Warga Tewas saat Kericuhan Pejompongan, Begini Cerita dari Keluarga

Bambang sehari-hari berjualan di pinggir Jalan Pejompongan Raya.

Diterbitkan 28 Agustus 2026, 20:41 WIB
Share
Copy Link
Batalkan

Liputan6.com, Jakarta - Bambang Setiawan, warga Bendungan Hilir, Tanah Abang, Jakarta Pusat, tewas saat kericuhan terjadi di kawasan Jalan Pejompongan Raya, Jakarta Pusat, Kamis (27/8/2026) malam. Bambang sehari-hari berjualan di pinggir Jalan Pejompongan Raya.

Sebelum kejadian, istrinya, Sudarsi (56), masih menemani Bambang berjualan. Mereka sebenarnya berencana menutup lapak sekitar pukul 18.00 WIB.

Namun, situasi di sekitar lokasi mulai ramai oleh massa. Sudarsi kemudian meminta suaminya menutup dagangan.

“Karena saya lihat massa udah dari sana udah banyak, akhirnya saya bilang sama bapaknya, ‘Itu massa udah banyak,’ saya bilang tutup. Dia pas ngelihat, ‘Oh ya udah tutup’,” kata Sudarsi kepada wartawan, Jumat (28/8/2026).

Setelah lapak ditutup, anak mereka datang bersama seorang warga bernama Tagor yang sedang sakit. Tagor meminta diantar ke Rumah Sakit Pelni.

“‘Pak, itu ada Om yang… Om Tagor namanya, minta dianterin ke Rumah Sakit Pelni. Karena dia emang kondisinya lagi sakit kan.’ Nah, ‘Oh ya ya ya.’ Diantenin lah sama dia nih sama anak saya ke Pelni boncengan,” ujar Sudarsi.

Bambang kemudian berada di Rumah Sakit Pelni sekitar dua hingga tiga jam. Dia pulang sekitar pukul 20.30 WIB-21.00 WIB. Saat itu, kata Sudarsi, kondisi di sekitar lokasi relatif tenang. Massa sedang didorong mundur.

“Tapi tuh dia tuh… pas dia pulang itu tenang sih, enggak ada bentrokan. Itu massa lagi didorong ke dalam. Nah, mundur gitu kan,” tuturnya.

Setelah situasi dianggap aman, Bambang kembali keluar rumah. Sudarsi mengaku tidak melarang karena suaminya memang kerap keluar melihat situasi ketika terjadi kericuhan di sekitar tempat tinggal mereka.

“Saya diemin aja keluar karena alasan dia memang biasanya kalau ada kejadian… ini kan enggak sekali ini aja kan, udah sering lah. Dia tuh cuma nonton, kadang-kadang ngebantu ngucurin air buat cuci muka,” katanya.

Bambang Tak Kunjung Pulang

Malam semakin larut. Namun, Bambang tak kunjung pulang. Sudarsi mulai khawatir dan mencari suaminya hingga sekitar pukul 01.30 WIB.

“01.30 WIB kan… 01.30 WIB saya masih nyari. Saya berharap bapaknya itu masih ngobrol sama teman-temannya,” kata Sudarsi.

Dia kemudian mendatangi lokasi. Dia menanyakan keberadaan Bambang kepada teman-temannya. Sudarsi juga menitipkan pesan agar Bambang diminta pulang jika ditemukan.

“Cuma saya pesan sama teman-temannya sama anak-anak di situ, saya bilang, ‘Nanti kalau ketemu suruh pulang,’ saya gituin. ‘Iya.’ Terus pulang saya kan.”

Sudarsi sempat tidur sekitar satu setengah jam. Sekitar pukul 02.30 WIB, dia terbangun dan membuka WhatsApp.

Saat itu, ada pesan dari Tagor yang sebelumnya diantar Bambang ke Rumah Sakit Pelni. Sudarsi awalnya mengira pesan tersebut berkaitan dengan keberadaan Bambang.

“Ternyata bukan. Ternyata orang yang sakit yang diantar ini yang nanya, gitu. Nah, pikirnya yang sakit ini juga WA itu dari almarhum. Jawaban dari almarhum, ternyata dari saya,” ujarnya.

Tagor kemudian pulang dan menanyakan kepada Sudarsi apakah Bambang sudah berada di rumah.

“Pulang lah dia nanya saya, ‘Ma, emang Bapak udah di rumah?’ ‘Nggak ada,’ saya bilang, ‘belum pulang.’ ‘Ini katanya, berarti nih tadi yang nyawab siapa?’ ‘Mama,’ saya gituin. ‘Ini kirain Bapak,’ kata dia. ‘Nggak, Mama,’ saya gituin.”

Sekitar pukul 03.00 WIB-04.00 WIB, keluarga akhirnya mendapat kepastian bahwa Bambang menjadi korban dan telah dibawa ke RS Polri.

Namun, Sudarsi menegaskan keluarganya tidak mengetahui secara langsung bagaimana Bambang menjadi korban dalam kericuhan tersebut.

“Justru kita tahunya dari video. Kita enggak ada yang lihat jelas nih posisi mayat ini, posisi dia dipukulin, posisi dia dibawa, kita enggak tahu,” katanya.

Keluarga Pastikan Identitas Bambang

Keluarga kemudian mencocokkan sosok dalam video dengan Bambang. Anak Sudarsi sempat mengirim pesan untuk memastikan identitas pria dalam video tersebut.

“Coba kamu perhatiin nih video. Ni video Bapak bukan?” kata Sudarsi menirukan pesan anaknya.

Setelah diperiksa, keluarga memastikan sosok tersebut adalah Bambang.

“Anak saya di-iniin ternyata benar. He-eh, itu Bapak. Makanya dicarilah sama dia. Gitu lah. Akhirnya ketemu,” ujarnya.

Sudarsi mengatakan Bambang menjalani visum luar. Menurut dia, keluarga tidak diizinkan melakukan visum dalam. Hingga kini belum mengetahui hasil pemeriksaan tersebut.

“Visum luar doang, enggak visum dalam,” katanya.

Jenazah Bambang rencananya dimakamkan di Kemang Kencana pada Jumat (28/8/2026). Sejumlah pihak juga telah datang menemui keluarga.

Terkait kondisi kesehatan Bambang, Sudarsi mengatakan sepengetahuannya sang suami tidak memiliki penyakit bawaan.

“Cuma kalau yang saya tahu penyakit bawaannya enggak ada,” katanya.

Meski demikian, Sudarsi mengaku Bambang memang tidak rutin menjalani pemeriksaan kesehatan.

“Kalau yang saya tahu ya. Karena memang kan selama ini kita enggak pernah ngecek paling ngecek darah, tensi, cuma itu aja sih," tandasnya.

Polisi Buka Suara

Polisi mengungkap kronologi evakuasi Bambang Setiawan, warga yang meninggal saat kericuhan di kawasan Pejompongan. Bambang ditemukan dalam kondisi pingsan setelah lokasi dinyatakan aman untuk proses evakuasi.

Kabid Humas Polda Metro Jaya Kombes Pol Budi Hermanto mengatakan, pihaknya awalnya mendapat informasi dari masyarakat bahwa kerusuhan masih berlangsung di lokasi.

Menurutnya, kondisi tersebut membuat petugas harus memastikan situasi aman sebelum melakukan evakuasi terhadap warga yang membutuhkan pertolongan.

“Polri pun untuk melakukan evakuasi harus melihat, menghitung evakuasi tersebut aman bagi petugas yang melakukan evakuasi,” kata Budi.

Setelah lokasi dinyatakan aman, Biddokkes Polda Metro Jaya mengevakuasi seorang laki-laki yang ditemukan dalam kondisi pingsan.

Korban kemudian dibawa ke rumah sakit terdekat, yakni Rumah Sakit TNI Angkatan Laut Dr. Mintohardjo. Namun, saat mendapat penanganan di rumah sakit, korban dinyatakan meninggal dunia.

Jenazah kemudian dibawa ke RS Polri Kramat Jati sekitar pukul 23.30 WIB hingga tengah malam untuk dilakukan identifikasi dan visum.

Budi mengatakan, pihaknya telah bertemu dengan keluarga korban, termasuk anak kandungnya. Polisi kemudian mengajukan permohonan agar dilakukan autopsi untuk mengetahui penyebab kematian.

Namun, keluarga tidak bersedia dan telah membuat surat pernyataan penolakan autopsi.

“Kami tetap melakukan, mengajukan permohonan untuk dilakukan otopsi untuk mengetahui penyebab kematian. Ini juga ditolak oleh pihak keluarga dan sudah mengeluarkan surat pernyataan,” ujarnya.

Baca berita terkini dan terpercaya di Berita Liputan6