Polda Banten Manfaatkan Lahan Eks Tambang untuk Tanam Jagung, Ubah jadi Produktif

Polda Banten bersama jajaran dan kelompok tani binaan Polairud Polda Banten manfaatkan lahan eks tambang untuk penanaman bibit jagung.

Diterbitkan 23 April 2026, 17:15 WIB
Share
Copy Link
Batalkan
Jadi intinya...
  • Polda Banten manfaatkan lahan eks tambang untuk budidaya jagung guna ketahanan pangan.
  • Kapolda dorong Pemda optimalkan lahan tidur agar produktif dan bernilai ekonomi bagi masyarakat.
  • Budidaya jagung diharapkan penuhi kebutuhan pakan ternak Banten yang tinggi dan kurangi ketergantungan.

Liputan6.com, Jakarta - Polda Banten bersama jajaran dan kelompok tani binaan Polairud Polda Banten manfaatkan lahan eks tambang untuk penanaman bibit jagung di lahan tidur seluas empat hektare milik warga di Lingkungan Bagendung, Kota Cilegon.

Kapolda Banten Irjen Pol Hengki meminta pemerintah daerah (pemda) mulai dari tingkat kabupaten/kota, kecamatan, hingga kelurahan untuk mengoptimalkan pemanfaatan lahan tidur, khususnya area bekas tambang galian, agar lebih produktif dan memberi nilai ekonomi bagi masyarakat.

"Lahan eks tambang yang telah direboisasi masih dapat dimanfaatkan dengan sistem tumpang sari. Sambil menunggu tanaman keras seperti kelapa berbuah dalam beberapa tahun, lahan tersebut bisa ditanami jagung yang dapat dipanen setiap empat bulan," ujar Hengki, melansir Antara, Kamis (23/4/2026).

Dia menyampaikan, kegiatan tersebut merupakan bagian dari upaya berkelanjutan Polda Banten dalam mendorong ketahanan pangan daerah.

"Setelah berhasil mencapai target panen jagung sebanyak 2.800 ton dari luas tanam 1.772 hektare pada 2025, Kapolda kembali menginisiasi pemanfaatan lahan tidak produktif menjadi area pertanian fungsional," ucap Hengki.

Menurut dia, lahan tidur dan eks tambang tersebut kini dikelola oleh kelompok tani mitra Polairud Polda Banten untuk budidaya jagung. Langkah strategis ini dinilai mampu meningkatkan produksi sekaligus mengurangi ketergantungan pasokan jagung dari luar daerah.

 

Pentingnya Peran Pemerintah Daerah

Hengki menegaskan pentingnya peran aktif pemerintah daerah dalam mengidentifikasi lahan-lahan terbengkalai.

Dia menjelaskan, komoditas jagung dipilih karena memiliki masa tanam relatif singkat, biaya produksi rendah, serta tidak memerlukan perawatan dan pengairan seintensif padi.

Selain itu, kata Hengki, harga jual jagung di pasaran juga dinilai cukup kompetitif dan menguntungkan petani.

"Langkah pemanfaatan lahan ini dapat mendukung program swasembada jagung di Provinsi Banten. Pasalnya, kebutuhan jagung untuk industri pakan ternak di wilayah Banten tergolong tinggi, yakni mencapai sekitar 4.000 ton per hari atau setara 1,5 juta ton per tahun," terang dia.

Sementara itu, lanjut Hengki, produksi jagung di Banten saat ini baru mampu memenuhi sekitar tiga hingga lima persen dari total kebutuhan, sehingga provinsi tersebut masih harus bergantung pada pasokan dari daerah lain seperti Lampung dan Nusa Tenggara Barat.

"Melalui optimalisasi lahan tidur dan eks tambang, diharapkan ketahanan pangan di wilayah Banten dapat semakin kuat sekaligus mampu mendongkrak taraf kesejahteraan para petani lokal," jelas Hengki.

Baca berita terkini dan terpercaya di Berita Liputan6