasi kesulitan pada masa pandemi.

"Kalau saya masih baru di usaha tanaman ini. Baru ada 20 ribu yang saya tanam," kata Jafar, Kamis (12/11/2020).

Selain Jafar ada Syamsir (37) yang lebih dulu menggeluti bisnis nilam. Kata dia, sejak menggeluti bidang ini tahun 2015, kenaikan harga minyak nilam di pasaran mencapai 300 persen. Kondisi yang sedang bagus-bagusnya, menurut dia.

"Saat pandemi hasilnya lebih bagus dari tahun sebelumnya. Dulu harga tidak jelas, donatur tidak jelas. Mulai Mei sampai sekarang hasil sangat luar biasa. Walau ada penurunan sedikit tapi tidak pengaruh," kata Syamsir saat dihubungi melalui telepon, Kamis (12/11/2020).

Sejauh ini minyak nilam olehan warga Tojo Unauna dipasarkan ke Makassar hingga Semarang.

* #IngatPesanIbu

Pakai Masker, Cuci Tangan Pakai Sabun, Jaga Jarak dan Hindari Kerumunan.

Selalu Jaga Kesehatan, Jangan Sampai Tertular dan Jaga Keluarga Kita.

2 dari 3 halaman

Pelipur Kala Duka Pariwisata Melanda

Geliat menggarap sumber ekonomi alternatif oleh masyarakat Tojo Unauna itu dinilai Ketua Himpunan Pramuwisata Indonesia Sulawesi Tengah, Abdul Haris Balano sebagai sebuah keberkahan.

Sebab walau sudah dibuka kembali 7 September 2020, sektor pariwisata yang menjadi sandaran hidup mayoritas warga belum menunjukkan perubahan yang signifikan. Haris mencontohkan Kepulauan Togean yang menjadi destinasi andalan mengalami penurunan kunjungan wisatawan asing hingga 95 persen pada masa pandemi.

Kondisi itu sangat berpengaruh pada kondisi masyarakat terutama pelaku pariwisata. Tidak heran, kata dia, jika saat ini pelaku usaha, pemandu wisata, dan masyarakat nelayan Tojo Unauna beralih usaha menanam nilam.

"Kunjungan ke Togean turun sekali, tidak ada pendapatan. Dengan kondisi itu pemilik resor kesulitan membayar karyawannya," ungkap Haris.

Tanaman Nilam atau Progestemon Cablin Bent adalah kelompok tanaman penghasil minyak atsiri. Selain dibuat untuk minyak wangi, juga banyak dijadikan obat tradisional untuk mengobati bisul dan sakit kepala.

3 dari 3 halaman

Simak video pilihan berikut ini: