Komisi IX DPR: Nakes Jangan Hilang Empati

Kecaman muncul setelah viral komentar tenaga kesehatan terhadap pasien BPJS yang kemudian meninggal dunia, memicu sorotan terhadap etika profesi di media sosial.

Diterbitkan 06 Agustus 2026, 14:11 WIB
Share
Copy Link
Batalkan

Liputan6.com, Jakarta - Anggota Komisi IX DPR RI dari Fraksi Partai Kebangkitan Bangsa (PKB), Asep Rommy Romaya, mengecam keras komentar sejumlah tenaga kesehatan (nakes) yang dinilai tidak berempati terhadap pasien peserta BPJS Kesehatan di media sosial.

Asep menegaskan tenaga kesehatan harus berhati-hati dalam menyampaikan komentar di ruang digital, terutama yang berkaitan dengan pelayanan kesehatan. Menurutnya, profesi tenaga kesehatan memiliki tanggung jawab moral yang besar karena menyangkut kepercayaan masyarakat.

"Kami mengingatkan meskipun di media sosial para nakes tetap abdi negara yang mempunyai tanggung jawab moral tinggi. Mereka harus berhati-hati saat memberikan komentar atau tanggapan atas isu atau peristiwa karena dampaknya bisa panjang," ujar Asep kepada wartawan, Kamis (6/8/2026).

Pernyataan tersebut disampaikan menyusul viralnya kisah seorang pasien BPJS bernama Yurizal yang mengaku harus menunggu ruang perawatan hingga delapan jam di rumah sakit. Unggahan itu kemudian mendapat balasan berupa cibiran dari sejumlah akun yang diidentifikasi sebagai tenaga kesehatan.

Beberapa hari kemudian, tepatnya pada 31 Juli 2026, Yurizal dilaporkan meninggal dunia. Peristiwa tersebut memicu kemarahan publik terhadap respons sejumlah tenaga kesehatan yang dinilai tidak beretika.

Asep menegaskan profesi tenaga kesehatan bukan sekadar pekerjaan, melainkan panggilan kemanusiaan. Karena itu, dokter, perawat, maupun tenaga kesehatan lainnya harus menjaga sikap, baik saat memberikan pelayanan secara langsung maupun ketika menyampaikan pendapat di media sosial.

"Media sosial bukan ruang bebas tanpa batas. Apa yang disampaikan tenaga kesehatan akan dinilai masyarakat dan mencerminkan integritas profesinya. Karena itu, mereka harus bijak menggunakan media sosial, menjaga tutur kata, serta menghindari komentar yang merendahkan atau menyakiti pasien maupun keluarganya," tegasnya.

 

 

Ingatkan Ada Sumpah dan Janji Profesi yang Sudah Diucap

Ia juga mengingatkan bahwa setiap tenaga kesehatan telah mengucapkan sumpah atau janji profesi yang menempatkan keselamatan pasien, nilai kemanusiaan, serta penghormatan terhadap martabat setiap orang sebagai prinsip utama dalam menjalankan tugas.

"Jangan sampai hilang rasa empati. Masyarakat menaruh kepercayaan yang sangat besar kepada tenaga kesehatan. Kepercayaan itu harus dijaga dengan sikap yang mencerminkan kepedulian," ujarnya.

Asep menegaskan pelayanan kesehatan harus diberikan secara adil kepada seluruh masyarakat tanpa diskriminasi. Menurutnya, perbedaan status kepesertaan BPJS, kelas perawatan, maupun kemampuan ekonomi tidak boleh memengaruhi kualitas pelayanan ataupun cara tenaga kesehatan memperlakukan pasien.

Selain itu, ia menilai tenaga kesehatan yang terbukti melanggar etika profesi melalui komentar di media sosial perlu mendapatkan pembinaan dan sanksi sesuai ketentuan yang berlaku.

"Penegakan etika penting dilakukan bukan semata-mata untuk menghukum, tetapi agar kejadian serupa tidak terulang. Marwah profesi tenaga kesehatan harus dijaga karena profesi ini dibangun di atas kepercayaan, empati, dan pengabdian kepada sesama manusia," pungkasnya.

 

Menungu 8 Jam, Kemudian Meninggal Dunia

Pasien bernama Yurizal Tri Chaerawan meninggal dunia setelah sebelumnya mengaku harus menunggu hingga delapan jam untuk mendapatkan ruang perawatan di sebuah rumah sakit. Pengalaman tersebut sempat dibagikan Yurizal melalui media sosial beberapa hari sebelum wafat.

"8 jam belum dapat ruangan. Enggak mau spill RS-nya soalnya gue pakai BPJS," tulis Yurizal dalam akun Threadsnya pada Rabu (22/7/2026).

Bukannya mendapat simpati, unggahan itu malah diserbu komentar bernada sinis, yang belakangan malah diketahui berasal dari para tenaga kesehatan (nakes) di rumah sakit.

"PP nya kayak orang Have tapi aslinya Haven’t kah? haven’t some brain cells," timpal akun @erudarahaadini, yang diduga kuat seorang nakes.

"Kalo full, mau dipindahkan kemana? Mau di lantai? Gk ada hubungannya sama BPJS atau nggak BPJS yang make banyak, otomatis yg dirawat juga banyak, ga cuma u sendiri. Kalo mau pindah cepat, noh ruang jenazah selalu kosong. Ngeselin dah, nakes/RS bahkan pemerintah melalui BPJS berusaha bantuin, masyarakatnya malah gini," tulis akun @bennychrstn.

Setelah ditelusuri warganet, pemilik akun @bennychrstn diduga merupakan alumni Fakultas Kedokteran UI.

Sementara akun @1amdika menuliskan komentar yang menyebut pasien akan lebih cepat mendapatkan penanganan apabila mengalami serangan jantung sehingga langsung ditangani di instalasi gawat darurat (IGD).

Komentar lain yang juga menuai kritik berasal dari akun @nandafadyla_ yang menuliskan kalimat singkat, "Bacot nih pasien."

Usai komentar-komentar nirempati itu viral, Yurizal dikabarkan meninggal dunia. Kabar lelayu soal meninggalnya Yurizal sendiri diumumkan sepupunya, Hilda Aprianti, dalam sebuah unggahan pada Sabtu, 1 Agustus 2026 lalu. Hilda menyebutkan, Yurizal meninggal dunia pada 31 Juli.

"Selamat jalan ya, Wi. Semoga husnul khotimah. Semoga diberikan tempat terbaik di sisi Allah," tulis Hilda.

 

Baca berita terkini dan terpercaya di Berita Liputan6