Tri Tito Karnavian Dukung Tenun Tana Toraja Jadi Penggerak Ekonomi Kreatif

Tri Tito Karnavian mendorong pengembangan tenun Tana Toraja tidak hanya sebagai warisan budaya.

Diterbitkan 08 Juli 2026, 18:48 WIB
Share
Copy Link
Batalkan
Jadi intinya...
  • Dekranas mendukung tenun Toraja sebagai penggerak ekonomi kreatif dan warisan budaya.
  • Tenun Toraja perlu beradaptasi pasar, kembangkan kreasi baru, dan dilindungi indikasi geografis.
  • Tenun dan kriya Toraja berpotensi besar tingkatkan ekonomi lokal hingga internasional.

Liputan6.com, Jakarta - Ketua Harian Dewan Kerajinan Nasional (Dekranas) Tri Tito Karnavian mendukung pengembangan tenun Tana Toraja sebagai penggerak ekonomi kreatif yang mampu meningkatkan kesejahteraan masyarakat.

Pasalnya, wastra tenun Tana Toraja merupakan warisan budaya yang kuat dan telah menjadi bagian dari kehidupan masyarakat.

Hal ini disampaikannya saat meresmikan kegiatan Dekranasda Tana Toraja “Pelatihan Pembuatan dan Pemanfaatan Pewarna Alami” di Pasar Seni Makale, Tana Toraja, Sulawesi Selatan (Sulsel), Senin (6/7/2026).

Disebut, kelestarian tenun tersebut dapat terus terjaga karena masih digunakan dalam kehidupan sehari-hari.

"Oleh sebab itu, tentu mengandung motif-motif ataupun filosofi yang berkaitan dengan kepercayaan, dan status sosial masyarakat di Tana Toraja ini. Sehingga ada motif-motif yang memang harus dijaga kelestariannya," kata Tri.

Meski demikian, di tengah perkembangan dunia fesyen dan arus modernisasi, tenun Tana Toraja juga perlu beradaptasi dengan kebutuhan pasar.

Menurutnya, wastra tidak hanya dilestarikan sebagai warisan budaya, tetapi juga dikembangkan sebagai sumber ekonomi kreatif yang mampu meningkatkan kesejahteraan masyarakat. Apalagi, sektor ini telah memberikan kontribusi nyata bagi perekonomian daerah maupun nasional.

"Secara global menjadi sumbangan (ekonomi) dari UMKM khususnya kerajinan. Karena ini masuk ekonomi kreatif, pasti kita ingin ini menjadi suatu sumber ekonomi yang unggul," ungkap Tri.

 

Kreasi Baru

Melalui pelatihan tersebut, Tri berharap muncul lebih banyak kreasi baru yang berangkat dari kekayaan wastra Tana Toraja. Meski memiliki motif-motif khas yang harus dipertahankan, pengembangan variasi motif dan teknik produksi tetap diperlukan agar produk semakin diminati pasar.

Selain itu, Tri menekankan pentingnya perlindungan terhadap wastra daerah melalui indikasi geografis. Menurutnya, identitas produk, termasuk motif-motif yang telah ada maupun yang akan dikembangkan, perlu didokumentasikan dan didaftarkan kepada pihak berwenang.

"Agar tidak diambil oleh produsen-produsen yang mungkin ingin memperbanyak produk ini, namun kemudian tidak memberikan nilai ekonomi kepada pemerintah daerah," ungkapnya.

Tri menambahkan, Tana Toraja juga memiliki beragam produk kriya lain yang berpotensi dipasarkan hingga ke tingkat internasional. Nilai lebih berikutnya, selain terkenal sebagai penghasil kopi, Tana Toraja juga memiliki kekayaan budaya yang menjadi daya tarik wisata sekaligus dapat memberikan nilai tambah bagi perekonomian.

"Ini juga sebagai bentuk sumber pendapatan lagi. Tidak hanya kepada pendapatan daerah tapi juga pendapatan masyarakat," tandasnya.

Baca berita terkini dan terpercaya di Berita Liputan6