Cerita Stasiun Tawang yang Lahir dari Tanah Rawa

Stasiun Tawang dirancang arsitek Belanda, Sloth-Blauwboer.

Diterbitkan 12 Agustus 2026, 15:53 WIB
Share
Copy Link
Batalkan

Liputan6.com, Jakarta - Di utara Kota Lama Semarang, sebuah bangunan tua masih berdiri di tengah kesibukan perjalanan kereta api. Namanya Stasiun Semarang Tawang.

Usianya sudah lebih dari satu abad. Tapi, fungsinya tidak pernah berubah. Kereta masih datang dan berangkat dari tempat yang sama. Penumpang masih memenuhi peron.

Sebelum berdiri kokoh seperti sekarang, Stasiun Tawang dibangun di kawasan yang dahulu berupa rawa. Tanahnya labil dan tak pernah lepas dari masalah banjir.

"Wilayah di utara Kota Lama Semarang saat itu masih berupa rawa dan tanah labil," tulis Hadi M. Djuraid dan tim dalam Buku Sejarah Perkeretaapian Indonesia: Dulu, Kini, dan Mendatang yang dikutip Liputan6.com, Rabu (12/6/2026).

Pilihan membangun stasiun di tempat tersebut tentu bukan tanpa alasan. Pada masa itu, kawasan Kota Lama merupakan salah satu pusat kegiatan perdagangan Semarang.

Lokasinya juga dekat dengan jalur dan kawasan pelabuhan. Keberadaan stasiun menjadi penting untuk mendukung pergerakan orang dan barang.

Sebelum Stasiun Tawang berdiri, perusahaan kereta api Nederlands-Indische Spoorweg Maatschappij atau NIS sudah lebih dulu memiliki stasiun di Semarang. Stasiun tersebut kemudian tidak lagi mampu menampung perkembangan aktivitas perkeretaapian. Karena itu, dibutuhkan stasiun baru. Tawang kemudian dipilih sebagai lokasi.

"Stasiun ini nantinya diperuntukkan bagi angkutan penumpang, sedangkan Stasiun Semarang kemudian dikhususkan sebagai stasiun bongkar muat barang," cerita Hadi M. Djuraid.

Stasiun Tawang dirancang arsitek Belanda, Sloth-Blauwboer. Peletakan batu pertamanya dilakukan pada 1911 oleh Anna Wilhelmina van Lennep, putri Kepala Teknisi NISM.

Arsitektur yang Memikat

Karena kondisi tanah labil, sebelum pembangunan dimulai, tanah harus dipadatkan. Prosesnya dilakukan selama berbulan-bulan dengan menggunakan lempengan pelat beton.

Bangunannya dibuat dengan konstruksi beton bertulang. Bentuknya memanjang sekitar 168–175 meter.

Bagian utama berada di tengah. Atapnya dibuat lebih tinggi dan dilengkapi kubah besar berbentuk persegi. Atap kubah tersebut dilapisi tembaga.

Di dalam bangunan utama, pengunjung bisa menemukan hall dengan langit-langit tinggi. Ruangan ini ditopang empat kolom utama.

"Sepintas mirip dengan bagian tengah pendopo joglo (rumah adat Jawa)," tulis Hadi M. Djuraid.

Detail lainnya juga tidak kalah menarik. Interior hall dihiasi relief perunggu karya pemahat Willem Brouwer dari Leiderdorp. Dahulu, terdapat tiga konter loket untuk melayani penumpang. Ada pula kios yang menjual koran dan buku.

Jendela-jendela di sekeliling kubah bukan sekadar pemanis. Jendela tersebut membantu menerangi hall sekaligus menjadi ventilasi udara.

Pencahayaan juga masuk melalui jendela pada fasad bangunan utama. Kacanya berasal dari perusahaan J. H. Schouten di Den Haag.

Di kedua sisi bangunan utama terdapat konstruksi besi berbentuk pelana. Konstruksi tersebut dibuat oleh Werkspoor di Amsterdam. Atapnya menggunakan genteng buatan Stoom Pannen Fabriek van Echt.

Pada masa kolonial, kedua sayap bangunan memiliki fungsi berbeda. Sayap kanan digunakan untuk ruang tunggu kelas satu, ruang kepala stasiun, ruang sinyal, dan ruang operasional.

Sementara itu, sayap kiri menjadi ruang tunggu kelas dua dan tiga. Ruang tersebut pada masa kolonial diperuntukkan bagi pribumi. Tepatnya 1 Juni 1914, Stasiun Tawang resmi digunakan.

Wajah Baru Stasiun Tawang

Lebih dari satu abad berlalu. Stasiun Tawang tetap digunakan. Seiring bertambahnya jumlah penumpang, fasilitasnya terus disesuaikan.

KAI meningkatkan pelayanan agar memenuhi Standar Pelayanan Minimal atau SPM. Sejumlah ruang juga mengalami perubahan fungsi.

Ruang customer service, loket, dan gerai ATM yang sebelumnya berada di dalam hall dipindahkan ke area samping hall. Ruang tunggu zona 3 juga diperluas. Kursi tunggu ditambahkan di sisi kanan dan kiri hall.

Kini, hall utama digunakan sebagai ruang tunggu zona 2. Area ini diperuntukkan bagi penumpang yang sudah memiliki tiket dan menunggu waktu boarding atau masuk ke peron.

Di area tersebut juga tersedia check-in counter untuk mencetak tiket. Ada pula spot untuk berswafoto.

Meski fasilitasnya terus berkembang, karakter bangunan lamanya tetap dipertahankan. Stasiun Tawang bahkan telah ditetapkan sebagai bangunan cagar budaya.

Penetapan itu berdasarkan Surat Keputusan Walikota Nomor 646/50/1992 dan Surat Keputusan Menteri Kebudayaan dan Pariwisata Nomor PM.57/PW.007/MKP/2010.

Stasiun ini juga tercatat dalam Registrasi Nasional Cagar Budaya dengan nomor RNCB.20160711.02.001015. Kini, Stasiun Tawang menjadi salah satu ikon sejarah Semarang.

Baca berita terkini dan terpercaya di Berita Liputan6