Wamen LH Ajak Masyarakat Cegah Banjir Jabodetabek, Beri Bantuan Pipa Biopori

Wamen LH/Wakil Kepala BPLH Diaz Hendropriyono mengajak masyarakat untuk berpartisipasi mencegah banjir di Jabodetabek.

Diterbitkan 07 April 2026, 18:15 WIB
Share
Copy Link
Batalkan
Jadi intinya...
  • Wamen LH ajak masyarakat Jabodetabek cegah banjir dengan biopori.
  • Bantuan biopori diserahkan ke 10 desa Cisarua, hulu Ciliwung.
  • Biopori dan tanam pohon penting jaga keseimbangan air, kurangi risiko banjir.

Liputan6.com, Jakarta - Wamen LH/Wakil Kepala BPLH atau Wakil Menteri Lingkungan Hidup/Wakil Kepala Badan Pengendalian Lingkungan Hidup Diaz Hendropriyono mengajak masyarakat untuk berpartisipasi mencegah banjir di Jakarta, Bogor, Depok, Tangerang, dan Bekasi (Jabodetabek).

Caranya, kata dia, dengan menyerahkan bantuan unit biopori dan alat lubang biopori untuk 10 desa di Kecamatan Cisarua. Upaya tersebut dilakukan dalam acara memperingati Hari Air Sedunia yang diselenggarakan oleh KLH/BPLH dengan tema 'Water and Gender' di Kecamatan Cisarua, Kabupaten Bogor, Jawa Barat (Jabar).

"Hari ini kami serahkan bantuan unit biopori dan alat lubang biopori untuk 10 desa, masing-masing 50 unit biopori, untuk mencegah banjir," ujar Wamen Diaz dikutip Liputan6.com dari laman resmi Kementerian LH www.kemenlh.go.id, Selasa (7/4/2026).

Dia menjelaskan, pemasangan biopori di wilayah tersebut diperlukan, mengingat, Kecamatan Cisarua merupakan bagian dari kawasan hulu Daerah Aliran Sungai Ciliwung yang perlu dijaga keseimbangan airnya.

Dalam sambutannya, Wamen Diaz juga turut mendorong masyarakat untuk menanam unit pipa biopori di rumah tangga masing-masing sekaligus dengan menanam pohon.

"Idealnya, setiap rumah harus punya unit biopori, supaya tidak ada genangan, dan air bisa langsung turun ke tanah, jadi ada keseimbangan air, dan mengurangi risiko banjir. Jadi sebaiknya setiap rumah tanam satu pohon dan lubang biopori," ucap dia.

 

Pentingnya Jaga Keseimbangan Air

Wamen Diaz menambahkan, menjaga keseimbangan air penting mengingat jumlah air bersih yang sangat sedikit.

"Bumi itu 71% air, tapi dari 71% itu tidak semua bisa dipakai, yang bisa dipakai hanya 2%, dan 2% tersebut, mayoritas berada di Kutub Utara dan Kutub Selatan," ucap dia.

Dengan ini, Diaz mengingatkan masyarakat untuk tidak membuang sampah sembarangan, khususnya di sumber air.

"Air bersih disini itu ditemukan di sungai dan danau, tapi jumlahnya makin lama makin sedikit karena banyaknya sampah, maka dari itu, kita harus jaga air ini," kata dia.

Selain itu, Diaz menjelaskan, kelebihan air juga dapat menimbulkan dampak negatif sehingga penanaman lubang biopori menjadi penting.

"Jangan sampai kekurangan air dan juga kelebihan air, kalau kelebihan akan jadi banjir, maka kita harus menjaga keseimbangan air masuk dan air keluar," terang dia.

 

Penyerahan Bibit Pohon

Kegiatan juga dilanjutkan dengan penyerahan simbolis bibit pohon, tiga unit perahu karet, serta unit pipa biopori dan alat pembuat lubang biopori. Selanjutnya, dilakukan penanaman 1.500 pohon serta pembuatan sumur resapan di Agrowisata Gunung Mas.

Acara ini diselenggarakan oleh KLH/BPLH dan turut dihadiri oleh Deputi Penegakkan Hukum Lingkungan Hidup KLH/BPLH Rizal Irawan, Deputi Pengendalian Pencemaran dan Kerusakan Lingkungan KLH/BPLH Rasio Ridho Sani, serta Deputi Pengendalian Perubahan Iklim dan Tata Kelola Nilai Ekonomi Karbon KLH/BPLH Ary Sudijanto.

Lalu Dandim 0621/Kabupaten Bogor Letkol Infanteri Rizal Dwijayanto, Camat Cisarua Heri Risnandar, Region Head PTPN I Regional 2 Desmanto, Operation Head PTPN I Regional 2 Okta Kurniawan beserta perwakilan dunia usaha, Saka Kalpataru, dan komunitas sungai.

Baca berita terkini dan terpercaya di Berita Liputan6