Liputan6.com, Jakarta - Gempa bumi susulan masih menghantui warga di Nusa Tenggara Timur (NTT). Hingga Sabtu (29/8/2026) pukul 05.00 WIB, Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) mencatat ada 9.488 gempa susulan.
Di tengah rasa takut rumah roboh, warga tetap harus memikirkan cara mendapatkan penghasilan untuk memenuhi kebutuhan keluarga. Hal itu dirasakan Rahmat Eko Mulyati (40), warga Labuan Bajo, Manggarai Barat, NTT.
Sejak gempa mengguncang wilayah NTT pada Sabtu (15/8/2026), usaha ayam pedaging yang sebelumnya menjadi sumber penghasilan keluarganya ikut terdampak.
Advertisement
Tidak ada lagi pelanggan yang datang membeli ayam. Penghasilan pun terhenti. Sementara kebutuhan keluarga tetap berjalan.
"Anak kan tidak mau tahu orang tua tidak ada uang, mereka tetap minta uang jajan," kata Eko kepada Liputan6.com.
Eko mengatakan keluarganya memang tidak mendapat bantuan pemerintah. Menurut dia, kondisi di Labuan Bajo berbeda dengan sejumlah wilayah lain seperti Reo, Manggarai, yang mengalami kerusakan bangunan lebih banyak.
"Tapi kalau bicara korban, kami juga korban gempa," ucapnya.
Meski rumahnya tidak ambruk, Eko dan keluarganya memilih mengungsi ke tenda darurat bersama tetangga. Mereka khawatir rumah sewaktu-waktu roboh akibat gempa susulan yang masih terjadi.
Di tengah kondisi itu, Eko memilih kembali bekerja. Dia membuat keripik pisang dan singkong untuk dititipkan ke warung serta toko kue.
"Kami mau makan dan minum apa. Akhirnya saya coba buat keripik pisang dan singkong, terus titip di warung atau toko kue. Alhamdulillah ada yang beli," kata dia.
Eko membuat tiga varian keripik, yakni pisang cokelat, pisang original, dan singkong pedas manis. Keripik tersebut dijual dalam beberapa ukuran dengan harga mulai Rp 5 ribu hingga Rp 10 ribu.
Eko menyebut, usaha kecil itu kini menjadi tumpuan keluarganya. Dua anaknya bersekolah di Ende dan setiap bulan membutuhkan uang jajan serta biaya sekolah lainnya.
"Kalau saya tidak goreng keripik, kami tidak makan. Sementara anak saya dua orang sekolah di Ende. Setiap bulan mereka minta uang jajan dan kebutuhan sekolah lainnya."
Namun, mencari nafkah di tengah gempa susulan bukan perkara mudah. Eko harus siap meninggalkan aktivitasnya setiap kali tanah kembali berguncang.
"Kalau gempa datang, saya lari dulu lindungi diri. Kalau situasi aman, saya ke tempat penggorengan lagi. Begitu terus. Kadang lucu karena bolak balik lari saat gempa datang," ucapnya.
Bertahan dengan Bantuan
Kondisi serupa dirasakan Fitri Tuti Darwanti (36), warga Kecamatan Reok, Manggarai. Bersama keluarganya, Fitri masih bertahan di tenda pengungsian yang didirikan di samping rumah.
Mereka belum berani kembali ke dalam rumah karena gempa susulan masih terjadi. Rumah mereka pun mengalami keretakan akibat guncangan yang terus berulang.
"Kami masih di tenda pengungsian. Belum berani pulang ke rumah karena gempa susulan datang terus. Tapi untungnya tenda darurat kami di samping rumah," katanya.
Untuk memenuhi kebutuhan makan sehari-hari, Fitri dan keluarganya mengandalkan bantuan makanan. Beberapa hari terakhir, mereka mendapat nasi bungkus yang diduga berasal dari relawan.
Di tengah kondisi serba terbatas, dua anak Fitri sesekali masuk ke rumah untuk mengambil mainan. Namun, mereka harus segera keluar jika sudah mendapatkan barang yang dicari.
"Dua anak saya kadang kucing-kucingan masuk ke rumah ambil mainan. Tapi harus lari cepat. Takutnya saat dalam rumah, gempa datang, rumah ambruk," ucap Fitri.
Advertisement
Korban Tewas Gempa NTT
Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) mencatat gempa NTT membuat 111 orang meninggal dunia.
Plt. Kepala Pusat Data, Informasi, dan Komunikasi Kebencanaan BNPB Berton SP Panjaitan mengatakan, sebaran terbanyak korban meninggal berada di Kabupaten Manggarai dengan 45 jiwa, diikuti Manggarai Timur 38 jiwa, dan Nagekeo 13 jiwa.
Berdasarkan profil korban, sebanyak 56,4 persen merupakan perempuan dan 43,6 persen laki-laki, dengan proporsi kelompok umur didominasi lansia (45 persen) dan usia dewasa (37 persen).
Di sisi lain, Berton menambahkan bahwa jumlah warga yang berada di pos pengungsian mulai mengalami penurunan. Adapun pos pengungsian di Kabupaten Sikka dilaporkan bahwa sebanyak 712 pengungsi sudah kembali ke rumahnya masing-masing, sehingga akumulasi total pengungsi di NTT saat ini tercatat sebanyak 175.909 jiwa.
BNPB mengimbau para pengungsi yang masih ragu atau takut kembali ke rumah untuk memanfaatkan posko pengungsian terpusat guna mempermudah pendistribusian pasokan logistik, air bersih, fasilitas MCK, dapur umum, serta layanan kesehatan mendasar.
Baca berita terkini dan terpercaya di Berita Liputan6
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5572964/original/041797700_1777876963-cek_fakta_-_cpns_kejaksaan_2026.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9334225/original/010172500_1787825621-demo_motor.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9331817/original/055880700_1787567222-BSU_cek_fakta.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9310112/original/014361000_1785306495-Screenshot_2026-07-29_125347.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9326201/original/003720900_1786965126-gem3.jpg)

:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9330757/original/016770900_1787438284-Rumah_rusak_akibat_gempa_NTT.jpeg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9326201/original/003720900_1786965126-gem3.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5453828/original/053556500_1766507359-1764053184-4521804.jpg)