Sektor Ekonomi Kreatif Tumbuh 6,86%, Lampaui Laju Ekonomi Indonesia

BPS mengajak pelaku usaha kreatif untuk berpartisipasi dalam Sensus Ekonomi 2026 bagi sektor ekonomi kreatif.

Diterbitkan 29 Juni 2026, 17:45 WIB
Share
Copy Link
Batalkan

Liputan6.com, Jakarta - Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat sektor ekonomi kreatif (ekraf) mencatat pertumbuhan yang tinggi dibandingkan pertumbuhan ekonomi Indonesia. Selain itu, tenaga kerja yang bekerja di sektor ekraf didominasi generasi milenial.

Kepala Badan Pusat Statistik (BPS) Amalia Adininggar Widyasanti menuturkan, sektor ekraf hingga 2025 memiliki tren pertumbuhan yang tinggi, dengan rata-rata mencapai 6,86%. Angka itu sekitar 1,7% lebih di atas rata-rata pertumbuhan ekonomi nasional.

Di tengah tren yang meningkat, pertumbuhan ekonomi di sektor ekraf disumbang dari sektor kuliner, televisi dan radio, fashion, aplikasi dan game developer.

Amalia menuturkan, sebaran tenaga kerja ekonomi kreatif saat ini masih didominasi Jawa Barat. Diikuti Jawa Tengah dan Jawa Timur dengan proporasi tenaga kerja ekonomi kreatif sektiar 57,81% dari total tenaga kerja di sektor ekonomi kreatif dengan rata-rata 70-75% pekerja berada di perkotaan. Sementara 25% pekerja dari pedesaan.

Amalia menuturkan, berdasarkan subsector, jumlah tenaga kerja terbesar ada di sektor kuliner, fashion, kriya. Ketiga subsektor itu termasuk dalam tiga besar penyumbang nilai ekspor barang ekraf yang mencapai US$ 2,61 miliar pada pertengahan Juni 2026.

“Yang menarik adalah 36,63% orang yang bekerja di sektor ekraf adalah generasi milenial, dan 27,94% adalah generasi X, dan juga generasi Z 26,40%,” ujar dia, dalam acara konferensi pers Sensus Ekonomi 2026 Sektor Ekonomi Kreatif di Jakarta, mengutip Antara, Senin, (29/6/2026).

Didominasi Perempuan

Ia menuturkan, karakteristik tenaga kerja yang terserap dari sektor ekonomi kreatif mayoritas didominasi oleh pekerja perempuan dengan rata-rata 58%.

“Satu keunggulan dari sektor ekonomi kreatif ini adalah dia tumbuh cepat tetapi inklusif jadi tidak hanya tumbuh tetapi juga memberikan spillover effect (efek limpahan) terhadap penyerapan lapangan pekerjaan yang besar dan juga dirasakan oleh banyak orang,” kata dia.

Amalia menuturkan, menurut data statistik BPS, hingga tahun 2025 tenaga kerja yang terserap dalam sektor ekonomi kreatif mencapai 27,4 juta orang atau sekitar 18,7% dari total penyerapan tenaga kerja di Indonesia,

Sektor ekonomi kreatif juga diminati oleh perempuan dengan sekitar 58,4% penduduk bekerja di sektor ini. Kemudian sisanya laki-laki sekitar 41%.

Ia mengatakan, dengan data ini terlihat sektor ekonomi kreatif memiliki potensi cukup baik untuk pemberdayaan perempuan dan dampak secara umum bisa menjadi upaya dalam mengurangi kemiskinan.

Sensus Ekonomi 2026

Ia mengajak seluruh pelaku usaha kreatif untuk ikut berpartisipasi dalam menyukseskan Sensus Ekonomi 2026 bagi sektor ekonomi kreatif. Hal ini karena data yang dikumpulkan akan memberikan dampak strategis terhadap potensi investasi, penciptaan lapangan kerja, dan perkembangan kekayaan intelektual, hingga peningkatan daya saing bangsa.

“Kualitas data akan sangat menentukan kualitas kebijakan dan efektivitas program pembangunan ekonomi kreatif di depan, sebagai landasan komprehensif dalam penyusunan kebijakan yang adaptif dan berdampak,” ujar dia.

 

Baca berita terkini dan terpercaya di Berita Liputan6