Sukses

Tesla Pecat 200 Karyawan yang Mengerjakan Proyek Autopilot

Liputan6.com, Jakarta - Pabrikan mobil listrik Tesla memecat alias putus hubungan kerja (PHK) sekitar 200 karyawan yang diperkerjakan setiap jam untuk bekerja di tim autopilot. Keputusan tersebut karena jenama asal Amerika Serikat tersebut menutup fasilitas di California, demikian dilansir Bloomberg, Jumat (1/7/2022).

Keputusan ini bertentangan dengan apa yang dikatakan CEO Elon Musk, pekan lalu yang menguraikan rencana untuk memotong 10 persen dari staf yang digaji, tetapi meningkatkan pekerjaan per jam.

Tim di kantor San Mateo diberi tugas mengevaluasi data kendaraan pelanggan yang terkait dengan fitur bantuan pengemudi autopilot dan melakukan apa yang disebut pelabelan data.

Sebelum memberhentikan 200 karyawan, fasilitas tertutup Tesla memiliki 350 orang karyawan dan beberapa di antaranya sudah dipindahkan ke fasilitas terdekat dalam beberapa pekan terakhir. Tesla yang telah berkembang menjadi sekitar 100 ribu karyawan secara global saat membangun pabrik baru di Austin dan Berlin, kini memangkas tenaga kerjanya.

Dalam sebuah wawancara sebelumnya, Musk mengatakan bahwa sekitar 10 persen karyawan yang digaji dari organisasinya akan kehilangan pekerjaan selama tiga bulan depan, meskipun jumlah karyawan secara keseluruhan bisa lebih tinggi dalam setahun.

Kemudian, awal bulan ini, mengatakan kepada karyawan bahwa PHK akan diperlukan dalam lingkungan ekonomi yang semakin goyah.

Karyawan yang diberhentikan Tesla, mengerjakan salah satu fitur profil tinggi di kendaraan Tesla dan diberi label data dari autopilot.

* Fakta atau Hoaks? Untuk mengetahui kebenaran informasi yang beredar, silakan WhatsApp ke nomor Cek Fakta Liputan6.com 0811 9787 670 hanya dengan ketik kata kunci yang diinginkan.

2 dari 2 halaman

Volkswagen Kejar Tesla Jadi Penguasa Pasar Kendaraan Listrik

Volkswagen terus mencoba untuk menggeser Tesla sebagai pembuat mobil listrik terkemuka di dunia. Saat ini, pabrikan asal Jerman ini tepat berada di pembuat mobil ramah lingkungan asal Amerika Serikat tersebut.

Chief Executive Officer Volkswagen Group, Herbert Diess mengatakan pihaknya berada di posisi kedua yang baik di belakang Tesla, dan membaut kemajuan terkait produksi baterai, infrastruktur pengisian daya, dan perangkat lunak.

"Kami pikir kami bisa menutup kesenjangan sedikit dalam beberapa bulan depan," ujarnya.

Sementara itu, berdasarkan analis Bloomberg Intelligence, pekan lalu memperkirakan Volkswagen dapat menyalip Tesla setelah 2024.