Dosen PTIK: Polisi yang Kuat Lahir dari Kepekaan Sosial

Pengabdian masyarakat ini menjelma menjadi perjumpaan langsung dengan realitas kemanusiaan, lebih dari sekadar kewajiban akademik.

Diterbitkan 19 Februari 2026, 14:44 WIB
Share
Copy Link
Batalkan

Liputan6.com, Jakarta - Selama sepekan, Kabupaten Nagan Raya berubah menjadi ruang belajar kehidupan bagi mahasiswa STIK-PTIK Sindikat IX Angkatan 83 Widya Parama Satwika. Di daerah yang baru saja bangkit dari bencana, para calon perwira Polri datang bukan membawa jarak institusional, melainkan empati, kerja bersama, dan kesediaan untuk mendengar.

Pengabdian masyarakat ini menjelma menjadi perjumpaan langsung dengan realitas kemanusiaan, lebih dari sekadar kewajiban akademik.

Setiap agenda dijalani dengan pendekatan yang sama: partisipatif dan humanis. Saweu meunasah, saweu sikula, saweu gampong, hingga tradisi meugang menjadi ruang pertemuan tanpa sekat. Di sana, Polri hadir sebagai bagian dari masyarakat, menyatu dalam aktivitas sehari-hari, berbagi peran, dan membangun kepercayaan.

Dosen PTIK Komjen Prof Chryshnanda Dwilaksana berulang kali mengingatkan bahwa pengalaman lapangan seperti inilah yang membentuk karakter perwira.

"Polisi yang kuat bukan hanya yang mampu menegakkan hukum, tetapi yang sanggup memahami denyut sosial masyarakatnya. Di situlah kehadiran Polri diuji, terutama saat masyarakat berada dalam kondisi paling rentan,” ujarnya di Jakarta, Kamis (19/02/2026).

Hari-hari awal pengabdian diisi dengan gotong royong membersihkan masjid, pendampingan trauma healing bagi anak-anak, serta penyerahan bantuan sederhana namun bermakna.

Di Gampong Alue Siron dan Tadu Raya, mahasiswa dan warga bekerja berdampingan membersihkan rumah ibadah, memulihkan rasa aman, dan menyalakan kembali semangat pascabencana. Pemulihan fisik berjalan seiring dengan penguatan psikologis dan spiritual.

Di sekolah dan dayah, pendekatan dialogis menjadi kunci. Di SMAN 1 Kuala, mahasiswa membuka ruang percakapan tentang pengalaman menghadapi banjir dan pentingnya mitigasi bencana. Sementara di Dayah Nurul Muhajadah, pembangunan sumur bor menjadi simbol harapan baru—air bersih kembali mengalir, kegiatan ibadah dan belajar pun kembali berjalan.

Makna kehadiran langsung di lapangan kembali ditegaskan Komjen Prof Chryshnanda. “Pengabdian seperti ini melatih kepekaan. Polisi belajar melihat persoalan dari sudut pandang warga, bukan sekadar dari laporan. Inilah esensi memenangkan hati dan pikiran masyarakat,” katanya.

Perjalanan menuju Beutong Ateuh Banggalang yang penuh tantangan justru mempererat kebersamaan. Trauma healing dikemas lewat permainan dan edukasi, sementara tradisi meugang membuka ruang dialog yang hangat. Polisi dan warga duduk sejajar, memasak bersama, berbagi cerita, dan menumbuhkan kembali rasa percaya yang sempat terguncang.

Revitalisasi Polindes Ujong Krung menjadi contoh nyata sinergi lintas unsur. Mahasiswa, Polsek, pemadam kebakaran, dan warga bahu-membahu membersihkan lumpur sisa banjir. Fasilitas kesehatan yang sempat terbengkalai kembali difungsikan. Bagi warga, ini bukan sekadar bangunan yang diperbaiki, melainkan tanda kehadiran negara.

Pendampingan nilai dan penguatan karakter terus ditekankan oleh Paping Sindikat IX, Kristanto Yoga Darmawan.

"Bekerja dengan disiplin, menggunakan logika, dan mengedepankan empati menjadi hal utama yang selalu saya tekankan kepada mahasiswa,” ujarnya.

 

Manifestasi Polisi Humanis

Menurut Kristanto, keberhasilan pengabdian tidak diukur dari banyaknya kegiatan, melainkan dari dampak yang dirasakan masyarakat.

“Pengabdian ini tidak hanya memulihkan bangunan fisik, tetapi juga nonfisik. Saya melihat langsung antusiasme masyarakat dan rasa syukur mereka. Itu menjadi pelajaran penting bagi mahasiswa,” katanya. Ia menambahkan, “Polisi harus adaptif, peka terhadap kearifan lokal, dan hadir sebagai pelindung serta pengayom, terutama saat bencana.”

Rangkaian kegiatan ditutup dengan meugang bersama Warakawuri di Polres Nagan Raya. Momen ini menjadi pengingat bahwa pengabdian juga berarti merawat keluarga besar Polri, memperkuat ikatan, dan menumbuhkan empati dari lingkar terdekat.

Komjen Prof Chryshnanda kembali menegaskan arah besar pembinaan calon perwira. “Policing dalam kebencanaan adalah manifestasi nyata Polri yang humanis. Dari sinilah lahir perwira yang profesional, responsif, dan berkeadilan,” ujarnya.

Sepekan di Nagan Raya meninggalkan jejak yang dalam. Pengabdian yang dilakukan dengan hati terbukti mampu menghadirkan perubahan nyata. Bagi Sindikat IX Angkatan 83 Widya Parama Satwika, pengalaman ini menjadi bekal penting: memahami bahwa tugas Polri bukan semata menjaga keamanan, melainkan juga merawat kemanusiaan.

Baca berita terkini dan terpercaya di Berita Liputan6