Produsen Mobil China Siapkan Pabrik di AS, Ini Tantangan Terbesarnya

Apabila pabrikan asal China benar-benar membangun pabrik di Amerika Serikat, langkah tersebut berpotensi memberikan berbagai dampak positif bagi perekonomian

Diterbitkan 27 Juli 2026, 20:03 WIB
Share
Copy Link
Batalkan

Liputan6.com, Jakarta - Sejumlah produsen mobil asal China mulai menunjukkan minat untuk membangun fasilitas produksi di Amerika Serikat (AS). Langkah tersebut dinilai sebagai strategi untuk tetap menembus pasar otomotif Negeri Paman Sam tanpa terbebani tarif impor yang tinggi.

Salah satu pabrikan yang secara terbuka menyampaikan ambisinya adalah Xpeng. Mengutip Carscoops, Senin (27/7/2026), CEO Xpeng He Xiaopeng mengungkapkan bahwa perusahaannya ingin memasuki pasar Amerika Serikat dan bahkan siap membangun pabrik di negara tersebut.

Meski demikian, He Xiaopeng mengakui bahwa kondisi politik antara China dan Amerika Serikat saat ini masih menjadi tantangan besar. Ketegangan hubungan kedua negara dinilai belum memberikan ruang yang kondusif bagi realisasi investasi tersebut.

Pernyataan itu kembali memunculkan pertanyaan mengenai peluang pemerintah Amerika Serikat memberikan izin kepada produsen mobil China untuk beroperasi di dalam negeri, meski kendaraan diproduksi secara lokal.

Apabila pabrikan asal China benar-benar membangun pabrik di Amerika Serikat, langkah tersebut berpotensi memberikan berbagai dampak positif bagi perekonomian setempat.

Selain menciptakan ribuan lapangan pekerjaan, investasi tersebut juga dapat meningkatkan penerimaan pajak serta memperkuat ekosistem industri otomotif melalui jaringan dealer dan pemasok komponen lokal.

Bahkan, Presiden Amerika Serikat Donald Trump sebelumnya pernah menyatakan tidak keberatan jika perusahaan China membangun fasilitas produksi di negaranya, selama investasi tersebut mampu membuka lapangan kerja bagi masyarakat Amerika.

"Jika mereka ingin datang membangun pabrik serta mempekerjakan Anda, teman-teman Anda, dan para tetangga Anda, itu hal yang baik. Saya menyukainya. Biarkan China datang," kata Trump.

 

Bangun Pabrik di AS Belum Menjamin Bisa Berjualan

Meski membangun fasilitas produksi di Amerika Serikat terdengar sebagai solusi, pengalaman Polestar menunjukkan kondisi di lapangan tidak sesederhana itu.

SUV Polestar 3 diproduksi di Ridgeville, South Carolina, bersama Volvo EX90. Namun, meski diproduksi di Amerika Serikat, Polestar tetap menghadapi hambatan regulasi.

Volvo diketahui memperoleh pengecualian terhadap aturan Connected Vehicles, sementara Polestar tidak mendapatkan perlakuan yang sama.

Kondisi tersebut membuat Polestar memutuskan menghentikan operasinya di Amerika Serikat setelah model tahun 2026, meski masih akan menjual stok kendaraan yang tersedia.

Kasus tersebut memunculkan perdebatan mengenai efektivitas strategi produksi lokal. Sebab, kendaraan yang dibuat di Amerika Serikat tetap dapat terkena dampak kebijakan pembatasan apabila perusahaan induknya memiliki keterkaitan dengan China.

Hingga kini belum ada kepastian apakah produsen mobil China benar-benar akan memperoleh izin untuk membangun pabrik sekaligus memasarkan kendaraan mereka di Amerika Serikat.

Keputusan tersebut diperkirakan akan sangat dipengaruhi oleh dinamika hubungan dagang kedua negara, kebijakan keamanan nasional Amerika Serikat, hingga regulasi yang mengatur industri otomotif.

Meski demikian, meningkatnya minat sejumlah produsen mobil China untuk memproduksi kendaraan langsung di Amerika Serikat menjadi sinyal bahwa pasar otomotif AS tetap memiliki daya tarik yang besar.

Di sisi lain, langkah tersebut juga memperlihatkan bahwa persaingan industri otomotif global diperkirakan akan semakin ketat dalam beberapa tahun mendatang.