Rentetan Gempa Guncang Ruteng Manggarai NTT Pagi Ini, Terbesar M 5,6

BMKG mencatat setidaknya ada tujuh aktivitas gempa yang terjadi di Kabupaten Manggarai pada Kamis (20/8/2026) pagi ini.

Diterbitkan 20 Agustus 2026, 07:30 WIB
Share
Copy Link
Batalkan

Liputan6.com, Jakarta - Wilayah Kabupaten Manggarai, Nusa Tenggara Timur (NTT) dan sekitarnya diguncang rentetan gempa bumi sejak Kamis (20/8/2026) dini hari hingga pagi. Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) mencatat setidaknya ada tujuh aktivitas gempa hingga pukul 07.15 WIB.

Guncangan terkuat tercatat pada pukul 05.45 WIB dengan kekuatan Magnitudo 5,6. BMKG melaporkan pusat gempa berada di darat, sekitar 37 kilometer timur laut Ruteng, Manggarai, dengan kedalaman 10 kilometer.

Berikut rentetan gempa yang tercatat BMKG hingga pagi ini:

  • Gempa pertama: Pukul 02.11.18 WIB, magnitudo 4,2, kedalaman 7 kilometer, berpusat di laut 47 kilometer utara Ruteng - Manggarai, dirasakan III MMI di Kab. Manggarai.
  • Gempa kedua: Pukul 04.35.34 WIB, magnitudo 4,4, kedalaman 5 kilometer, berpusat di laut 47 kilometer utara Ruteng - Manggarai, dirasakan III MMI di Kab. Nagekeo.
  • Gempa ketiga: Pukul 04.43.38 WIB, magnitudo 4,4, kedalaman 8 kilometer, berpusat di laut 50 kilometer utara Ruteng - Manggarai, dirasakan II-III MMI di Kab. Manggarai dan II MMI di Kab. Nagekeo.
  • Gempa keempat: Pukul 05.28.10 WIB, magnitudo 4,8, kedalaman 10 kilometer, berpusat di darat 34 kilometer timur laut Ruteng - Manggarai, dirasakan III-IV MMI di Kab. Manggarai.
  • Gempa kelima: Pukul 05.45.19 WIB, magnitudo 5,6, kedalaman 10 kilometer, berpusat di darat 37 kilometer timur laut Ruteng - Manggarai, dirasakan V-VI MMI di Kab. Manggarai, IV MMI di Kab. Nagekeo, III-IV MMI di Kab. Manggarai Barat, serta III MMI di Kab. Sikka, Kota Bima, dan Kab. Bima.
  • Gempa keenam: Pukul 05.55.49 WIB, magnitudo 4,2, kedalaman 6 kilometer, berpusat di darat 32 kilometer timur laut Ruteng - Manggarai, dirasakan II MMI di Kab. Manggarai.
  • Gempa ketujuh: Pukul 06.20.13 WIB, magnitudo 4,5, kedalaman 3 kilometer, berpusat di laut 39 kilometer utara Ruteng - Manggarai, dirasakan II MMI di Kab. Manggarai.

Gempa Susulan di NTT

Gempa susulan masih terus mengguncang Nusa Tenggara Timur (NTT) setelah gempa utama berkekuatan magnitudo (M) 7,7 pada 15 Agustus 2026.

Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) memperkirakan aktivitas gempa susulan masih akan berlangsung dalam beberapa minggu ke depan, meski intensitasnya secara bertahap akan menurun.

Deputi Bidang Geofisika BMKG Dr. Nelly Florida Riama mengatakan, berdasarkan pemodelan sementara terhadap peluruhan gempa susulan, aktivitas tersebut diperkirakan terus menurun hingga mencapai tingkat yang relatif rendah dalam beberapa minggu mendatang.

"Bahwa berdasarkan hasil pemodelan sementara terhadap peluruhan gempa susulan, aktivitas ini diperkirakan akan terus menurun secara bertahap dalam beberapa minggu ke depan," kata Nelly dalam jumpa pers daring di YouTube BNPB, Rabu (19/8/2026).

Menurut Nelly, berdasarkan model yang digunakan BMKG, laju gempa susulan diperkirakan mulai berada pada tingkat relatif rendah dalam dua hingga tiga minggu sampai sekitar satu bulan ke depan.

"Model yang ada saat ini memperkirakan laju gempa susulan dapat mencapai tingkat yang relatif rendah di 2 atau 3 sampai satu bulan ke depan, mungkin di akhir September 2026," tambahnya.

Namun, Nelly menegaskan perkiraan tersebut bukan batas waktu bahwa gempa susulan akan berhenti sepenuhnya.

"Perlu kami tegaskan juga bahwa ini bukan berarti bahwa setelah tanggal tersebut gempa tidak dapat terjadi, ya. Estimasi ini sifatnya sangat dinamis dan akan terus diperbaharui sesuai dengan perkembangan data gempa susulan yang kami rekam," katanya.

Sudah 3.002 Kali

Berdasarkan data BMKG hingga Rabu (19/8/2026) pukul 14.00 WIB, jumlah gempa susulan di NTT telah mencapai 3.002 kejadian.

Kekuatan gempa susulan tersebut bervariasi, mulai dari M1,1 hingga M6,2.

"Dan sebanyak 86 gempa bumi susulan ini dilaporkan dirasakan oleh masyarakat, dan terdapat 25 kejadian dengan magnitudo 5 atau lebih," ungkap Nelly.

Banyaknya gempa susulan tersebut merupakan bagian dari proses alami setelah gempa utama.

Nelly menjelaskan kerak bumi membutuhkan waktu untuk menyesuaikan diri setelah terjadi pelepasan energi dalam jumlah besar akibat gempa utama.

"Sebenarnya itu adalah bagian dari proses penyesuaian kerak bumi atau pelepasan energi sehingga mendapatkan kesetimbangan yang baru, setelah ada terjadinya gempa utama yang besar," terang Nelly.

Baca berita terkini dan terpercaya di Berita Liputan6