Arab Saudi Pangkas Harga Minyak untuk Pasar Asia

Arab Saudi memangkas harga minyak untuk pasar Asia disebutkan termasuk terbesar sejak Juni 2020.

Diterbitkan 05 Oktober 2026, 07:35 WIB
Share
Copy Link
Batalkan

Liputan6.com, Jakarta - Arab Saudi secara tak terduga memangkas harga minyak mentah pada November 2026 untuk pasar Asia. Namun, Arab Saudi menaikkan harga minyak untuk Eropa Barat Laut dan Mediterania.

Hal itu berdasarkan dokumen penetapan harga yang dirilis pada 5 Oktober 2026, demikian mengutip Strait Times, Senin pekan ini.

Eksportir minyak mentah terbesar di Timur Tengah itu menetapkan harga jual resmi atau OSP (Official Selling Price) minyak mentah pada November bagi pasar Asia sebesar US$ 5 per barel di bawah harga rata-rata harga minyak Oman dan Dubai, turun US$ 3 dibandingkan bulan sebelumnya.

Besaran diskon untuk November ini merupakan yang terbesar sejak Juni 2020, berdasarkan data Reuters.

Langkah ini bertolak belakang dengan ekspektasi kenaikan OSP sebesar US$ 3 per barel untuk November seperti yang diprediksi dalam survei Reuters yang sejalan dengan kenaikan harga acuan minyak Timur Tengah.

Perusahaan minyak negara Saudi Aramco melakukan pemotongan harga yang lebih besar, yakni US$ 5 per barel, untuk OSP bulan November bagi jenis minyak mentah yang lebih berat, Arab Medium dan Arab Heavy yang dijual ke Asia.

Aramco mempertimbangkan untuk menawarkan diskon bagi minyak yang dimuat dari Oman guna mengompensasi pembeli atas rekor tingginya biaya pengangkutan, menurut sumber yang mengetahui masalah tersebut pekan lalu. Langkah ini diambil untuk mempertahankan pangsa pasar setelah konflik regional berdampak pada ekspor.

Secara terpisah, Saudi Aramco menaikkan OSP November untuk wilayah Eropa Barat Laut sebesar US$ 3 per barel untuk semua jenis minyak mentah setelah kembali melakukan ekspor dari pelabuhan Yanbu di Laut Merah.

Aramco tidak mengubah harga bagi pembeli di Amerika Serikat.

Arab Saudi dan anggota OPEC+ lainnya sepakat pada 4 Oktober untuk mempertahankan target produksi minyak tetap stabil pada November. Hal ini sejalan dengan perkiraan penyesuaian kebijakan produksi lebih lanjut kemungkinan besar tidak akan dilakukan hingga tahun depan.

OPEC+ Tahan Target Produksi, Harga Minyak Dunia Bertahan di Atas US$ 100

Sebelumnya, Organisasi Negara-negara Pengekspor Minyak (OPEC) dan sekutunya atau OPEC+ sepakat mempertahankan target produksi minyak untuk November 2026.

Keputusan itu diambil dalam pertemuan daring singkat pada Minggu. Tujuh anggota inti OPEC+ yang mengambil keputusan tersebut adalah Arab Saudi, Rusia, Irak, Kuwait, Aljazair, Kazakhstan, dan Oman.

Mengutip CNBC, Minggu (4/10/2026), keputusan ini sesuai dengan ekspektasi pasar bahwa OPEC+ kemungkinan belum akan melakukan penyesuaian besar terhadap kebijakan produksinya hingga tahun depan.

Produsen OPEC+ di kawasan Teluk masih memproduksi minyak jauh di bawah target. Kondisi ini terjadi akibat gangguan ekspor yang berlanjut akibat perang AS-Israel dengan Iran.

Analis UBS Giovanni Staunovo mengatakan produksi tujuh anggota inti OPEC+ tetap tidak berubah, sesuai dengan ekspektasi pasar.

“Kelompok OPEC+ yang terdiri dari tujuh negara mempertahankan batas produksi mereka, sesuai dengan ekspektasi pasar. Meski demikian, meskipun arus minyak melalui Selat Hormuz meningkat, tingkat produksi mereka masih jauh di bawah kuota,” kata Staunovo.

“Akibatnya, pasar minyak masih ketat.”

 

Harga Minyak Masih di Atas US$ 100

Harga minyak sempat turun pada Jumat setelah para pemimpin Eropa menyetujui permintaan Presiden AS Donald Trump untuk melepas cadangan diesel.

Harga minyak mentah juga melemah setelah negara-negara G7 mengumumkan pelepasan cadangan diesel dan minyak mentah untuk meredam lonjakan harga bahan bakar.

Harga minyak Brent, yang menjadi patokan internasional, turun 6 sen menjadi US$ 102,25 per barel. Sementara itu, minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) AS turun US$ 1,76 menjadi US$ 91,11 per barel.

G7 akan melepas 100 juta barel cadangan minyak dalam empat bulan ke depan. Pelepasan tersebut akan dilakukan secara besar-besaran pada 20 hari pertama, terutama untuk cadangan diesel.

Anggota G7 terdiri dari Prancis, Kanada, Jerman, Italia, Jepang, Inggris, dan Amerika Serikat.

Meski ada pengumuman tersebut, harga Brent masih bertahan di atas US$ 100 per barel. Angka ini jauh lebih tinggi dibandingkan sekitar US$ 73 per barel sebelum perang Iran dimulai pada akhir Februari.

 

Baca berita terkini dan terpercaya di Berita Liputan6