40 Rusa Timor Kembali Lengkapi Rantai Ekologi Savana di Taman Nasional Baluran Jatim

Sebanyak 40 ekor Rusa Timor dilepasliarkan ke Taman Nasional Baluran untuk memperkuat fungsi ekosistem savana dan meningkatkan populasi satwa dilindungi.

Diterbitkan 22 Februari 2026, 12:02 WIB
Share
Copy Link
Batalkan

Liputan6.com, Jakarta - 40 ekor Rusa Timor (Rusa timorensis) yang dilindungi ditranslokasikan dari penangkaran di Desa Sumbersewu, Kecamatan Muncar, Kabupaten Banyuwangi menuju habitat alaminya di Taman Nasional Baluran, Situbondo, Jawa Timur (Jatim).

Tujuan pelepasliaran ini adalah untuk menguatkan populasi rusa di habitat alaminya sekaligus mengembalikan peran ekologisnya dalam ekosistem savana di Jawa Timur.

Mempertimbangkan karakter crespuscular Rusa Timor, mereka aktif pada sore hingga malam hari dengan sensitivitas terhadap suhu tinggi dan stres. Pelepasliaran ini dilaksanakan pada dini hari, 12 Februari 2026 di kawasan savana Baluran.

Berdasarkan laporan di laman ksdae.kehutanan.go.id, kegiatan ini dilaksanakan dengan tahapan pemeriksaan kesehatan, serah terima, hingga pelepasliaran yang mempertimbangkan aspek ilmiah dan kesejahteraan satwa. 

Sebelum translokasi, seluruh satwa menjalani pemeriksaan yang menyeluruh. Dari total 40 ekor, terdiri atas 15 jantan, 21 betina, dan 4 anakan yang mayoritas memiliki Body Condition Score (BCS) 3 atau kategori ideal. 

Menurut hasil pemeriksaan seluruh satwa layak untuk dilepasliarkan, karena secara umum, satwa responsif nafsu makan normal, serta mampu berdiri dan berjalan dengan baik

Untuk pembukaan kandang dilakukan dengan metode hard release yang disaksikan langsung oleh petugas Balai Besar Konservasi Sumber Daya Alam Jawa Timur (BBKSDA Jatim) dengan perwakilan Balai Taman Nasional Baluran. Menjelang fajar, satu per satu rusa melangkah keluar.

Monitoring awal dilakukan selama beberapa jam untuk memastikan respons adaptasi berjalan dengan baik dan tidak terjadi disorientasi kelompok.

Adaptasi Awal jadi Indikator Keberhasilan Translokasi

Pagi harinya, berdasarkan hasil pemantauan menunjukkan perkembangan. Rusa terpantau masih berada di sekitar lokasi pelepasliaran dengan membentuk satu koloni yang kompak.

Perilaku tersebut menunjukkan mekanisme sosial, di mana rusa memilih tetap berkelompok sebagai strategi adaptasi awal terhadap lingkungan baru.

Mereka mulai melakukan eksplorasi terbatas, merumput, dan menujukkan respons kewaspadaan normal terhadap suara dan pergerakan di sekitarnya.

Dilihat secara ekologis, fase ini krusial dengan ditanda adaptasi awal yang stabil menjadi indikator keberhasilan translokasi, sebelumm nantinya satwa perlahan mulai memperluas ruang jelajahnya di savana.

Sebagai herbivora kunci, Rusa timorensis memilliki peran strategis untuk menjaga dinamika vegerasi savana, mendistribusikan biji, dan menjadi bagian dari jejaring trofik alami.

Kehadiran 40 individu baru ini di Taman Nasonaal Baluran tidak hanya sebagai penambahan populasi, tetapi menjadi penguatan fungsi ekosistem

Mempertimbangkan karakter crespuscular Rusa Timor, mereka aktif pada sore hingga malam hari dengan sensitivitas terhadap suhu tinggi dan stres. Pelepasliaran ini dilaksanakan pada dini hari, 12 Februari 2026 di kawasan savana Baluran.

Harapan Populasi Bertambah dan Perkuat Daya Tarik Ekowisata Baluran

Kepala Bidang KSDA Wilayah III Jember, Purwantono menyampaikan harapan agar Rusa Timor yang sudah dilepasliarkan dapat beradaptasi dengan baik di habitat barunya.

"Harapannya, Rusa Timor yang sudah dilepasliarkan kembali ke habitatnya di kawasan Taman Nasional Baluran mampu beradaptasi dengan lingkungannya yang baru sehingga dapat berkembang biak untuk menambah populasinya di alam, mengisi rantai ekologis, dan nantinya dapat menjadi atraksi wisata bagi pengunjung," kata Purwantono.

Translokasi ini menjadi simmbol bahwa konservasi tidak berhenti hanya pada penyelammatan, tetapi juga pada pemulihan proses ekologis yang utuh, berbasis sains, prosedur, serta kesejahteraan satwa. Dengan ini, koloni rusa itu berdiri sebagai simbol harmoni menuju kehidupan liar yang sesungguhnya, dan mata rantai ekologi kembali terhubung.

Baca berita terkini dan terpercaya di Berita Liputan6