Teka-Teki Pengakuan 50 Halaman Aidit Sebelum Berakhir di Tepi Sumur Tua

Terdesak di persembunyian kecil di Solo, pelarian Pemimpin PKI D.N. Aidit berakhir tragis di sebuah sumur tua di Boyolali pada November 1965.

Diterbitkan 30 September 2026, 08:04 WIB
Share
Copy Link
Batalkan

Liputan6.com, Jakarta - Tragedi 30 September 1965 tidak hanya mengguncang tatanan politik Indonesia, tetapi juga mengubah total takdir Dipa Nusantara Aidit.

Pria kelahiran Tanjung Pandan, Belitung, pada 30 Juli 1923 yang terlahir dengan nama Achmad Aidit ini, pernah membawa Partai Komunis Indonesia (PKI) menjadi kekuatan politik besar pada Pemilihan Umum (Pemilu) 1955.

Namun dalam sekejap, pria yang pernah mendirikan perpustakaan Antara di daerah Tanah Tinggi, Senen, Jakarta Pusat pada 1940 itu mendadak jadi buronan paling dicari di seluruh negeri.

Ketika operasi pemburuan digelar besar-besaran sejak 2 Oktober 1965, Aidit bak hilang ditelan bumi. Atas perintah Mayor Jenderal Soeharto selaku Panglima Komando Cadangan Strategis Angkatan Darat (Kostrad), Kolonel Yasir Hadibroto yang menjabat Komandan Brigade IV Infanteri memboyong pasukannya bergerak menuju Solo.

Petunjuk terang baru muncul setelah Sri Harto, petinggi PKI yang tertangkap dilepas sebagai pemancing.

Hasilnya tak sia-sia. Informasi berembus bahwa sang Pucuk Pimpinan PKI bersembunyi di Kloco, sebelum akhirnya berpindah ke sebuah rumah bekas pegawai PJKA di Desa Sambeng, persis di belakang Stasiun Balapan.

Senin malam, 22 November 1965, sekitar pukul sembilan. Pasukan Brigif IV yang dipimpin Letnan Ning Prayitno menggerebek rumah sasaran, sementara Yasir memantau dari jauh. Di sana, di salah satu sudut rumah yang redup, para tentara menemukan Aidit tengah meringkuk pasrah di balik sebuah lemari pakaian. Tanpa buang waktu, Aidit langsung diboyong ke markas Loji Gandrung untuk diinterogasi.

Di bawah pendar lampu markas malam itu, Aidit kabarnya sempat menuliskan pengakuan setebal 50 halaman yang menyatakan bahwa hanya dia yang bertanggung jawab atas peristiwa G30S. Namun, lembaran dokumen historis itu konon dibakar oleh Pangdam Diponegoro tak lama kemudian.

Menjelang dini hari, tensi di dalam ruangan kian meninggi. Aidit berkali-kali mendesak agar dibawa berhadapan langsung dengan Presiden Soekarno. Permintaan itu ditolak mentah-mentah oleh Yasir Hadibroto.

Sebagaimana dikutip Abdul Gofur dalam bukunya, Siti Hartinah Soeharto: Ibu Utama Indonesia, Yasir beralasan, "Jika diserahkan kepada Bung Karno, pasti akan memutarbalikkan fakta sehingga persoalannya akan jadi lain."

 

Akhir Hidup di Sumur Tua

Pagi belum sepenuhnya terang ketika iring-iringan tiga jip bergerak meninggalkan Solo menuju arah barat. Aidit duduk dengan tangan terborgol di jip paling belakang, tepat di samping Yasir.

Saat melintas di kawasan Boyolali, jip yang membawa Aidit mendadak memisahkan diri tanpa sepengetahuan dua jip pertama dan berbelok masuk ke Kompleks Markas Batalion 444 TNI Angkatan Darat.

"Ada sumur?" tanya Yasir singkat kepada Komandan Batalion 444, Mayor Trisno.

Trisno mengangguk lalu mengarahkan pandangan ke sebuah sumur tua di pekarangan belakang rumahnya.

Di tepi sumur itulah perjalanan hidup Menteri Koordinasi sekaligus Wakil Ketua MPRS itu sampai pada garis akhir. Sebelum eksekusi dilakukan, Yasir sempat memberinya kesempatan untuk menyampaikan kata-kata terakhir. Bukannya menyampaikan petuah atau kepasrahan, Ketua Comite Central (CC) PKI itu justru melontarkan pidato politiknya yang berapi-api.

Sikap tersebut memancing amarah Yasir dan anak buahnya. Salakan tembakan pecah di udara pagi. Timah panas menerjang dada Aidit, membuatnya roboh dan terjungkal masuk ke dalam dasar sumur tua pada 23 November 1965.

Keesokan harinya, 24 November 1965 pukul tiga sore, Yasir menemui Soeharto di Gedung Agung, Yogyakarta, untuk melaporkan tugasnya.

"Apakah yang Bapak maksudkan dengan 'bereskan' itu seperti sekarang ini, Pak?" tanya sang kolonel memberanikan diri.

Sang jenderal hanya menyambutnya dengan sebuah sunggingan senyum.

 

Jejak yang Terhapus Zaman

Hingga kini, narasi tentang akhir hidup sang tokoh Kiri itu masih diselimuti misteri. Selain cerita penembakan di Boyolali, ada pula versi lain yang menyebutkan Aidit diledakkan bersama-sama dengan rumah tempat ia ditahan. Betapapun juga, lokasi pasti jenazahnya dimakamkan tak pernah diketahui.

Kini, jika mengunjungi bekas kompleks markas Batalion 444 di Boyolali, tak ada lagi penanda yang menyisa. Lokasi sumur tua itu telah menjelma hamparan tanah berkerikil yang ditutupi rimbunnya tanaman labu siam, ubi jalar, serta naungan pohon mangga dan jambu biji.

Namun bagi mereka yang melintasi zaman itu, ingatan tentang subuh berdarah itu tak pernah benar-benar pudar. Sebagaimana dikutip dalam Seri Buku Tempo: Orang Kiri Indonesia, Aidit Dua Wajah Dipa Nusantara, Mustasyar Nahdlatul Ulama (NU) Boyolali, Tamam Saemuri (71), mengenang momen ketika Kolonel Yasir mengumumkan kematian Aidit di hadapan para aktivis Ansor kala itu.

Sambil menunjukkan sebuah arloji yang melingkar di pergelangan tangannya, sang kolonel berbisik pelan, "Ini arloji Aidit. Dia diberondong senapan AK sampai habis 1 magasin."

Baca berita terkini dan terpercaya di Berita Liputan6