VinFast Jual Aset Besar-besaran, Strategi Baru Siap Dijalankan

VinFast tengah menyiapkan langkah besar dalam restrukturisasi bisnisnya. Perusahaan asal Vietnam tersebut, berencana melepas lini produksi di VinFast

Diterbitkan 25 Mei 2026, 08:03 WIB
Share
Copy Link
Batalkan

Liputan6.com, Jakarta - VinFast tengah menyiapkan langkah besar dalam restrukturisasi bisnisnya. Perusahaan asal Vietnam tersebut, berencana melepas lini produksi di kampung halaman dengan nilai transaksi sekitar US$ 530 juta atau setara Rp 9,3 triliun (kurs Rp 17.698 per dolar AS).

Disitat dari Theinvestor, langkah ini dilakukan untuk mengubah model bisnis VinFast ke depan, menjadi lebih ringan aset atau asset-light.

Berdasarkan dokumen perusahaan, VinFast akan memisahkan aset produksi dari anak usahanya, VinFast Trading and Production JSC (VFTP), sebelum seluruh saham di perusahaan tersebut dialihkan ke kelompok investor yang dipimpin oleh Future Investment Research and Development JSC (FIRD).

Menariknya, pendiri sekaligus CEO VinFast, Pham Nhat Vuong juga ikut terlibat dalam kelompok investor tersebut.

Restrukturisasi ini disebut sebagai upaya VinFast untuk lebih fokus pada pengembangan produk, teknologi, merek, hingga ekspansi pasar global.

Dengan model bisnis baru tersebut, perusahaan tidak lagi terbebani investasi besar pada fasilitas produksi, sehingga arus keuangan diharapkan menjadi lebih sehat.

Meski melepas unit manufaktur domestik, VinFast memastikan tidak meninggalkan bisnis produksi kendaraan sepenuhnya.

Pabrik di Vietnam nantinya tetap akan memproduksi mobil listrik VinFast melalui perjanjian manufaktur antara VFVN dan VFTP.

Produksi kendaraan bakal berjalan menggunakan desain, serta standar teknis yang tetap dikendalikan oleh VinFast.

Selain itu, perusahaan juga tetap mempertahankan fasilitas perakitan di India dan Indonesia, termasuk hak kekayaan intelektual untuk generasi terbaru kendaraan listriknya.

Strategi VinFast

Strategi ini dinilai dapat membantu VinFast memangkas tekanan finansial, terutama setelah perusahaan membukukan kerugian besar dalam beberapa tahun terakhir akibat tingginya biaya produksi.

Selain itu, restrukturisasi bisnis tersebut juga mencakup pengalihan utang sekitar US$ 6,9 miliar atau setara Rp 122,1 triliun kepada entitas baru yang mengambil alih bisnis manufaktur.

Dengan skema itu, VinFast berharap bisa bergerak lebih fleksibel dalam menghadapi persaingan industri kendaraan listrik global yang semakin ketat.

Namun, langkah ini juga memunculkan perhatian dari sejumlah analis terkait kompleksitas transaksi, dan keterlibatan pihak-pihak yang masih memiliki hubungan dengan grup usaha Vingroup.

Meski demikian, beberapa investor menilai restrukturisasi tersebut bisa menjadi fondasi penting bagi VinFast, untuk mempercepat jalan menuju profitabilitas atau keuntungan sekaligus memperkuat ekspansi globalnya pada masa depan.