Leapmotor B10 Punya Banyak Kelebihan, tapi Ada Catatannya

Secara dimensi, Leapmotor B10 memiliki ukuran yang cukup bongsor untuk kelas compact SUV

Diterbitkan 19 Juni 2026, 14:17 WIB
Share
Copy Link
Batalkan

Liputan6.com, Jakarta - Leapmotor B10 siap meramaikan persaingan mobil listrik di Indonesia. Sport Utility Vehicle (SUV) listrik asal Tiongkok ini akan dipasarkan oleh PT Indomobil National Distributor dan dijadwalkan melakoni debut resminya pada ajang GIIAS 2026 yang berlangsung akhir Juli mendatang.

Bermain di segmen compact SUV listrik, Leapmotor B10 akan menghadapi sejumlah rival yang lebih dahulu hadir di pasar, seperti Aion V, BYD Atto 3, Chery Omoda E5, Jaecoo J5 EV, hingga MG 4 EV.

Sebelum peluncuran resmi, PT Indomobil National Distributor memberikan kesempatan kepada sejumlah awak media nasional, termasuk Liputan6.com, untuk menjajal langsung kemampuan Leapmotor B10 melalui perjalanan Jakarta-Bandung-Jakarta pada 17-18 Juni 2026.

Chief Executive Officer PT Indomobil National Distributor, Tan Kim Piauw, menjelaskan bahwa rute tersebut dipilih karena merepresentasikan pola penggunaan kendaraan yang umum dilakukan konsumen Indonesia.

"Melalui perjalanan Jakarta-Bandung ini, kami ingin menunjukkan karakter B10 sebagai EV yang cerdas, inovatif, dan relevan dengan gaya hidup konsumen Indonesia, mulai dari mobilitas harian di perkotaan hingga perjalanan antar kota dan eksplorasi destinasi lokal," ujar Tan Kim Piauw.

Perjalanan meliputi area perkotaan, jalan tol dengan kecepatan stabil, hingga jalur luar kota menuju Ciwidey yang menawarkan kombinasi tanjakan, tikungan, dan kondisi jalan yang lebih menantang sebelum melanjutkan perjalanan menuju Bandung.

Secara dimensi, Leapmotor B10 memiliki ukuran yang cukup bongsor untuk kelas compact SUV. Mobil listrik ini memiliki panjang 4.515 mm, lebar 1.855 mm, tinggi 1.655 mm, serta wheelbase mencapai 2.735 mm.

Saat pertama kali masuk ke dalam kabin, kesan lega langsung terasa. Ruang untuk pengemudi maupun penumpang depan cukup lapang. Bahkan penumpang di baris kedua juga mendapatkan ruang kaki dan kepala yang memadai untuk perjalanan jarak jauh.

Untuk kebutuhan membawa barang, Leapmotor B10 menyediakan bagasi berkapasitas 430 liter. Jika masih kurang, kapasitas tersebut dapat ditingkatkan hingga 1.700 liter dengan melipat bangku baris kedua.

Salah satu daya tarik lain hadir pada bagian dashboard. Selain dilengkapi panoramic roof seluas 1,8 meter persegi, terdapat persona panel yang bisa dimanfaatkan untuk menempatkan aksesori seperti boneka hingga meja lipat portabel.

Masuk ke area teknologi, Leapmotor B10 dibekali prosesor Qualcomm Snapdragon 8155 yang dipadukan dengan layar sentuh HD berukuran 14,6 inci dan sistem operasi Leap OS 4.0.

Konektivitas Android Auto dan Apple CarPlay juga sudah tersedia. Selain itu, terdapat panel instrumen digital berukuran 8,8 inci yang mampu menyajikan informasi kendaraan secara jelas.

Kenyamanan kabin semakin ditingkatkan melalui ambient lighting 64 warna, sistem audio 12 speaker, serta 22 ruang penyimpanan yang tersebar di berbagai area interior.

Menariknya lagi, jok pengemudi dan penumpang depan telah dilengkapi fitur ventilasi dengan pengaturan tingkat embusan udara.

Fitur ini sangat membantu menjaga kenyamanan selama perjalanan jauh, terutama saat cuaca panas.

 

Mudah Dikendalikan

Sepanjang perjalanan Jakarta-Bandung, Leapmotor B10 menunjukkan karakter berkendara yang mudah dikendalikan dan terasa solid.

Saat melaju di jalan tol, mobil tetap stabil pada kecepatan konstan. Salah satu faktor yang berkontribusi terhadap karakter tersebut adalah penggunaan teknologi Cell-to-Chassis 2.0 yang mengintegrasikan baterai langsung ke dalam struktur sasis kendaraan.

Teknologi ini tidak hanya membantu menurunkan pusat gravitasi kendaraan, tetapi juga meningkatkan perlindungan baterai dan efisiensi ruang kabin hingga 17,5 persen.

Leapmotor mengklaim struktur tersebut mampu menghasilkan tingkat kekakuan torsional hingga 36.300 Nm/degree. Hasilnya, kendaraan terasa mantap saat melintasi jalan tol, tanjakan, maupun tikungan.

Karakter pengendaraan B10 juga mendapat sentuhan DNA Eropa melalui Stellantis Master Chassis Tuning yang dikembangkan melalui pengujian di Balocco, Italia, dan CATARC Yancheng, Tiongkok.

Konfigurasi penggerak roda belakang atau rear-wheel drive (RWD), distribusi bobot ideal 50:50, penyetelan Continental, serta penggunaan staggered wheels dengan ban belakang lebih lebar turut berkontribusi terhadap kestabilan kendaraan.

Sebagai informasi, ban depan memiliki lebar 225 mm, sedangkan ban belakang menggunakan ukuran 235 mm.

Saat diajak melibas jalur berkelok menuju Ciwidey, Leapmotor B10 tetap terasa halus dan terkontrol. Bahkan bagi pengguna yang baru beralih ke mobil listrik, karakter berkendaranya masih terasa familiar layaknya mobil bermesin konvensional.

Faktor keselamatan menjadi salah satu aspek yang diunggulkan Leapmotor B10.

SUV listrik ini telah mengantongi rating 5-star Euro NCAP dan dibekali struktur bodi yang kokoh, tujuh airbags, serta 12 sensor presisi tinggi.

Selain itu, tersedia pula 16 fitur Advanced Driver Assistance System (ADAS), termasuk Autonomous Emergency Braking, Blind Spot Monitoring, Speed Limit Alert, dan kamera 360 derajat yang membantu meningkatkan rasa aman selama perjalanan.

Leapmotor B10 juga menyediakan tiga mode berkendara yang terdiri dari Comfort, Standard, dan Sport.

Pengemudi dapat memilih mode sesuai kebutuhan dan kondisi jalan. Namun ada satu hal unik yang sempat kami temukan. Saat sistem hiburan sedang memutar musik, audio akan berhenti sejenak ketika pengemudi mengganti mode berkendara.

Artinya, jika sedang asyik bernyanyi mengikuti lagu favorit, sebaiknya hindari mengganti mode berkendara agar sesi karaoke tidak terganggu.

Jok Belakang Jadi Catatan

Duduk sebagai penumpang belakang di Leapmotor B10 sejatinya cukup menyenangkan. Legroom dan headroom terasa lega, sementara bagian tengah jok dapat difungsikan sebagai armrest lengkap dengan cup holder.

Penumpang belakang juga mendapatkan ventilasi AC, ruang penyimpanan tambahan, serta port USB dan Type-C yang ditempatkan di belakang konsol tengah.

Sayangnya, ada beberapa catatan yang kami temukan selama perjalanan. Dan ini juga dirasakan oleh beberapa rekan media lainnya.

Meski material jok terasa lembut dan empuk, posisi sandaran belakang cenderung tegak dan tidak dapat direbahkan atau reclining.

Bagi penumpang dengan tinggi badan sekitar 175 cm, posisi tersebut terasa kurang nyaman untuk perjalanan jauh.

Selain itu, desain headrest yang agak menjorok ke depan membuat posisi tubuh saat bersandar terasa kurang rileks.

Kondisi ini memang tidak terlalu mengganggu dalam perjalanan singkat.

Namun untuk perjalanan jarak jauh, aspek kenyamanan jok belakang menjadi salah satu hal yang perlu mendapat perhatian lebih, terutama bagi penumpang dengan postur tubuh tinggi.