Studi Ungkap Dampak Perubahan Iklim Terhadap Industri Olahraga Global

Studi terbaru memperingatkan perubahan iklim dan krisis kesehatan dapat mengancam industri olahraga global senilai 2,3 triliun dolar AS.

Diterbitkan 10 Maret 2026, 20:05 WIB
Share
Copy Link
Batalkan
Jadi intinya...
  • Tantangan lingkungan dan kesehatan mengancam industri olahraga global senilai $2,3 triliun.
  • Dampak lingkungan seperti cuaca ekstrem mengganggu kompetisi, penonton, dan rantai pasokan olahraga.
  • Ancaman ini dapat mengurangi pendapatan industri olahraga hingga $1,6 triliun pada pertengahan abad.

Liputan6.com, Jakarta - Dalam sebuah studi yang dipublikasikan oleh earth.org, memperingatkan bahwa tantangan lingkungan dan kesehatan yang saling berkaitan mengancam pertumbuhan industri olahraga secara jangka panjang senilai 2,3 triliun dolar AS.

Studi yang telah diterbitkan ini mengidentifikasi dua faktor utama. Pertama, yaitu peningkatan dampak lingkungan, mulai dari tekanan panas hingga peristiwa cuaca ekstrem dan polusi, yang dapat menggganggu kompetisi, mengurangi pengalaman penonton, membatasi kesejahteraan masyarakat, hingga mempengaruhi rantai pasokan serta operasi  yang mendukung ekonomi olahraga secara lebih luas.

Kedua, dapat meningkatkan penurunan aktivitas fisik khususnya di kalangan kaum muda, berisiko menurunnya partisipasi dan konsumen yang dapat mengancam pendapatan di sektor pakaian, acara elit, pariwisata hingga kebugaran.

Jika digabungkan, ancaman-ancaman ini dapat mengakibatkan penurunan pendapatan tahunan sebesar 14%, atau sekitar 517 miliar dolar AS pada tahun 2030, dan sebesar 18% atau 1,6 triliun dolar AS pada pertengahan abad ini.

Gangguan Terkait Iklim Semakin Meningkat

Dalam laporan tersebut yang disusun oleh  Forum Ekonomi Dunia bekerja dengan Oliver Wyman, sebuah perusahaan konsultan yang bertepatan dengan Olimpiade Musim Dingin Milano Cortina di Italia.

Peristiwa global tersebut kembali memicu berbagai perspektif tentang ancaman perubahan iklim terhadap musim olahraga dingin dan industri olahraga secara keseluruhan.

Penyelenggaraan Olimpiade di Italia serta Olimpiade Musim Dingin 2022 di Beijing harus sepenuhnya mengandalkan salju buatan untuk menutupi lintasan karena kurangnya salju alami.

Sementara itu, pada Olimpiade Musim Dingin 2014 di Sochi, Rusia, suhu yang relatif tinggi turut menjadi salah satu faktor yang menyebabkan meningkatnya cedera di kalangan atlet Paralimpiade.

Gangguan akibat perubahan iklim juga semakin dirasakan pada Olimpiade Musim Panas. Olimpiade terakhir yang berlangsung di Paris, misalnya, diwarnai oleh kondisi musim panas yang sangat ekstrem.

Sejumlah ajang besar lainnya di berbagai negara juga menghadapi risiko yang semakin besar berupa pembatalan, penundaan, maupun penyesuaian jadwal akibat cuaca ekstrem yang sulit diprediksi.

Sebuah studi pada 2025 menyebutkan bahwa pelari maraton kemungkinan akan semakin jarang berlomba dalam kondisi ideal seiring meningkatnya suhu global. Penelitian tersebut dirilis hanya seminggu setelah peserta Maraton Berlin menghadapi kesulitan akibat suhu panas yang tidak biasa.

Beberapa minggu sebelumnya, gelombang panas pada musim panas juga mengganggu penyelenggaraan Kejuaraan Dunia Atletik di Tokyo. Kondisi serupa dialami para petenis papan atas dunia yang berlaga di Shanghai Masters di Tiongkok, yang menggambarkan suhu tinggi saat itu sebagai kondisi yang sangat menuntut secara fisik.

Baca berita terkini dan terpercaya di Berita Liputan6