Kapolri: Kerusuhan di Ambon Akibat Provokasi RMS

Polda Maluku sebenarnya sudah mengantisipasi menjelang HUT RMS dengan menggelar operasi khusus. Situasi Ambon lebih tenang setelah siang tadi mencekam. Pengungsi ditampung di berbagai tempat umum dan rumah ibadah.

Diterbitkan 26 April 2004, 23:38 WIB
Share
Copy Link
Batalkan
Liputan6.com, Jakarta: Pemerintah menyatakan, kerusuhan di Ambon, Maluku, Ahad kemarin, terjadi bukan karena isu agama, melainkan provokasi aktivis Republik Maluku Selatan (RMS). Kepolisian Daerah Maluku sebenarnya sudah mengantisipasi menjelang peringatan hari ulang tahun Republik Maluku Selatan dengan menggelar operasi khusus. Namun, beberapa bendera RMS masih berkibar di sejumlah lokasi yang sulit dijangkau. Peringatan hari jadi RMS pun tetap berlangsung di rumah pimpinan Forum Kedaulatan Maluku Alex Manuputty di kawasan Kudamati. &quotIni sangat disayangkan,&quot kata Kepala Polri Jenderal Polisi Da`i Bachtiar di Jakarta, seusai berdialog jarak jauh dengan Musyawarah Pimpinan Daerah Maluku, Senin (26/4).

Untuk memperkuat petugas keamanan, Polri mengirimkan dua satuan setingkat kompi Brigade Mobil Kelapa Dua, Cimanggis, Depok, Jawa Barat, menuju Ambon. Pasukan diberangkatkan dengan menggunakan dua pesawat Hercules dari Bandar Udara Halim Perdanakusumah, Jakarta Timur. Rencananya, besok juga bakal diberangkatkan dua SSK anggota Batalyon 413 Komando Cadangan Strategis TNI Angkatan Darat dari Solo, Jawa Tengah, menuju Ambon [baca: Gubernur Maluku: Ambon Aman].

Sementara itu, situasi Ambon dilaporkan lebih tenang setelah siang tadi mencekam [baca: Suasana Kota Ambon Masih Mencekam]. Meski demikian, sekelompok orang masih berkumpul di Pelabuhan Yos Sudarso, Ambon. Situasi pelabuhan pun sempat memanas saat Kapal Motor Dobonsolo merapat untuk menurunkan penumpangnya yang diduga berasal dari luar kota. Situasi bisa dikendalikan setelah dua truk personel Brimob mengamankan para penumpang.

Hingga petang ini, jumlah korban tewas mencapai 16 orang. Sebagian terkena akibat peluru nyasar polisi yang berusaha menghalau massa dari kedua kelompok [baca: Ambon Bergolak, 12 Tewas]. Sementara korban luka mencapai 125 orang. Selain terkena lemparan batu sebagian korban terkena senjata tajam. Para korban dievakuasi ke sejumlah rumah sakit di Kota Ambon seperti RS Al-Fatah, RS Halussi, RS Bakti Rahayu, dan RS Gereja Protestan Maluku.

Keadaan mencekam tadi siang membuat aktivitas warga Ambon lumpuh total. Semua pertokoan dan perkantoran tutup. Pasar tradisional yang sempat buka juga langsung menghentikan aktivitasnya. Begitu pula kantor-kantor swasta di beberapa kawasan seperti Jalan Ayepati, Jalan Sam Ratulangi, Jalan A.M. Sangaji, dan Jalan Sultan Harun. Di berbagai lokasi, terlihat aparat keamanan berjaga-jaga. Warga juga memblokir Jalan Batu Merah, di kawasan Mardika, untuk mengantisipasi keadaan.

Sementara ratusan warga Talake dan beberapa kawasan perbatasan seperti Mardika dan Kota Rumah Tiga mengungsi ke tempat aman. Arus pengungsian sudah terjadi sejak kemarin sore, beberapa saat setelah kerusuhan. Pengungsi sejauh ini ditampung di berbagai tempat umum dan rumah ibadah. Kondisi mereka memprihatinkan karena hanya membawa pakaian seadanya. Hingga kini belum ada bantuan dari pemerintah daerah ataupun pihak lainnya. Warga mengharapkan, ketegangan segera berakhir sehingga mereka dapat kembali ke rumah masing-masing.

Berdasarkan informasi yang dihimpun Liputan6.com, anggota intelijen nasional akan dikerahkan untuk menganalisa dan memetakan masalah dan latar belakang konflik di Ibu Kota Negeri Seribu Pulau. Sejauh ini, polisi sudah menahan 24 orang yang diduga ikut terlibat dalam kerusuhan. Sebelumnya, polisi juga sudah memeriksa delapan tersangka pengibar bendera RMS menjelang HUT kelompok separatis itu.(ZAQ/Tim Liputan 6 SCTV)

Baca berita terkini dan terpercaya di Berita Liputan6