Liputan6.com, Jakarta - Indonesia telah mengukir warisan gejolak politik dan kreativitas artistik. Perempuan dipaksa menavigasi peran mereka tidak hanya dalam masyarakat patriarki dan konservatif, tetapi juga dalam masyarakat yang dilanda kekerasan dan korupsi yang disahkan negara. Dengan evolusi industri film dan televisi, Indonesia telah menjadi wadah untuk menggambarkan perempuan yang kompleks dalam sejarah Indonesia pasca-kemerdekaan yang juga kompleks. Nuansa ini tertangkap dengan baik dalam film Kamila Andini 'Before, Now & Then' dan serialnya 'Gadis Kretek'. Kedua drama sejarah ini berlatar era pasca-kemerdekaan Indonesia yang sulit dan transisi penuh kekerasan menuju Tatanan Baru Indonesia. Selama Perang Dingin, ketegangan rasial dan politik Indonesia mencapai puncaknya dengan kudeta militer oleh komunis yang berujung pada penggulingan presiden pertama Indonesia Sukarno secara kejam dan digantikan oleh Suharto. Yang terjadi kemudian adalah bertahun-tahun pembersihan buta dan kekerasan terhadap para simpatisan komunis yang diduga serta pembunuhan pemimpin militer Indonesia yang sangat diperdebatkan.
Para perempuan di film-film ini hidupnya terguncang oleh kekerasan politik yang melanda Indonesia pada tahun 1960-an dan rezim Orde Baru yang menanamkan ketakutan di seluruh penjuru masyarakat. Ketakutan ini berasal dari penganiayaan yang kekerasan atau lebih tepatnya, perburuan para pembangkang politik, yang dilabeli sebagai ancaman komunis terhadap tatanan politik Indonesia. Setelah pembersihan ini, para perempuan terpaksa membangun kembali kehidupan mereka dan maju sambil terus-menerus memikul beban kesedihan. Namun, meskipun ada transformasi sosial di era itu, yang tidak berubah adalah posisi mereka sebagai perempuan. Andini sangat menegaskan hal ini bahwa apapun masanya, baik di masa damai maupun di masa kekacauan, mereka harus terus berjuang untuk tempat mereka di dunia.
Andini bukan orang asing dalam menciptakan perempuan yang berjuang melewati konvensi sosial, dengan film sebelumnya ‘Yuni’ yang berlatar Indonesia kontemporer menggambarkan kehidupan seorang gadis muda yang menolak pernikahan muda demi menjalani hidupnya sendiri. Drama periode ini melanjutkan tema ini dengan sangat menyoroti perjuangan perempuan untuk agensi dirinya sendiri, yang terus-menerus berdebat dengan dunia hanya untuk bisa hidup apa adanya. Dalam 'Gadis Kretek', Dasiyah, putri kelas atas dari pembuat rokok cengkeh, adalah pengrajin rokok berbakat dan penuh gairah yang terpaksa duduk di pinggir karena percaya bahwa perempuan merusak proses produksi. Baru ketika kekasihnya, seorang pria, berjuang untuknya dan menjamin bakatnya di depan ayahnya, dia akhirnya diberi kesempatan untuk mewujudkan mimpinya. Meskipun sukses, di setiap langkah dan denga kekuatannya sendiri, nasibnya ditentukan dan bergantung pada sosok pria dalam hidupnya. Hal ini tercermin dalam 'Before, Now & Then' saat Nana menikah lagi dengan pria yang jauh lebih tua setelah tragedi yang menewaskan keluarganya. Untuk membangun kembali hidupnya dan memastikan kesejahteraan putrinya, dia terikat pada sosok pria berpengaruh lainnya. Kisah-kisah ini menggambarkan realitas bagi banyak wanita Indonesia, baik di masa lalu maupun sekarang, di mana kehidupan mereka selalu dipandang semata-mata dalam hubungan dengan pria mereka dan konsep agensi hanyalah mimpi.
Advertisement
Di sini, Andini menyoroti batasan sistematis yang harus dihadapi perempuan. Namun ia berpendapat bahwa meskipun tokoh laki-laki sentral ini tidak bisa diabaikan dalam memengaruhi hidup mereka, perempuan-perempuan ini bukanlah agen pasif dan memainkan peran penting dalam membentuk jalannya hidup mereka. Ia secara khusus menonjolkan cara-cara para protagonisnya memanfaatkan hubungan laki-laki mereka dan hubungan dengan perempuan lain untuk mempertahankan kebebasan individu dan kemanusiaan. Bahkan setelah Dasiyah kehilangan keluarganya karena dituduh melindungi dan bersekutu dengan komunis, hubungannya dengan ibu dan saudara perempuannya terus memberinya kekuatan dan keberanian untuk terus hidup. Ia juga mampu memanfaatkan keamanan yang diberikan suami barunya untuk mendapatkan kembali otonominya sendiri dalam bentuk membuat dan menjual rokok lagi. Nana, seperti Dasiyah, mampu memanfaatkan pengaturan tidak konvensional dengan suami barunya dan menemukan kenyamanan dalam persaudaraan yang tak terduga yang ia miliki dengan selingkuhannya. Di momen-momen kecil di masa-masa kacau inilah para perempuan ini mampu melindungi kemanusiaan mereka.
Kamila Andini berhasil menggambarkan bagaimana perempuan bertahan dan menemukan kepuasan di masa-masa ketika perdamaian terasa jauh. Ia tidak berusaha menciptakan dunia mimpi di mana para perempuan ini mampu melarikan diri dari masyarakat patriarki atau mencapai kehidupan paling sempurna mereka. Ia lebih berfokus pada ketangguhan dan tekad mereka, bagaimana mereka menemukan kekuatan unik dalam persaudaraan dan bagaimana mereka mampu mengambil peran yang jauh lebih besar daripada yang pernah dimaksudkan untuk mereka. Hidup mereka tidak sempurna, penuh dengan kehilangan dan tragedi, namun mereka tetap bertahan.
Yang paling menarik bagi saya dari karya Andini tentang perempuan adalah karakter yang selalu hadir yaitu negara. Negara tidak pernah menjadi fokus utama, melainkan hanya relevan dalam bagaimana kekerasannya melibatkan karakter. Politik atau pendapatnya sendiri tentang pembersihan dan gejolak politik besar-besaran yang mengubah kehidupan karakternya tidak pernah eksplisit. Karyanya sendiri bukanlah diskusi tentang politik itu sendiri, melainkan bagaimana kekerasan mengubah keadaan karakternya. Bisa dikatakan bahwa dia sengaja melakukan ini agar tidak mengalihkan perhatian dari para protagonis dan perjuangan pribadi mereka. Namun, saya menemukan bahwa ini dapat dilihat sebagai representasi yang lebih luas tentang bagaimana negara dan sejarahnya tertanam dalam memori kolektif Indonesia. Karena bertahun-tahun ketidakstabilan politik dan kurangnya kepercayaan pada pemerintah, publik semakin terlepas dari tindakan negara dan sejarah kekerasannya. Negara, seperti yang digambarkan dalam karya Andini, adalah sebuah perangkat yang jauh melampaui pemahaman dan sangat jauh dari rakyatnya sehingga kekerasannya hanyalah sebuah tragedi dan bukan masalah sistematis yang harus ditangani.
Perdebatan rumit dan kontroversial mengenai era itu bukanlah percakapan yang terus-menerus dalam wacana Indonesia kontemporer. Penyalahgunaan kekuasaan negara dan oligarki yang mengikuti rezim bobrok diterima hampir seperti hukum alam. Dorongan dan pengutamaan kekerasan serta dampak dahsyat yang ditimbulkannya terhadap publik Indonesia hanyalah fakta yang tak terucapkan dalam kehidupan. Bisikan dan sensor diri adalah apa yang membentuk diskusi politik tentang Indonesia selama 81 tahun terakhir. Namun, seperti para protagonis karya Andini, rakyat Indonesia menemukan cara untuk bertahan dan melawan sistem yang mengeksploitasi mereka. Yang paling penting, melalui karya-karya yang memicu percakapan seperti karyanya, apati politik dan penerimaan paksa terhadap status quo dapat dibongkar.
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/3372858/original/061241900_1612917784-Vaksin-Nakes-Lansia1.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/4047359/original/024125100_1654749561-razia-Pajak-STNK-ARBAS-2.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5518693/original/087920200_1772516344-BLT_Ibu_Hamil_-_klaim_facebook.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9350923/original/082567200_1789635059-cek_fakta_pendamping_lokal_desa.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/figure_images/139/original/068677200_1789719828-WhatsApp_Image_2026-09-18_at_15.22.27.jpeg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9351955/original/059913500_1789720731-WhatsApp_Image_2026-09-18_at_15.36.40.jpeg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5447736/original/015145700_1765962219-Vertical_500x656_-_SIXtainability.png)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/3929526/original/096494900_1644470631-jesse-schoff-Ph2KtIqKs7c-unsplash.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9349154/original/070984700_1789475303-WhatsApp_Image_2026-09-15_at_7.23.17_PM.jpeg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5349953/original/059135700_1757945389-Bapenas.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9346936/original/048560000_1789222746-WhatsApp_Image_2026-09-12_at_19.50.01.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5010796/original/017006400_1731931573-20241117_084948.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/3518881/original/000279300_1627027346-karbon_un.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9346407/original/065215400_1789134579-WhatsApp_Image_2026-09-11_at_8.17.12_PM.jpeg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9343729/original/089297500_1788876170-ChatGPT_Image_8_Sep_2026__20.55.32.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9345099/original/099922200_1789018436-WhatsApp_Image_2026-09-09_at_8.12.08_PM.jpeg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9344539/original/028876300_1788949127-WhatsApp_Image_2026-09-09_at_15.29.33.jpeg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/1527841/original/075874300_1488787214-IMG_1488240797111.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9343987/original/026376000_1788929980-toraja_2.jpeg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/4750735/original/077432300_1708658007-danielle-cerullo-Oo-rHghLNhA-unsplash.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/4724339/original/012032600_1706013622-000_33WN2XG.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9335149/original/078274900_1787913081-email-attachment_2026_08_28_ariefhakim-at-klyid_bos-ojk-temukan-tingkat-literasi-dan-inklusi-keuangan-remaja-lebih-rendah-dari-nasional_1000423080.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5131934/original/037649600_1739432263-pexels-freestockpro-1007901.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/4633292/original/014896000_1698919401-slaapwijsheid-nl-nWt1z1Ue86k-unsplash.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9325560/original/047017200_1786876100-Untitled.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/4088113/original/071861000_1657726197-jeffery-erhunse-6D2Lmtv_X8A-unsplash.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9317342/original/017133300_1786008858-IMG_2392.jpeg)