Liputan6.com, Jakarta - Kebakaran hutan dan lahan (karhutla) melanda sejumlah wilayah di Kalimantan Barat, Kalimantan Tengah, dan Kalimantan Selatan. Jumlah titik panas (hotspot) di tiga provinsi itu melonjak lebih dari empat kali lipat hanya dalam sehari.
Data tersebut berdasarkan pemutakhiran Sistem Pemantauan Karhutla (SIPONGI) Kementerian Kehutanan. SIPONGI memanfaatkan pemantauan satelit NASA-MODIS/Terra-Aqua untuk mendeteksi anomali panas dengan tingkat kepercayaan tinggi (high confidence).
Berdasarkan data tersebut, pada 17 Agustus 2026 pukul 07.00 WIB, tercatat 93 hotspot berkepercayaan tinggi di Kalimantan Barat, 28 hotspot di Kalimantan Tengah, dan dua hotspot di Kalimantan Selatan. Totalnya mencapai 123 titik.
Advertisement
Sehari berikutnya, jumlah hotspot di Kalimantan Barat turun tajam menjadi 15 titik. Namun, kondisi berbeda terjadi di Kalimantan Tengah yang meningkat menjadi 73 titik dan Kalimantan Selatan menjadi 21 titik. Secara keseluruhan, terdapat 109 hotspot berkepercayaan tinggi pada 18 Agustus 2026.
Lonjakan signifikan terjadi pada 19 Agustus 2026 pukul 07.00 WIB. Kalimantan Barat mencatat 259 hotspot, sedangkan Kalimantan Tengah mencapai 242 titik dan Kalimantan Selatan 17 titik.
"Jumlah keseluruhan di ketiga provinsi mencapai 518 titik atau lebih dari empat kali lipat dibandingkan hari sebelumnya," tulis Kementerian Kehutanan, Kamis (20/8/2026).
Jika dibandingkan dengan 109 hotspot pada 18 Agustus, jumlah 518 hotspot pada 19 Agustus meningkat sekitar 4,75 kali lipat.
Secara kumulatif selama 17-19 Agustus 2026, Kalimantan Barat mencatat 367 hotspot berkepercayaan tinggi. Kalimantan Tengah mencapai 343 titik, sedangkan Kalimantan Selatan 40 titik.
Dengan demikian, total hotspot berkepercayaan tinggi yang terdeteksi di ketiga provinsi selama tiga hari tersebut mencapai 750 titik.
Kementerian Kehutanan menjelaskan jumlah hotspot tidak dapat langsung disamakan dengan jumlah kejadian kebakaran. Kategori high confidence menunjukkan tingkat keyakinan deteksi yang lebih tinggi terhadap adanya anomali panas, tetapi satu kejadian kebakaran dapat terdeteksi sebagai beberapa hotspot.
Karena itu, setiap deteksi hotspot tetap membutuhkan verifikasi di lapangan untuk memastikan kondisi, lokasi, penyebab, serta luas area yang terbakar.
Jumlah hotspot yang meningkat juga tidak otomatis menggambarkan tingkat kepekatan kabut asap di suatu wilayah. Kondisi asap dipengaruhi berbagai faktor, mulai dari lokasi kebakaran, arah dan kecepatan angin, kelembapan, kondisi atmosfer, karakteristik lahan, hingga akumulasi asap dari sejumlah wilayah.
Sebaran Titik Panas
Sebaran titik panas atau hotspot yang cukup masif terlihat di Pulau Kalimantan pada 20 Agustus 2026. Hal ini terpantau dari FIRMS (Fire Information for Resource Management System) NASA.
Titik panas terlihat terkonsentrasi di sejumlah wilayah, terutama Kalimantan Barat, Kalimantan Tengah, dan Kalimantan Selatan. Sebaran juga tampak di Kalimantan Timur dan Kalimantan Utara.
Konsentrasi titik panas yang cukup padat di beberapa kawasan Kalimantan mengindikasikan adanya aktivitas panas yang perlu diwaspadai karena berpotensi berkaitan dengan kebakaran hutan dan lahan.
Advertisement
Modifikasi Cuaca
Pemerintah membuka peluang kembali menggelar Operasi Modifikasi Cuaca (OMC) untuk membantu mengatasi kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Kalimantan Barat pada 23-27 Agustus 2026.
Kepala Biro Hubungan Masyarakat dan Kerja Sama Luar Negeri Kementerian Kehutanan Ristianto Pribadi mengatakan peluang tersebut muncul berdasarkan prakiraan cuaca terkini. Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) saat ini berkoordinasi dengan pihak terkait untuk mempersiapkan pelaksanaan OMC.
OMC di Kalimantan Barat telah dilaksanakan pada 13-17 Agustus 2026 melalui Posko Pontianak. Dalam periode tersebut, dilakukan sembilan sorti penerbangan dengan estimasi volume curah hujan di wilayah penyemaian mencapai 10,92 juta meter kubik.
“Pelaksanaannya tetap didukung pemadaman darat, patroli, deteksi dini, serta koordinasi lintas kementerian/lembaga dan pemerintah daerah,” kata Ristianto dalam keterangan tertulis, Jumat (21/8/2026).
Meski peluang OMC kembali terbuka di Kalimantan Barat, kondisi berbeda terjadi di Kalimantan Tengah. Pemerintah menilai peluang pelaksanaan OMC dalam waktu dekat masih minim karena wilayah tersebut diprakirakan mengalami kondisi kering hingga akhir Agustus.
“Namun, hingga akhir Agustus 2026, kondisi cuaca di Kalimantan Tengah diprakirakan masih didominasi kondisi kering dengan pertumbuhan awan hujan yang terbatas,” kata Ristianto.
Sebelumnya, OMC di Kalimantan Tengah telah dilaksanakan dalam dua periode, yakni 27 Juli-4 Agustus dan 11-15 Agustus 2026. Operasi tersebut mencakup 13 sorti penerbangan dengan estimasi volume curah hujan di wilayah penyemaian sekitar 4,8 juta meter kubik.
Ristianto mengatakan pemantauan atmosfer tetap dilakukan untuk melihat kemungkinan munculnya awan yang memenuhi persyaratan teknis penyemaian.
Baca berita terkini dan terpercaya di Berita Liputan6
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9329565/original/022781600_1787284896-Cek_Fakta_Tidak_Benar_Ini_Link_Pendaftaran_-_2026-08-21T105934.816.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5180937/original/006715500_1743849574-20250405-Monas-HER_7.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/6591576/original/029814400_1779430905-cek_fakta_-_sertifikat_tanah_gratis.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9328649/original/001837900_1787203589-Cek_Fakta_Tidak_Benar_Ini_Link_Pendaftaran_-_2026-08-20T122532.000.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9321824/original/056409200_1786505831-pal4.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9329803/original/087808500_1787296694-WhatsApp_Image_2026-08-21_at_13.16.56.jpeg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9328943/original/029711500_1787214386-kebakaran_hutan.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9328440/original/005628000_1787194888-pal1.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9321823/original/039525400_1786505831-pal3.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9328442/original/034133700_1787194888-pal3.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5014419/original/085352200_1732093234-20241120-Anak_Sekolah_Pakistan-AFP_8.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5014412/original/011615400_1732093230-20241120-Anak_Sekolah_Pakistan-AFP_1.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9321824/original/056409200_1786505831-pal4.jpg)